DAMPAK NEGATIF MASUKNYA BUDAYA ASING TERHADAP EKSISTENSI BUDAYA ASLI INDONESIA

DAMPAK NEGATIF MASUKNYA BUDAYA ASING TERHADAP EKSISTENSI BUDAYA ASLI INDONESIA

Oleh: Tri Mahendra

kenangan himasos

Indonesia merupakan sebuah negara yang kaya akan keanekaragaman budaya. Dengan kekayaan budaya itu, sudah semestinya bila kita merasa bangga menjadi warga negara Indonesia. Indonesia merupakan sebuah negara yang hebat karena dengan keanekaragaman budaya yang dimilikinya, Indonesia tetap menjadi negara yang kokoh dan terintegrasi dengan baik. Padahal untuk menyatukan sebuah keanekaragaman dalam satu wadah keindonesiaan itu bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakuakan. Bila kita menengok ke negara-negara lain seperti Uni Soviet misalnya, mereka telah gagal menyatukan sebuah keanekaragaan. Namun mengapa yang terjadi di Indonesia tidak seperti apa yang terjadi di Uni Soviet. Karena memang solidaritas bersama yang dimiliki oleh bangsa Indonesia sangat kuat yang kemudian tercurahkan dalam ikatan nasion. Nasion adalah suatu kesatuan solidaritas sosial, suatu jaringan hubungan setia kawan yang tinggi, yang besar[1]. Kemudian bagaimana solidaritas yang kuat itu dapat tercipta. Untuk menjawab itu tentu kita perlu merunut kedalam sejarah bangsa Indonesia di masa lampau.

Sejarah masa lampau negara kita sangatlah panjang demi memperjuangkan diri untuk lepas dari belenggu penjajahan. Bagaimana solidaritas itu tercipta memang ada kaitannya dengan sejarah bangsa Indonesia. Karena bangsa Indonesia pada masa itu sama-sama mengalami persaan pahitnya dijajah oleh bangsa asing.

Dengan adanya sebuah kesamaan-kesamaan, dimungkinkan bangsa Indonesia memiliki solidaritas bersama yang terbentuk dari latar belakang yang sama di masa lampau. Yaitu sama-sama merasakan betapa susahnya berjuang untuk lepas dari belenggu penjajahan. Melepaskan diri dari kekangan-kekangan bangsa asing yang telah menjajah bangsa Indonesia. Dengan adanya itulah akhirnya bisa membuat bangsa Indonesia memiliki ikatan yang kuat dalam membangun solidaritas bersama. Ikatan solidaritas bersama yang kuat itu kemudian dinamakan sebagai nasion. Dengan mengambil konsep nasion dari Ernest Renant[2] yang menyatakan bahwa nasion merupakan suatu solidaritas yang besar yang terbentuk oleh perasaan yang timbul akibat pengorbanan-pengorbanan yang telah dibuat dan dalam masa depan dan bersedia dibuat lagi. Artinya adalah bahwa nasion itu bukanlah hal yang konkrit yang bisa terlihat oleh mata. Dalam pendapat Ernest Renan dikatakan bahwa nasion itu merupakan perasaan. Sehingga itu menjadi hal yang sangat abstrak yang hanya bisa dirasakan.

Apa yang terjadi di Indonesia saat ini? Sebuah pertanyaan besar dan sangat mendasar tentunya. Apakah kita menyadari bahwa budaya yang ada di Indonesia saat ini sudah tercemari oleh budaya asing. Misalnya saja dengan hadirnya berbagai macam teknologi canggih seperti internet, televisi, handphone dan sebagainya. Segala informasi yang ada di dunia saat ini sangat mudah untuk diakses dan di konsumsi oleh bangsa Indonesia secara masif. sehingga apa yang kemudian terjadi, yang terjadi tak lain adalah merasuknya budaya asing terutama budaya barat yang sekuler, yang akhirnya mereduksi budaya asli Indonesia. Jika hal itu terjadi, maka ini sangat berbahaya bagi kelangsungan bangsa Indonesia. Karena bukan tak mungkin ini bisa menjadi penyebab Indonesia mengalami diintegrasi. Karena Indonesia tidak lagi menggunakan Pancasila sebagai dasar pandangan hidup warga negara Indonesia. Akan tetapi bangsa Indonesia malah menggunakan kebudayaan barat yang sekuler itu.

Dengan merasuknya budaya asing kedalam pikiran bangsa Indonesia. Bagaimanakah kemudian posisi nasion Indonesia itu. Siapakah kemudian yang akan mempertahankan nasion Indonesia itu. Apakah nasion Indonesia itu nantinya hanya akan menjadi slogan belaka yang dimiliki oleh bangsa Indonesia yang tanpa didasari oleh perasaan solodaritas bersama lagi. Artinya adalah nasion Indonesia itu hanya menjadi sebuah konsep atau identitas belaka bagi bangsa Indonesia. Dan bila hal itu benar-benar terjadi sekarang, kemudian apa yang tersisa dari semua itu. Bukankah budaya asing itu akan membuat bangsa Indonesia menjadi terpecah-belah lagi. Karena budaya asing yang membuat kita menjadi hidup individulais. Sehingga yang terjadi kemudia adalah konflik, persaingan dan pertentangan yang bisa memecah-belah bangsa kita. Tentu bila hal ini terjadi akan sangat merugikan bangsa Indonesia. Kemudian dimanakah eksistensi dari budaya asli Indonesia ketika bangsa Indonesia sendiri telah banyak mengadopsi budaya asing ketimbang budayanya sendiri.

Jika kita mengamati dan merasakan apa yang terjadi di lingkungan sekitar kita. Kita sudah tidak lagi hidup di dalam era penjajahan fisik seperti yang terjadi pada negara Indonesia dimasa lampau ketika mengalami penjajahan oleh bangsa asing. Yang terjadi sekarang bukanlah penjajahan fisik lagi, akan tetapi penjajahan budaya. Penjajahan budaya ini lebih sulit untuk dilawan ketimbang penjajahan fisik, karena mereka merasuk kedalam dunia pikiran bangsa Indonesia. Dunia pikiran ini lebih sulit ditakhlukkan karena sifatnya yang abstrak atau tak terlihat. Hal ini juga terkait dengan masalah perasaan yang dirasakan oleh bangsa Indonesia. jadi tentu tak mudah untuk mengatasi masalah ini. Tak sedikit tentunya dari mereka yang sudah terkontaminasi dengan budaya asing telah melupakan nilai dan norma asli bangsa Indonesia. Yang terjadi sekarang adalah mereka hidup dengan gaya hidup bangsa asing yang kebarat-baratan. Budaya barat ini sungguh bertentangan dengan budaya Indonesia.

Saat ini kita tak perlu sulit untuk melihat perilaku bangsa Indonesia yang sudah mulai hidup dengan budaya kebarat-baratan. Misalnya saja dengan hadirnya kehidupan malam, kehidupan malam seperti diskotik bukanlah kebudayaan asli bangsa Indonesia. Budaya itu merupakan cerminan dari budaya hedonisme orang barat yang memuja kenikmatan semu dunia. Budaya Indonesia tidak ada yang mengajarkan aliran sekuler seperti yang ada di negara barat, akan tetapi tanpa kita sadari saat ini banyak dari bangsa kita yang terkena pengaruh dari budaya sekuler itu. Budaya bangsa Indonesia terkenal dengan budaya orangnya yang ramah dan berjiwa sosialis, namun lihatlah yang terjadi sekarang. Bangsa Indonesia memang benar-benar tercemari budaya asing, saat ini tak sedikit dari orang-orang yang ada di sekitar kita memiliki sifat individulis, materialis maupun egois. Apakah sifat-sifat seperti itu sebenarnya merupakan sifat asli bangsa Indonesia. Tentu tidak, dalam budaya kita telah diajarkan budaya sosialis.

Jika kita lihat produk budaya Indonesia yang berupa kesenian. Apakah saat ini bangsa Indonesia memiliki perasaan yang bangga lagi akan budaya-budaya seni bangsa Indonesia. Misalnya saja tari-tarian, lagu-lagu daerah, batik dan sebagainya. Apakah bangsa Indonesia merasa bangga lagi dengan adanya itu semua. Tak jarang kita melihat dan menemui orang Indonesia sekarang lebih suka budaya asing ketimbang budayanya sendiri. Misalnya lagu-lagu barat, pakaian-pakaian yang bermode kebarat-baratan dan sebagainya. Mereka cenderung menyukai dan menghafal lagu-lagu barat. Sehingga tak jarang kita menemui orang-orang yang ada disekitar kita tidaak hafal lagi lagu-lagu nasional. Malah yang lebih ekstrim lagi dan ini sangat menyedihkan bila orang Indonesia mengatakan bahwa budaya Indonesia sudah ketinggalan jaman. Ini tentu akan melemahkan eksistensi budaya asli Indonesia dan nasion Indonesia sendiri. Maka tak heran bila banyak dari produk kebudayaan asli negara kita yang diklaim oleh negara-negara asing.

Ketika budaya asli yang ada di dalam negara kita sudah mulai terkikis sedikit demi sedikit. Kemudian budaya asing dengan sangat gencar masuk kedalam budaya kita. Yang terjadi kemudian adalah semakin hilangnya budaya asli negara kita dan itu bisa mengancam rasa nasionalisme kita. Ketika budaya asing telah masuk kedalam alam pikiran kita. Maka yang terjadi adalah semakin memudarnya solidaritas bersama antar bangsa Indonesia. Mengapa demikian, jika kita melihat saat ini sudah banyak dari generasi muda kita yang menyukai artis-artis barat dari pada para pahlawan yang telah gugur dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Ketika budaya asing terutama budaya barat telah merasuk dalam pikiran bangsa kita, lebih-lebih generasi muda kita. Dan kemudian generasi muda sudah mempraktekkan hidup dengan gaya kebarat-baratan. Lalu siapakah yang nantinya akan meneruskan atau melestarikan budaya asli Indonesia. Misalnya saja seni, siapa kemudian yang akan melestarikan budaya wayang, janger, tari-tarian daerah dan kesenian yang lainnya ketika para generasi muda telah mencintai budaya asing. Lalu siapa lagi yang akhirnya mau mempertahankan eksistensi budaya asli Indonesia.

Melihat makin menipisnya rasa bangga bangsa Indonesia terhadap budayanya sendiri. Maka tak heran bila banyak dari produk kebudayaan kita yang marak diklaim oleh negara-negara lain. Kemudian jika hal itu terjadi, siapakah yang disalahkan. Tentu ini akan kembali kepada kita sebagai anggota dari nasion Indonesia. Bukankah kita sudah seharusnya menjaga baik budaya yang kita miliki. Budaya yang kita miliki itu merupakan suatu identitas asli bangsa kita. Bangsa kita yang terkenal dengan bangsa yang besar, apakah hal itu masih pantas lagi bila kita telah melupakan budaya sendiri. Lalu dimanakah identitas kita sebagai negara yang memiliki budaya ramah terhadap sesama, ketika budaya egoistis, individualis dan materialis masuk. Bukankah budaya itu bukanlah budaya asli kita. Akan tetapi mengapa itu semua merasuki alam pikiran bangsa kita.

Sebagai kesimpulan dari apa yang telah tercurahkan diatas. Sudah selayaknya bagi kita untuk merefleksikan kembali apa yang telah terjadi pada bangsa Indonesia saat ini. Kita juga telah mengulas secara kritis tentang kondisi kebudayaan negara kita yang sudah mulai terkikis oleh masuknya budaya asing. Kita juga sudah mengetahi bahwa ternyata budaya asing itu telah memiliki banyak dampak negatif bagi kelangsungan hidup bangsa kita. Sebagai generasi muda penerus bangsa, sudah seharusnya bagi kita untuk merenungkan kembali apa yang telah terjadi pada negara kita. Kemudian kita juga harus merenungkan apa yang perlu kita lakukan untuk masa depan Indonesia selanjutnya. Apa yang seharusnya kita lakukan kedepan demi mempertahankan eksistensi budaya asli bangsa kita. Dan untuk saat ini dan yang akan datang sudah menjadi kewajiban kita untuk terus menjaga dan melestarikan kebudayaan nasional Indonesia.

Bahan Referensi:

Buku Sistem Sosial Budaya Indonesia karangan Dr. Bustami Rahman, MA dan Dr. Hary Yuswadi, MA.


[1] Pengertian ini dikutip dari buku Sistem Sosial Budaya Indonesia  karangan Dr. Bustami Rahman, MA dan Dr. Hary Yuswadi, MA. Halaman 24.

[2] Pendapat ini dikutip dari buku Sistem Sosial Budaya Indonesia karangan Dr. Bustami Rahman, MA dan Dr. Hary Yuswadi, MA. Halaman 23.

Categories: Sistem Sosial Budaya Indonesia | Tinggalkan komentar

STRATIFIKASI SOSIAL MASYARAKAT DESA RINGINTELU KECAMATAN BANGOREJO KABUPATEN BANYUWANGI

STRATIFIKASI SOSIAL MASYARAKAT DESA RINGINTELU KECAMATAN BANGOREJO KABUPATEN BANYUWANGI

Oleh Tri Mahendra

mahendra unej

Pengertian Stratifikasi Sosial

Di dalam setiap masyarakat pasti memiliki sesuatu yang dianggap memiliki penghargaan lebih tinggi mengenai hal-hal tertentu. Penghargaan lebih mengenai sesuatu tersebut bisa dalam wujud material maupun yang non-material. Dalam konsep stratifikasi sosial, penghargaan nilai material bisa berwujud sebuah materi. Misalnya saja orang akan dihargai lebih ketika memiliki uang yang jumlahnya lebih banyak dari warga yang ada disekitarnya, memiliki rumah mewah, mobil mewah dan barang-barang lainnya yang berwujud materi yang mana itu dihargai lebih tinggi oleh masyarakat yang ada disekitarnya. Sedangkan dalam konsep stratifikasi sosial yang terbentuk bukan karena kepemilikan benda material dapat berupa prestise maupun kewibawaan yang dimiliki oleh seseorang yang berada didalam masyarakat. Misalnya saja, ada seseorang yang dihargai lebih tinggi oleh warga yang ada disekitarnya karena dia merupakan tokoh masyarakat, misalnya kyai, guru ngaji, ustad dan lain-lain. Dalam konteks ini, mereka mendapat penghargaan lebih tinggi oleh masyarakat bukan karena mereka memiliki kekayaan material yang lebih banyak dari warga yang lain. Akan tetapi mereka mendapat penghargaan tinggi karena ilmu yang dimiliki, sikap sopan santunnya dan kewibawaanya di dalam masyarakat.

Setiap masyarakat memiliki stratifikasi yang berbeda dengan masyarakat yang ada di daerah lainnya. Dikatakan oleh sosiolog Pitirim A. Sorokin dalam buku Sosiologi Suatu Pegantar karangan Soerjono Soekanto, dia mengatakan bahwa sistem lapisan merupakan ciri yang tetap dan umum dalam setiap masyarakat yang hidup teratur. Barang siapa yang memiliki sesuatu yang berharga dalam jumlah yang sangat banyak dianggap masyarakat berkedudukan dalam lapisan atas. Mereka yang hanya sedikit sekali atau tidak memiliki sesuatu yang berharga dalam pandangan masyarakat memiliki kedudukan yang rendah.[1]

Dalam aspek ini, individu yang ada didalam masyarakat dapat dihargai lebih atau tidak tergantung atas kepemilikan sesuatu yang dianggap berharga dalam masyarakat. Kepemilikan sesuatu yang berharga itu dapat berupa kepemilikan benda material. Namun sesuatu yang dianggap berharga oleh masyarakat tidak hanya berkutat pada seberapa banyak jumlah material yang dimiliki oleh masyarakat, akan tetapi jabatan, gengsi dan prestise juga merupakan basis yang dihargai dalam masyarakat. Dengan adanya kepemilikan sesuatu yang dianggap berharga dalam masyarakat dengan jumlah yang berbeda-beda. Maka terciptalah stratifikasi atau pelapisan sosial dalam masyarakat.

Menurut ter Har dalam buku Pengantar sosilogi pedesaan dan pertanian karangan rahardjo. Pelapisan Sosial masyarakat yang ada di desa dapat dibedakan atas golongan pribumi pemilik tanah, golongan yang hanya memiliki rumah dan pekarangan saja atau tanah pertanian saja, golongan yang hanya memiliki rumah saja diatas tanah orang lain. Sedangkan menurut Koentjaraningrat pelapisan sosial masyarakat desa dapat digambarkan melalui keturunan atau cikal bakal desa dan pemilik tanah (kentol), pemilik tanah diluar golongan kentol, dan yang tidak memiliki tanah.[2] Dalam aspek ini, terlihat bahwa stratifikasi sosial pada masyarakat desa terbentuk karena adanya kepemilikan tanah. Seseorang yang memiliki tanah dalam jumlah banyak akan memperoleh strata atas dalam masyarakat desa. Sedangkan seseorang yang tinggalnya numpang di atas tanah orang lain atau tidak memiliki tanah memiliki strata sosial bawah.

Dasar Lapisan dalam Masyarakat

Untuk menentukan ukuran atau kriteria dalam menggolongkan masyarakat kedalam suatu pelapisan masyarakat. Ada beberapa cara yang digunakan dalam menggolongkannya. Misalnya saja stratatifikasi sosial masyarakat berdasarkan pada ukuran kekayaan yang dimiliki. Dalam konteks ini, seseorang yang memiliki ukuran kekayaan yang lebih banyak dibandingkan dengan orang yang ada disekitarnya, dalam hal ini basis material sangat dominan untuk menentukan status sosial individu di dalam masyarakat. Ukuran kekayaan material menjadi komoditas yang berharga di dalam masyarakat. Seseorang yang memiliki basis material yang lebih banyak akan masuk kedalam strata sosial tingkat atas. Ukuran kekayaan yang berbasis komoditas material itu dapat berupa rumah, mobil, uang dan lain sebagainya.

Ada juga cara yang digunakan untuk menggolongkan seseorang berada dalam strata tertentu berdasarkan atas ukuran kekuasaan. Seseorang yang memiliki kekuasaan tertentu akan memperoleh strata sosial atas, karena dengan kekuasaan tersebut seseorang akan memperoleh wewenang. Cara lain untuk menggolongkan seseorang kedalam strata sosial tertentu yaitu dengan ukuran kehormatan. Orang yang paling disegani dan dihormati dalam masyarakat akan memperoleh strata sosial atas. Biasanya orang-orang ini merupakan sesepuh desa atau orang-orang tua yang dahulunya pernah berjasa dalam masyarakat. Misanya saja tokoh agama atau kyai dan ustad, guru ngaji atau sesepuh desa. Orang- orang tersebut mendapat strata sosial atas bukan karena komoditas material yang dimilikinya. Akan tetapi mereka mendapat posisi strata atas dalam masyarakat karena kebijaksanaannya. Ini berbeda dengan penggolongan strata sosial berdasarkan ukuran kekayaan seperti yang ada pada penggolongan strata sosial berdasarkan jumlah kepemilikan atas basis materialnya. Cara yang terakhir untuk menggolongkan seseorang kedalam strata tertentu dalam masyarakat adalah dengan ukuran ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat. Seseorang menjadi dihargai dalam masyarakat karena tingkatan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Misalnya saja seseorang akan lebih dihormati ketika seseorang itu telah berhasil menempuh pedidikan tinggi[3]

PEMBAHASAN

Stratifikasi Sosial Masyarakat Desa Ringintelu

Berdasarkan pada pengamatan dan wawancara yang telah dilakukan di daerah Desa ringintelu. Ada hal menarik yang dapat ditemukan. Dalam konsep telah disebutkan bahwa ada 4 penggolongan stratifikasi sosial dalam masyarakat. Diantanya adalah:

  1. Ukuran kekayaan
  2. Ukuran kekuasaan
  3. Ukuran kehormatan
  4. Ukuran ilmu pengetahuan

Ada hal menarik yang ada di Desa Ringintelu Kecamatan Bangorejo Kabupaten Banyuwangi. Strata sosial masyarakat Desa Ringintelu terbentuk karena adanya beberapa hal, yaitu pada basis komoditas materialnya, tingkat pengalaman individunya dan pada kehormatannya. Seseorang akan memperoleh strata sosial atas apabila dia memiliki kehormatan yang baik dimata masyarakat. Seseorang yang kaya raya akan tetapi tidak memiliki sikap sopan, tidak memiliki sikap suka berkumpul dengan masyarakat yang ada disekelilingnya tidak akan memperoleh strata sosial atas dalam masyarakat. Mereka yang kaya namun tidak memiliki sikap hormat tidak akan dihargai oleh masyarakat dan tidak akan memperoleh strata atas. Artinya untuk memperoleh strata sosial atas dalam masyarakat Desa Ringintelu tidak cukup hanya dengan memiliki kekayaan material saja. Tetapi sikap hormat dengan sesama warga desa juga menjadi penentu untuk memperoleh strata sosial atas.

Di Desa Ringintelu, seseorang bisa memperoleh strata sosial tingkat atas apabila dia memiliki sikap hormat kepada masyarakat. Seseorang akan memperoleh strata atas bila mereka memiliki banyak pengalaman dibidang apapun. Seseorang akan memperoleh strata atas bila pengalamannya banyak. Seseorang yang memiliki banyak pengalaman akan sangat dihormati karena mereka-mereka biasanya akan ditanyai seputar pengalamannya oleh warga sekitar. Misalnya saja pengalaman ketika merantau, kuliah, atau pernah menjadi pejabat di daerah lain. Tingkat pengalaman seseorang juga menjadi penentu seseorang memperoleh strata atas dalam Desa Ringintelu. Karena seseorang yang banyak pengalaman biasanya memiliki sikap kritis dan kreatif terhadap suatu hal. Ini yang menjadikan mereka sangat dihormati dan dihargai dalam masyarakat. Akan tetapi yang menjadi catatan penting bagi setiap warga Desa Ringintelu agar memperoleh strata atas dalam masyarakat adalah sikap hormat kepada sesama. Seseorang yang kaya raya, ataupun memiliki banyak pengalaman tetap tidak bisa memperoleh strata sosial atas apabila mereka tidak memiliki sikap hormat kepada orang lain. Intinya adalah sikap homat itu yang menjadi penentu utama, disamping harus memiliki kekayaan material dan banyak pengalaman untuk memperoleh strata sosial atas. Namun tidak menutup kemungkinan bagi mereka yang tidak memiliki ukuran kekayaan material yang banyak tidak bisa memperoleh strata sosial atas. Misalnya saja Kyai, meskipun Kyai tidak memiliki jumlah kekayaan material yang banyak akan tetapi mereka tetap memperoleh strata sosial atas karena ilmu agama yang dimiliiki serta sikap hormat mereka dihadapan warga yang ada di desa.

Komoditas yang Dominan di Desa Ringintelu

            Saat ini yang menjadi komoditas dominan dalam masyarakat di Desa Ringintelu adalah basis material. Kebanyakan orang yang ada di Desa Ringintelu berbondong-bondong untuk bekerja dan mencari uang. Artinya basis material menjadi hal yang dominan dicari oleh masyarakat Desa Ringintelu. Kebanyakan orang di Desa Ringintelu giat bekerja untuk mencari uang. Biasanya mereka bekerja dan mendapatkan uang untuk membeli perabot rumah tangga, tanah, sepeda motor, dan memperbaiki rumah mereka. Kebanyakan dari warga Desa Ringintelu bangga akan basis material yang dimilikinya. Sehingga tidak jarang mereka terus bekerja untuk memperoleh kekayaan material.

Pertanyaan selanjutnya adalah dimanakah komoditas non-materialnya misalnya seperti menjadi tokoh masyarakat atau menjadi pemuka agama. Sebagian besar dari warga Desa Ringintelu tidak memiliki keinginan untuk mengakses kearah yang non-material misalnya untuk menjadi pemuka agama. Menjadi pemuka agama biasanya hanya berlaku bagi mereka yang memang anaknya pemuka agama atau anaknya Kyai. Warga desa sudah mulai menggunakan pemikiran rasional mereka sehingga sikap individual seperti orang kota sudah mulai menghinggapi warga desa yang ada di Desa Ringintelu. Namun demikian, kegiatan seperti membantu tetangga yang sedang hajatan, membangun rumah atau kerja bakti bersih desa masih tetap ada di desa Ringintelu. Artinya, ciri khas warga desa yang kegotong royongan di Desa Ringintelu ini masih terjaga meskipun pemikiran mereka sudah bergerak kearah pemikiran orang kota.

 

Pengaruh Komoditas yang Dominan Terhadap Masyarakat Desa Ringintelu

            Ada pengaruh yang cukup signifikan atas pemikiran warga desa yang mulai rasional. Komoditas material yang dominan di dalam masyarakat desa ringintelu telah membawa mereka kearah pemikiran rasional. Jika dahulu orang gotong royong dan kerja bakti dilakukan sangat giat untuk kepentingan bersama. Sekarang orang sudah mulai memikirkan diri sendiri dari pada berpikir untuk kepentingan umum. Artinya, komoditas material yang dominan tersebut telah mengubah mindset masyarakat Desa Ringintelu untuk lebih memiliki sikap individualis. Mereka lebih suka bekerja mencari uang dari pada kerja bakti untuk kepentingan bersama. Lebih mengutamakan kepentingan pribadi dari pada kepentingan bersama. Adapun mereka mau melakukan kerja bakti bila mereka didatangi langsung oleh Bapak RT. Artinya ada degradasi tersendiri akan kesadaran mereka untuk hidup lebih mementingkan kepentingan bersama.

Pola gaya hidup masyarakat Desa Ringintelu yang sudah bergerak ke pola gaya hidup orang kota bisa dilihat dari model rumah mereka. Terlihat bila model rumah-rumah mereka sekarang diberi benteng. Artinya ketika rumah-rumah mereka sudah diberi benteng akan membuat pola hidup mereka menjadi individualis. Mereka akan menjadi jarang bermain kerumah tetangga. Orang juga cenderung menjadi sungkan bila mau bermain kerumah tetangganya yang diberi benteng. Akibat dari pengaruh komoditas material ini juga membuat pemikiran warga Desa Ringintelu menjadi lebih pragmatis dan materialis. Masyarakat Desa Ringintelu akan terlihat bangga bila mereka telah berhasil mengumpulkan kekayaan lebih banyak daripada orang-orang yang ada disekitarnya. Dapat dikatakan bahwa hadirnya dominasi komoditas material ini memiliki dampak yang kurang baik bagi masyarakat Desa Ringintelu.

Perbedaan Desa Ringintelu dengan Desa Lain Disekitarnya

            Ada perbedaan yang menarik antara Desa Ringintelu dengan Desa lain yang ada disekitarnya. Jika dilihat dari komoditas pertaniannya, antara Desa Ringintelu dengan dengan desa-desa lain yang ada disekitarnya hampir tidak ada perbedaannya. Karena daerah yang ada di Desa Ringintelu dengan daerah yang lainnya memang berbasis pertanian, terutama padi. Namun jika dilihat dari sektor perkonomiannya, Desa ringintelu masih kalah bersaing dengan Desa Kebondalem yang terletak disebela utaranya. Di dalam desa Kebondalem terdapat Pasar senen yang ramai dikunjungi orang, sehingga sektor ekonominya lebih maju. Jika dilihat dari aspek sosialnya, antara Desa Ringintelu dengan Desa yang ada disekitarnya terlihat ada perbedaan. Di sebelah Barat Desa Ringintelu ada Desa Barurejo. Desa Barurejo terlihat lebih materialis daripada desa Ringintelu. Desa Barurejo kental dengan hubungan patron klien antara tuan tanah dan buruh tani. Meskipun di Desa Ringintelu juga ada hubungan Patron klien antara pemilik tanah dengan buruh tani, namun jumlahnya lebih sedikit.

Di desa Ringintelu cukup terkenal dengan penghasil gula merah. Di Desa Ringintelu ada perusahaan gula merah yang cukup besar. Banyak dari masyarakat Desa Ringintelu yang berprofesi sebagai petani nira/pembuat gula merah. Gula merah yang dihasilkan oleh warga Desa ringintelu selanjutnya di jual ke pengusaha besar gula merah yang selanjutnya nanti di jual lagi ke berbagai daerah diluar Banyuwangi. Dalam hal ini, hubungan patron klien antara pengusaha gula merah dengan para pembuat gula merah sangat kuat. Hubungan patron klien antara  pengusaha gula merah dengan para pembuat gula merah ini hanya terjadi di Desa ringintelu dan tidak terjadi di desa-desa lain di sekitar desa ringintelu. Hubungan patron klien yang terjadi desa ringintelu antara pengusaha gula merah dengan para pembuat gula merah ini telah menciptakan stratifikasi sosial. Dimana pengusaha gula merah memperoleh strata atas karena pengusaha ini sangat dihormati oleh warga. Karena banyak dari warga desa yang menjual gula merahnya ke pengusaha tersebut akan memperoleh hadiah saat menjelang hari raya idul fitri dari pengusaha tersebut.

 

KESIMPULAN

 

            Dapat disimpulkan bila stratifikasi sosial yang terbentuk di Desa ringintelu bukan atas dasar tingkat kepemilikan material. Meskipun pada kenyataannya kebanyakan dari warga Desa Ringintelu sendiri sangat giat untuk mengumpulkan kebutuhan material, misalnya saja giat bekerja untuk mendapatkan uang dan hasilnya untuk membeli perabot rumah tangga, tanah dan sebagainya. Akan tetapi ketika mereka telah memiliki kekayaan material yang banyak tidak akan menjamin mereka untuk bisa menduduki posisi strata atas dalam masyarakat. Akan tetapi yang menjadi penentu strata sosialnya adalah sikap hormat sikap bijaksananya.

Seseorang yang kaya namun tidak memiliki sikap hormat tidak akan memperoleh status sosial atas dalam desa Ringintelu, mereka yang kaya namun tidak memiliki sikap hormat tidak akan dihargai dalam masyarakat. Jadi status sosial dalam masyarakat Desa Ringintelu itu tercipta karena sikap hormat individu terhadap orang lain dalam masyarakat. Tidak peduli mereka kaya atau miskin, strata atas akan diduduki mereka yang hormat dan bijaksana terhadap sesama dalam masyarakat. Mereka yang hormat dan bijak akan tetap dihormati dan dihargai dalam masyarakat Desa Ringintelu.

DAFTAR PUSTAKA

 

Soekanto, Soerjono. 2007. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada.

Rahardjo. 1999. Pengantar Sosiologi Pedesaan dan Pertanian. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press.


[1] Lihat dalam buku Sosiologi Suatu Pegantar karangan Soerjono Soekanto hal. 197

[2] Lihat dalam buku Pengantar sosilogi pedesaan dan pertanian karangan rahardjo hal. 117

[3] Dalam buku Sosiologi Suatu Pegantar karangan Soerjono Soekanto hal.237-238

Categories: Sosiologi Pedesaan | Tinggalkan komentar

Pola perilaku masyarakat Desa Ringintelu Kecamatan Bangorejo Kabupaten Banyuwangi dalam aspek kesehatan

Pola perilaku masyarakat Desa Ringintelu Kecamatan Bangorejo Kabupaten Banyuwangi dalam aspek kesehatan

Oleh Tri Mahendra

BAB 1. PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Desa Ringintelu Kecamatan Bangorejo merupakan wilayah yang berada di Kabupaten Banyuwangi bagian selatan. Kondisi masyarakat yang ada disana kebanyakan sudah memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap kesehatan mereka. Terutama ketika mereka sedang sakit yang tidak begitu parah, mereka memiliki pola perilaku untuk berobat kepada mantri/perawat. Namun ketika mereka sakit parah, mereka cenderung berobat ke rumah sakit. Di Desa Ringintelu sendiri telah memiliki seorang mantri yang sangat terkenal yang berasal dari desa sebelah. Beliau bernama Bapak Bagio. Ketika ada masyarakat Desa Ringintelu yang sedang sakit. Mereka selalu berobat ke Bapak Bagio. Kebanyakan dari masyarakat Desa Ringintelu sembuh ketika berobat kepada Bapak Bagio.

Ada hal yang berbeda terkait dengan pola perkembangan sosial masyarakat Desa Ringintelu. Dimana pada waktu dahulu masyarakat Desa Ringintelu lebih cenderung percaya kepada dukun ketika sedang sakit. Misalnya saja ketika ada ibu yang ingin melahirkan anak. Di zaman dahulu mereka lebih suka melakukan proses persalinan lewat dukun bayi. Namun untuk saat ini, para ibu yang ingin melahirkan anaknya lebih percaya kepada bidan atau rumah sakit. Perubahan-perubahan tersebut terjadi seiring dengan kemajuan zaman melalui modernisasi. Apalagi saat ini banyak dari generasi muda yang sudah berpendidikan. Sehingga tradisi-tradisi lama yang secara ilmu pengetahuan tidak logis sudah jarang dipercayai lagi. Jika dahulu ketika ada orang yang sedang sakit disangka karena dibuat sakit oleh orang lain. Saat ini pandangan-pandangan tersebut sudah mulai memudar.

Jika merujuk pada teori dari August Comte tentang hukum tiga tingkatan intelektual masyarakat. Yaitu dimulai dari tahap teologis, metafisik, dan positivis. Dimana ketika masyarakat masih mempercayai tentang hal yang bersifat spiritual masyarakat tersebut masuk dalam kategori teologis. Yang pada akhirnya mereka masuk dalam tahap metafisik dan positivis. Begitupun pada masyarakat Desa Ringintelu saat ini bisa dikatakan telah masuk dalam tahap positivis karena telah mempercayai ilmu pengetahuan modern.

Dari permasalahan yang ada diatas, penulis tertarik untuk mengetahui lebih dalam mengenai “Pola perilaku masyarakat Desa Ringintelu Kecamatan Bangorejo Kabupaten Banyuwangi dalam aspek kesehatan”.

 

1.2 Perumusan Masalah

Permasalahan terkait dengan fenomena masyarakat dalam bidang kesehatan merupakan fenomena yang menarik untuk dibahas. Dalam hal ini masalah yang akan dikaji adalah: Bagaimana pola perilaku masyarakat Desa Ringintelu Kecamatan Bangorejo Kabupaten Banyuwangi dalam aspek kesehatan?

 

1.3 Tujuan dan Manfaat

1.3.1 Tujuan

Tujuan dari jurnal ini adalah untuk mengetahui bagaimanakah pola perilaku masyarakat Desa Ringintelu Kecamatan Bangorejo Kabupaten Banyuwangi dalam aspek kesehatan.

1.3.2 Manfaat

Manfaat dari jurnal ini adalah dapat memberikan wawasan dan pengetahuan terutama pada masyarakat Desa Ringintelu Kecamatan Bangorejo Kabupaten Banyuwangi di bidang kesehatan.

BAB 2. TINJAUAN TEORI

 

2.1 Pengertian Kebudayaan

Kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.[1]

 

2.2 Tahap Perkembangan Intelektual

Dengan menggunakan pendekatan August Comet terkait dengan hukum tiga tingkatannya. Menurut August Comte masyarakat, ilmu pengetahuan, individu dan pemikirannyam berkembang melalui tiga tahapan intelektual ini. tahap yang pertama adalah tahap teologis, dalam tahap ini gagasan utamanya adalah menekankan pada keyakinan bahwa kekuatan adikodrati, tokoh agama, dan keteladanan kemanusiaan menjadi dasar segala sesuatu. Dunia sosial dan alam fisik pada khususnya dipandang sebagai ciptaan Tuhan. Tahap keuda adalah metafisik, dimana ditandai oleh keyakinan bahwa kekuatan abstraklah yang menerangkan segala sesuatu, bukannya dewa-dewa personal. Yang terkhir adalah tahap positivistik, ditandai oleh keyakinan terhadap ilmu sains.[2]

2.3 Sakit dalam Aspek Sosial

Dalam aspek ini sakit disebut sebagai perilaku menyimpang. Karena secara sosiologis karena dengan adanya sakit dianggap gagal dalam memenuhi pengharapan-pengharapan yang diterapkan dalam kelembagaan dari satuu atau lebih peran dalam mana individu itu dilibatkan dalam masyarakat. Orang sakit tersebut tidak mampu memenuhi kewajiaban-kewajiban sosial normal, dan motivasi orang sakit untuk menjadi sakit atau tidak mau sembuh menjadi acuan pada kenyataan ini. menjadi anggota kelompok sosial yang normal itu adalah salah satu aspek dari sehat, proses penyembuhan individu yang sakit harus dilakukan agar kapasitas untuk memainkan peran-peran sosial dapat berjalan secara normal.[3]

BAB 3. METODE PENULISAN

3.1 Tahap Persiapan

            Di dalam tahap ini penulis mempersiapkan bahan-bahan berupa buku-buku dan hasil dari perkuliahan yang ada kaitannya dalam aspek kesehatan pada masyarakat.

3.2 Tahap Pengumpulan Data

Dalam pengumpulan data penulis menggunakan metode observasi. Dimana penulis meninjau masyarakat yang ada di daerah observasi. Daerah observasi yang dilakukan merupakan daerah tempat tinggal penulis.

3.3 Analisis Data

            Pada tahap ini penulis mempelajari buku-buku yang ada kaitannya dengan karya ilmiah ini. Kemudian penulis mengaitkan teori yang ada tersebut dengan realita yang ada di masyarakat Desa ringintelu.

BAB 4. PEMBAHASAN

4.1 Kehidupan Masyarakat Desa Ringintelu

            Di dalam masyarakat Desa Ringintelu memiliki kehidupan masyarakat yang cukup menarik. Dimana ikatan sosial antara tetangga dapat dikatakan masih erat terjaga. Hal itu juga tidak dilepaskan karena tradisi masyarakat disana yang terus dilestarikan. Seperti halnya Arisan dan Yasinan yang digelar di rumah-rumah warga secara bergiliran yang digelar setiap hari kamis juga dapat memberikan ikatan sosial masyarakat. Selain itu juga ketika ada salah satu warga yang memiliki hajatan (duwe gawe: dalam istilah jawa) para tetangga selalu membantu. Suasana saling membantu itulah yang memberikan efek pada keerataanya hubungan sosial. Dalam aspek kesehatan juga demikian, ketika ada salah satu dari anggota masyarakat yang sakit. Otomatis anggota masyarakat yang lain akan menjenguk dan memberi dukungan agar cepat sembuh. Dalam melakukan pengobatan bagi mereka yang sakit kebanyakan dilakukan oleh mantri desa yang sudah terpercaya dalam menyembuhkan orang sakit.

Masyarakat yang ada di Desa Ringintelu saat ini memiliki pekerjaan yang beraneka ragam. Namun yang dominan adalah mereka bekerja sebagai petani. Memang daerah yang ada di Desa Ringintelu sangat subur sehingga cocok untuk pertanian. Pada umumnya warga yang ada di Desa Ringintelu memiliki tanah pekarangan yang ada di belakang rumah. Tanah pekarangan itu biasanya ditanami singkong, jagung, ubi dan lain-lain. Ketika tanaman yang ditanam di tanah pekarangan tersebut telah dipanen. Tak lupa mereka saling berbagi dengan tetangga yang tinggal disekitarnya. Hal itu juga dapat memberikan nilai tambah bagi keeratan ikatan sosial. Begitu pula ketika ada salah satu dari tetangga ada yang sakit. Mereka pasti langsung menjenguk. Hal ini seperti dalam teorinya Emile Durkheim tentang kesadaran kolektif. Bahwa masyarakat bergerak atas dasar kesadaran kolektifnya. Jadi mereka dapat bergerak karena mereka memiliki rasa kebersamaan yang tinggi yang diikuti oleh ikatan emosional yang kuat. Rasa altruistiknya terlihat lebih menonjol dibandingkan dengan dengan aspek egoistiknya.

4.2 Perilaku Masyarakat dalam Aspek Kesehatan

            Kebanyakan masyarakat yang ada di Desa Ringintelu masih kurang memahami .apa itu kesehatan. Hal tersebut juga dapat dikaitkan dengan kondisi pendidikan yang masih rendah. Terutama bagi masyarakat yang memiliki usia lanjut. Meski demikian, untuk orang tua biasanya mereka nginang untuk merawat gigi mereka. Ternyata nginang tersebut dapat membuat gigi mereka kuat dan tidak mudah sakit gigi.

Bagi orang-orang disana, kebiasaan untuk jalan ditanah tanpa menggunakan alas kaki sudah banyak dilakukan. Meski diluar kesadaran mereka, namun sebenarnya pola-pola perilaku seperti itu dapat menyehatkan tubuh mereka. Untuk menjaga kesehatan mereka agar tetap bugar, disana ada seorang penjual jamu yang cukup terkenal yang  jualan jamu keliling desa dengan menggunakan sepeda motor. Jamu tersebut dibeli oleh masyarakat agar mereka menjadi sehat dan tetap bugar dalam aktivitas mereka sehari-hari. Meski kini banyak suplemen-suplemen dijual dalam bentuk kemasan yang modern di toko-toko. Akan tetapi konsumsi masyarakat Desa Ringintelu atas jamu-jamu tradisional seperti beras kencur masih banyak dilakukan. Bahkan anak-anak kecil tampak menyukai jamu-jamu tradisional tersebut.

4.3 Sakit Dan Penyembuhannya

Masyarakat yang ada di Desa Ringintelu memiliki kebiasaan yang cukup menarik ketika salah satu individu dalam masyarakat tersebut mengalami sakit. Karena setiap ada anggota keluarga sedang sakit, yang ada dipikiran mereka adalah Bapak Bagio. Beliau adalah seorang mantri yang sangat terkenal di daerah Desa Ringintelu. Banyak masyarakat yang ada di Desa Ringintelu cocok (jodo: dalam istilah jawa) dengan obat dan suntik yang diberikan. Jika masyarakat yang sakit, kebanyakan dari mereka tidak dibawa ke puskesmas. Namun ke Bapak Bagio tersebut. Tampaknya untuk pergi ke dukun ketika ada anggota keluarga yang sakit sudah jarang dilakukan. Masyarakat yang ada di Desa Ringintelu lebih menyukai pengobatan yang diberikan secara ilmiah. Namun tidak selamanya pengobatan dengan cara tradisional maupun spiritual tidak ada sama sekali. Masih ada juga beberapa warga yang pergi ke orang pinter ketika ada salah satu dari anggota keluarga mereka yang sakit. Ada juga anak kecil yang dibawa ke Pak Kyai ketika seringkali mengalami sakit-sakitan. Biasanya anak yang mengalami sakit-sakitan tersebut diganti namanya agar mereka tidak sakit-sakitan lagi. Menurut mitos yang berkembang di masyarakat Desa Ringintelu. Seorang anak yang mudah sekali mengalami sakit dikarenakan dia tidak kuat dengan nama yang dipakainya. Jadi anak tersebut harus diganti namanya supaya tidak mudah sakit lagi. Dan yang memberikan nama ini biasanya adalah Kyai tersebut.

Seperti yang ada dalam teorinya August Comte bahwa masyarakat berkembang atas dasar hukum tiga tingkatan. Yaitu teologis, metafisik, dan positivis. Tampaknya meski masyarakat Desa Ringintelu bisa dikatakan telah masuk ke ranah positivis. Mereka juga masih berada dalam tataran teologis. Karena mereka masih percaya juga dengan hal-hal yang bersifat magis ataupun gaib. Usaha-usaha yang dilakukan oleh masyarakat dalam penyembuhan orang sakit memang dominan untuk dibati secara ilmiah. Namun tidak melepas kemungkinan bahwa mereka juga masih mempercayai dengan hal-hal yang bersifat magis. Karena ada juga masyarakat yang menyatakan bahwa seseorang menjadi sakit karena ada seseorang yang membuatnya sakit. Artinya sakit itu timbul karena ada seseorang yang mengirimkan penyakit lewat seorang dukun. Bisanya orang-orang yang mengalami hal itu adalah orang-orang yang memiliki musuh.

Dalam melakukan suatu penyembuhan seseorang dari sakit, dibutuhkan sebuah dukungan yang berupa moral maupun material dari pihak sosial. Karena bagaimanapun juga selain adanya obat-obatan, dukungan sosial yang berupa motivasi juga perlu sekali untuk diberikan. Karena hal itu dapat memberikan semangat dari pihak yang sakit untuk segera sembuh. Begitu pula yang dilakukan pada masyarakat yang ada di Desa Ringintelu, ketika ada tetangga yang sedang sakit. Mereka berbondong-bondong untuk datang menjenguk dan memberikan semangat maupun motivasi agar pihak yang sakit dapat segera sembuh dari sakitnya. Ketika mereka berkumpul, solidaritasnya berubah menjadi erat. Sambil menjenguk tetangga yang sedang sakit, mereka dapat saling bercakap-cakap antar satu dengan yang lain.

Hal unik lain yang dilakukan oleh masyarakat yang ada di Desa Ringintelu ketika ada salah satu dari tetangga yang sakit adalah dengan cara mendoakan yang sakit tersebut melalui air yang sudah di doakan. Hal itu dilakukan ketika ada acara yasinan rutin hari kamis malam jumat di rumah-rumah warga. Pertama-tama air ditaruh di dalam gelas. Kemudian oleh kyai dibacakan doa-doa dan diikuti oleh para jamaah yasinan yang lain. Lalu Pak Kyai meniup air yang ada di dalam gelas sambil ditiup, kemudian juga diikuti oleh para jamaah yasinan. Setelah air tersebut selesai ditiup dan di doakan. Lalu air tersebut diberikan kepada pihak yang sakit untuk diminum. Begitulah cara yang dilakukan oleh masyarkat yang ada di Desa Ringintelu.

4.4 Peran Sosial dalam Penyembuhan Orang Sakit

Seperti yang ada dalam Teori struktural fungsional bahwa di dalam masyarakat itu memiliki struktur dan fungsi-fungsi. Begitu pula di dalam keluarga, begitu ada salah satu dari anggota keluarga ada yang sakit. Otomatis seluruh anggota keluarga juga merasakannya. Disinilah peran sosial tersebut lahir. Ketika ada salah seorang anggota keluarga ada yang sedang sakit. Pihak dari yang sosial pasti akan mengusahakan bagaimana pihak yang sedang sakit ini segera sembuh dan dapat melaksanakan kewajibannya. Peran sosial dalam pnyembuhan orang sakit tidak hanya terwujud dalam bantuan yang bersifat material, akan tetapi bantuan-bantuan yang berupa dukungan moral maupun motivasi juga sangat diperlukan. Karena hal tersebut dapat memberikan semangat bagi pihak yang sakit untuk segera sembuh.

Di dalam keluarga tentu ada berbagai macam peran yang ada. Begitu pula di dalam masyarakat, ada tokoh masyarakat, ada warga, ada kyai, ustad dan sebagainya. Peran-peran mereka di dalam masyarakat sangat dibutuhkan. Jika ada dari salah satu dari mereka ada yang sakit otomatis jalannya sistem yang ada dalam masyarakat tersebut akan terganggu. Misalnya saja ketika ada seorang Kyai yang setiap harinya menjadi imam shalat. Disuatu saat dia sedang sakit, otomatis hal itu akan mengganggu ada yang telah biasa dilakukan oleh masyarakat yang ada disana. Karena mereka telah terbiasa untuk shalat berjamaah dengan Bpak Kyai tadi. Akhirnya Bapak Kyai tersebut harus mencari pengganti Bapak Kyai dalam memimpin shalat berjamaah. Aspek sosial memang memiliki pengaruh yang cukup kuat dalam penyembuhan orang yang sedang sakit. Orang yang sedang sakit biasanya memiliki pemikiran yang putus asa. Oleh karena itulah dukungan sosial sangat diperlukan. Masyarakat yang ada di Desa Ringintelu memiliki solidaritas yang kuat antar sesama. Ketika ada salah satu dari mereka sakit. Mereka biasanya berkumpul untuk menjenguk. Dalam proses penyembuhan orang sakit yang dilakukan kebanyakan dilakukan oleh mantri desa. Orang  yang sedang sakit tidak perlu datang ke tempat mantri tersebut untuk berobat. Keluarga dari yang sedang sakit cukup menghubungi bapak matri lewat telepon. Kemudian mantri desa tersebut pun datang. Seperti yang dijelaskan diatas, jika memang sakit yang diderita oleh pasien tersebut parah dan butuh perwatan dari rumah sakit, maka pasien tersebut direkomendasikan untuk diobati di rumah sakit. Ketika mereka dirawat di rumah sakit. Otomatis jarak tempuh bagi tetangga untuk menjenguk yang sedang sakit cukup jauh. Namun demikian hal tersebut tidak menjadi persoalan bagi masyarakat yang ingin menjenguk tetangganya yang sedang sakit. Biasanya anggota dari masyarakat tersebut berkumpul kemudian berangkat bersama-sama kerumah sakit untuk menjenguk tetangga mereka yang sakit.

BAB 5. KESIMPULAN

Masyarakat yang ada di Desa Ringintelu dapat dikatakan memang masih memiliki solidaritas yang kuat antar sesamanya. Karena ketika ada dari anggota masyarakat yang sedang mengalami sakit. Mereka secara otomatis akan menjenguk dan memberikan dukungan untuk sembuh. Dalam pola perilaku masyarakat terhadap kesehatan, terutama dalam aspek penyembuhan anggota keluarga atau masyarakat yang sedang sakit. Mereka cenderung untuk memanggil mantri desa yang sudah dipercaya dalam menyembuhkan orang sakit. Banyak dari anggota masyarakat yang sembuh karena berobat kepada mantri tersebut. Jika memang sakit yang di derita ternyata parah, mereka membawa orang yang sakit tersebut ke rumah sakit.

Dukungan sosial yang kuat selalu diberikan oleh anggota masyarakat yang sehat kepada anggota masyarakat yang sakit. Hal ini dimaksudkan agar orang yang sakit merasa dirinya tidak sendirian dan putus asa. Selain itu, dukungan dengan cara berdoa bersama saat yasinan dengan menggunakan air yang sudah diberikan doa juga dilakukan untuk penyembuhan orang yang sedang sakit. Karena disamping dengan pengobatan yang dilakukan secara ilmiah oleh mantri maupun dokter dalam menyembuhkan orang sakit. Pemberian doa-doa juga perlu dilakukan agar orang yang sakit tersebut dapat segera lekas sembuh dan bisa beraktifitas kembali seperti biasanya. Begitulah pola perilaku yang dilakukan oleh masyarakat yang ada di Desa Ringintelu Kecamatan Bangorejo Kabupaten Bnayuwangi dalam penyembuhan anggota masyarakat yang sedang sakit.

DAFTAR PUSTAKA

Ritzer, George & Douglas J. Goodman. 2010. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana.

Hamilton, Peter (editor). 1990. Talcott Parsons dan Pemikirannya. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.

http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya yang diakses tanggal 28/11/2012


[1] Dikutip dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya yang diakses tanggal 28/11/2012

[2] George Ritzer dan Douglas J. Goodman dalam Teori Sosiologi Modern, 2010: 17-18

[3] Peter Hamilton dalam Talcott Parsons dan Pemikirannya, 1990: 160

Categories: Perencanaan dan Kebijakan Sosial | Tinggalkan komentar

Keterkaitan Antara Sistem Sosial dengan Sistem Budaya yang Ada Di Daerah Kabupaten Banyuwangi

Keterkaitan Antara Sistem Sosial dengