UPAYA MENGATASI KEMISKINAN DI INDONESIA DENGAN MEMBANGUN HUBUNGAN KEPERCAYAAN ANTAR MASYARAKAT

UPAYA MENGATASI KEMISKINAN DI INDONESIA DENGAN MEMBANGUN HUBUNGAN KEPERCAYAAN ANTAR

MASYARAKAT

Oleh Tri Mahendra

tri mahendra

A. Pendahuluan

Di masa sekarang ini, permasalahan kemiskinan telah menjadi masalah yang banyak menjadi perhatian dari berbagai elemen masyarakat. Seolah-olah permasalahan kemiskinan menjadi sebuah kebudayaan yang turun-temurun. Di negara Indonesia sendiri, permasalahan kemiskinan juga menjadi permasalahan yang cukup serius. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah dalam suatu negara untuk menanggulangi kemiskinan. Diantaranya adalah dengan memberikan bantuan untuk untuk masyarakat miskin. Misalnya saja bantuan asuransi kesehatan, Bantuan Operasional Sekolah (BOS) bagi siswa yang miskin, bantuan langsung tunai, subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan lain-lain. Segala upaya tersebut selalu diupayakan oleh pemerintah untuk menanggulangi kemiskinan yang ada pada masyarakat. Akan tetapi, apa yang ada di dalam masyarakat seakan-akan kemiskinan masih selalu ada. Lagi-lagi yang menjadi pertanyaan adalah mengapa hal itu terus terjadi. Lalu bagaimana solusi untuk mengatasinya.

Kemiskinan yang terjadi di negara Indonesia bukanlah permasalahan baru. Namun demikian, permasalahan kemiskinan ini tidak juga usai dan bahkan bisa dikatakan semakin bertambah. Hal itu terjadi seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk yang semakin tak terkendali. Selain itu, rendahnya tingkat pendidikan pada masyarakat Indonesia juga dianggap sebagai penyebab kemiskinan ini. untuk mengatasi hal ini, pemerintah berusaha membuat kebijakan untuk mengatasinya. Misalnya program KB untuk mengendalikan jumlah penduduk. Namun program tersebut juga kurang efektif karena rendahnya pendidikan masyarakat Indonesia untuk mengenal program KB. Kondisi ini tentu akan memperparah permasalahan yang ada di Indonesia.

Permasalahan kemiskinan yang terjadi di Indonesia juga tak akan lepas dari permasalahan yang lainnya. Misalnya saja, dengan adanya kemiskinan bisa menimbulkan bencana kelaparan, kriminalitas, pengangguran, pesimisitas dalam masyarakat, serta perasaan-perasaan terbelakang. Kondisi ini tentu akan semakin buruk jika tidak mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah. Kenyataannya dibalik masalah kemiskinan yang terjadi ini, banyak dari oknum pejabat yang juga masih korupsi uang rakyat. Kondisi ini tentu tak baik untuk masa depan bangsa Indonesia.

B. Tinjauan Teoritis

Permasalahan kemiskinan sebenarnya memang bisa ditinjau dari aspek internal dan eksternal individu. Faktor internal ini kaitannya dengan kondisi psikologis individu. Sedangkan pada aspek eksternal lebih menekankan pada aspek sosial atau struktural dalam masyarakat. Antara dunia psikologis individu dan dunia sosial individu tentu memiliki perbedaan. Dunia psikologi individu lebih berfokus kearah dunia internal yang berkaitan dengan kondisi psikologis. Sedangkan dalam dunia sosial individu, mereka lebih berfokus kepada faktor-faktor eksternal yang berada diluar individu yang memaksa individu itu untuk melakukan suatu hal yang sebenarnya tidak dia inginkan. Inilah fakta sosial (social fact) dalam konsep Emile Durkheim. Kondisi sosiologis seperti inilah yang kadang tidak disadari oleh seseorang. Bahkan kondisi inilah yang menyebabkan alienasi seperti yang dinyatakan oleh Marx bahwa ada suatu kondisi seseorang tidak dapat menikmati karyanya sendiri karena dirinya terikat oleh faktor eksternal.

Dalam perspektif sosiologis seperti yang ada dalam pemikiran Marx tentang kelas-kelas sosial yang ada di dalam masyarakat. Masyarakat telah terbagi kedalam dua kelas, yaitu kelas borjuis dan kelas proletar. Antara kelas penguasa yang memiliki modal dan alat produksi dengan kelas buruh yang tidak memiliki alat produksi dan modal. Yang mereka miliki hanyalah sebatas pada tenaga untuk melayani kapitalis. Dengan menggunakan perspektif Marx ini terlihat bahwa dengan terciptanya masyarakat kedalam dua kelas akan memunculkan kemiskinan. Mengapa hal demikian dapat terjadi, dengan merujuk pada pemikiran Marx tersebut memang pada kenyataannya kelas proletar atau si miskin hanya akan dijadikan sebagai objek eksploitasi oleh para kapitalis atau pemilik modal. Tenaga mereka diperas dan hasilnya akan terakumulasi untuk para kapitalis atau pemilik modal dan alat produksi.

Daya tawar bagi kelas sosial bawah atau orang miskin menjadi sangat rendah di dalam masyarakat. Mengapa demikian, karena si miskin tidak ada pilihan lagi untuk memilih selain bekerja untuk para kapitalis. Dan jika hal demikian terjadi, maka timbullah alienasi (keterasingan). Dimana kondisi seseorang menjadi terasing dengan dirinya, pekerjaannya serta lingkungan sosialnya. Seseorang bekerja bukan karena ingin mengaktualisasikan dirinya, akan tetapi mereka bekerja karena adanya faktor eksternal yang memaksanya untuk bekerja.

Merujuk pada pemikiran Robert Putnam, penulis melihat bila permasalahan kemiskinan ini sebenarnya dapat diatasi dengan mengembangkan modal sosial individu di dalam masyarakat. Karena hingga saat ini, upaya pemerintah dalam mengentaskan masalah kemiskinan kebanyakan hanya cenderung pada bagaimana memberikan sarana-sarana yang berupa modal maupun keterampilan kepada individu. Permasalahan kemiskinan ini sebenarnya juga bisa diatasi dengan mengembangkan modal sosial yang ada di dalam masyarakat. Seperti yang dinyatakan oleh Robert Putnam bila kapital sosial sebenarnya memiliki ciri organisasi sosial, dimana sistem kepercayaan, norma, dan jaringan dapat memberikan efisiensi masyarakat dengan memfasilitasi tindakan koordinatif.

C. Analisis Kemiskinan

            Sebenarnya permasalahan kemiskinan yang terjadi di Indonesia saat ini memang tak lepas dari permasalahan sosial yang ada di dalam masyarakat. Kondisi struktur sosial yang vertikal akan membentuk masyarakat yang memiliki kelas-kelas sosial. Dimana di dalam kelas-kelas sosial tersebut terdapat masyarakat yang berada dalam kelas sosial atas, kelas sosial menengah, dan kelas sosial bawah. Masalah kemiskinan ini biasanya akan terjadi pada masyarakat yang berada didalam kelas sosial bawah. Kebanyakan masyarakat yang berada di dalam kelas sosial bawah tidak mendapatkan kehidupan yang beruntung. Karena posisi mereka kebanyakan berada dalam kelas yang tereksploitasi. Dalam aspek modal finansial saja, kaum miskin tidak dapat meminjam uang untuk modal kepada pihak lain. Permasalahannya sebenarnya sederhana, yaitu mereka tidak memiliki barang  jaminan yang cukup untuk bisa digunakan dalam peminjaman uang. Sedangkan pada kebanyakan lembaga peminjaman uang selalu harus disertai dengan jaminan.

Permasalahan terkait dengan adanya tidak adanya jaminan untuk meminjam uang pada lembaga peminjaman ini sebenarnya sudah dipahami oleh pemerintah. Sehingga pemerintah juga mengeluarkan kredit lunak untuk masyarakat miskin agar mereka bisa memiliki modal untuk menjalankan sebuah usaha. Namun demikian, permasalahan yang kemudian muncul adalah aspek pendidikan yang dimiliki oleh masyarakat miskin. Karena kebanyakan masyarakat miskin masih memiliki pendidikan yang rendah. Sehingga dalam menggunakan uang pun mereka juga masih belum begitu mahir. Yang terjadi kemudian adalah bukan keuntungan yang diperoleh oleh masyarakat miskin penerima kredit lunak dari pemerintah. Akan tetapi seringkali mereka menjadi merugi karena antara pemasukan dan pengeluaran uang yang tidak tertata dengan baik.

Kondisi yang terjadi tersebut kemudian memaksa pemerintah untuk turun tangan dengan menurunkan tim ahli pemberdayaan agar masyarakat miskin ini dapat diberikan pembimbingan dalam mengelola usahanya. Memang ketika pada saat dilakukan pembimbingan mereka paham dan dapat menjalankan usahanya dengan baik. Namun setelah pihak yang melakukan pembimbingan pergi meninggalkan mereka, belum tentu mereka kemudian menjadi bisa untuk mengelola usahanya sendiri.

Masalah kemiskinan ini juga akan semakin diperparah dengan hadirnya arus globalisasi dan pasar bebas. Globalisasi dan pasar bebas ini telah menuntut seseorang untuk mampu bersaing dengan orang lain. Namun kenyataanya, masyarakat miskin ini berada dalam strata masyarakat kelas bawah. Sehingga tidak mungkin mereka bisa bersaing dengan masyarakat yang berada dalam kelas diatasnya. Karena masyarakat yang berada dalam kelas atas memiliki banyak sumber daya yang bisa mereka gunakan untuk memperluas usaha mereka. Jika kita melihat pada ekonomi masyarakat kelas bawah, kehidupan ekonomi mereka masih sangat bergantung dengan sektor pasar tradisional. Namun yang terjadi saat ini, banyak pasar tradisional yang mulai sepei pembeli. Hal itu terjadi karena saat ini banyak didirikan pasar-pasar modern yang berjaringan. Pasar-pasar modern ini ternyata melakukan ekspansi hingga ke wilayah-wilayah pedesaan. Sehingga ekonomi masyarakat desa yang berasal dari pasar tradisional ini sedikit demi sedikit akan terkikis.

Permasalahan kemiskinan yang belum selesai ini ternyata juga diperparah dengan kondisi politik negara Indonesia yang kurang baik. Kondisi politik yang kurang baik ini ternyata menjadi sebuah ajang untuk pencitraan publik. Setiap kampanye partai politik, seolah-olah yang mereka dengungkan adalah pro terhadap rakyat kecil. Namun pada kenyataannya setelah mereka berhasil menduduki jabatan pemerintah, mereka seringkali melupakan janji-janji yang telah mereka buat sebelumnya. Lagi-lagi yang menjadi korban adalah masyarakat kecil. Lalu bagaimana mengatasi kondisi ini agar keminkinan yang ada di Indonesia dapat teratasi dengan baik. Disini penulis akan membahasnya dalam solusi mengatasi masalah kemiskinan dengan berbasis pada membangun hubungan kepercayaan antar masyarakat.

D. Mengatasi Kemiskinan Dengan Meningkatkan Hubungan Kepercayaan Antar Masyarakat

            Upaya mengatasi kemiskinan dengan basis membangun hubungan kepercayaan antara masyarakat ini sebenarnya berangkat dari ketertarikan penulis untuk menerapkan apa yang dikatakan oleh Robert Putnam tentang pentinganya menjalin hubungan kepercayaan antar individu di dalam masyarakat untuk memperoleh modal sosial yang kuat. Selama ini solusi yang ditawarkan dari pemerintah untuk mengatasi masalah kemiskinan ini seirngkali tidak pernah menyinggung aspek modal sosial di dalam masyarakat. Jika kita telisik lebih dalam tentang kondisi masyarakat miskin ini, kebanyakan mereka memiliki modal sosial yang rendah. Hal itu dikarenakan hubungan yang mereka jalin biasanya masih berada di dalam lingkup yang sempit. Sehingga jaringan mereka pun menjadi sempit pula. Padahal aspek jaringan sosial ini juga sangat membantu manusia dalam hal pemenuhan kebutuhan ekonomi. Selama ini cara yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi masalah kemiskinan hanya masih berkutat pada tataran bagaimana meningkatkan sumber daya individu.

Meningkatkan sumber daya individu memang penting dalam meningkatkan kualitas individu agar mampu bersaing di dalam era globalisasi dan pasar bebas ini. Namun yang perlu diketahui adalah bahwa kondisi sosial kultural bangsa Indonsia ini kebanyakan berbasi pada hubungan emosional yang tinggi. hubungan emosional ini hanya akan tercipta jika basis hubungan kepercayaan di dalam masyarakat dapat berjalan dengan baik. Namun realitas yang terjadi saat ini, modernisasi telah menjamur keseluruh aspek kehidupan manusia. Sehingga awalnya hubungan yang diciptakan manusia adalah hubungan kepercayaan, saat ini hubungan yang terjalin tinggallah hubungan transaksional semata. Orang yang memiliki uang hanya akan mau bekerjasama dengan orang yang memiliki uang pula. Jarang sekali ada orang kaya yang mau bekerjasama dengan orang miskin jika mereka tidak ada hubungan kepercayaan yang baik.

Kondisi masyarakat miskin yang berada di dalam posisi ini memang tidaklah mudah. Karena jalan yang harus mereka tempuh adalah jalan persaingan di era globalisasi dan pasar bebas ini. Dalam konteks ini penulis mencoba membangun analisis untuk mengatasi kemiskinan dengan membangun kembali hubungan kepercayaan antar masyarakat. Tentunya dalam menjalankan hal ini tidaklah mudah. Karena akan banyak tantangan yang harus dilalui. Dalam menjalankan hal ini yang perlu dilakukan adalah merekatkan kembali hubungan sosial antar masyarakat dari berbagai kelas sosial yang ada. Karena pada hakikatnya, budaya yang ada pada masyarakat Indonesia ini dibangun atas dasar hubungan kepercayaan yang tinggi. Seperti yang dilakukan oleh nenek moyang bangsa Indonesia dahulu bahwa pada masa kerajaan. Hubungan yang dibangun antara raja dengan rakyatnya adalah hubungan saling percaya. Dimana raja dipercaya rakyat untuk melindungi mereka dan raja juga mepercayai rakyat bila rakyat juga akan mengabdi penuh kepada kerajaan. Hubungan inilah yang akhirnya terjalin dan membentuk masyarakat yang serasi. Dimana dalam hal ini hubungan mereka menjadi baik dan harmonis.

Lalu bagaimana mengatasi kemiskinan yang terjadi dalam konteks saat ini di Indonesia. Sebenarnya cara yang dapat dilakukan yang pertama adalah menghidupkan kembali kearifan lokal yang ada pada masyarakat Indonesia. karena kearifan lokal itulah sebenarnya yang menjaga nilai-nilai kebudayaan bangsa Indonesia. Nilai-nilai itu dijaga dengan berbasis pada jalinan hubungan yang saling percaya antar masyarakat. Seperti kebiasaan saling tolong-menolong, kerjasama, dan mempererat hubungan kepercayaan antar sesama. Kondisi itulah yang sebenarnya akan memperkaya modal sosial masyarakat. Jika modal sosial di dalam masyarakat yang berbasis pada hubungan kepercayaan ini dapat dicapai, maka yang terjadi adalah hubungan yang saling tolong-menolong antar masyarakat. Orang yang berada di dalam kelas atas akan mau berhubungan baik dengan orang yang berada di dalam kelas bawah. Karena hubungan kepercayaan ini sifatnya merekatkan jarak antara kelas atas dengan kalas bawah. Hubungan baik ini tentu akan menumbuhkan sikap untuk bekerjasama dengan berbasis pada hubungan kepercayaan. Jika hal ini dapat tercapai, bukan tidak mungkin lagi permasalahan kemiskinan yang ada di Indonesia ini dapat teratasi dengan baik.

E. Kesimpulan

            Sebenarnya permasalahan kemiskinan yang ada di Indonesia ini memang menjadi masalah yang begitu kompleks. Hal itu terjadi karena permasalahan kemiskinan ini selalu menimbulkan masalah baru seperti kriminalitas, anak terlantar, pengangguran, maupun munculnya pengemis di jalanan. Berbagai upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi masalah ini tampaknya tak juga menemui hasil yang baik. Basis yang digunakan oleh pemerintah untuk mengatasi masalah kemiskinan ini hanya sampai pada bagaimana meningkatkan sumber daya manusianya. Sedangkan yang telah kita ketahui bila permasalahan kemiskinan ini memang permasalahan yang sangat kompleks. Sehingga dalam mengatasi masalah ini tidaklah cukup bila hanya terhenti pada peningkatan sumber daya manusianya saja.

Selain meningkatkatkan sumber daya manusia agar kualitas manusia menjadi lebih baik. masih ada lagi cara yang harus ditempuh agar permasalahan kemiskinan ini bisa tertasi dengan baik. Cara tersebut adalah membangun kembali hubungan kepercayaan antar masyarakat. Hal itu menjadi sangat penting karena akar warisan budaya bangsa Indonesia adalah berbasis pada hubungan kepercayaan emosional antar individu yang tertuang di dalam nilai dan norma yang ada di dalam masyarakat. Realitas yang terjadi saat ini, hubungan kepercayaan itu seakan hilang dan berubah menjadi hubungan yang transaksional yang hanya meperhitungkan untung dan rugi.

Dalam menumbuhkan kembali hubungan kepercayaan ini, diharapkan masyarakat yang awalnya hidup dengan penuh persaingan dapat berubah menjadi hidup yang saling bekerjasama. Hubungan kepercayaan diharapkan dapat memperbaiki jarak hubungan yang ada pada masyarakat kelas atas dan kelas bawah. Jika di dalam setiap elemen masyarakat dapat bekerjasama dengan baik dalam basis hubungan kepercayaan yang baik. Baik itu hubungan atara kelas atas dengan kelas atas, kelas bawah dengan kelas atas, ataupun atara kelas yang satu dengan kelas lainnya dapat terjalin dengan baik. bukan tidak mungkin lagi permasalahan kemiskinan yang terjadi pada masyarakat kelas bawah ini dapat teratasi dengan baik.

BACAAN:

Maarif, Syamsul. 2011. Bahan Ajar Sosiologi Kapital Sosial. Yogyakarta: Gress Publishing

Ritzer, George & Douglas J. Goodman. 2005. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana

Siahaan, Hotman M. 1986. Pengantar ke Arah Sejarah dan Teori Sosiologi. Jakarta: Erlangga.

           

           

Categories: Modal Sosial, Sosiologi | Tinggalkan komentar

Post navigation

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: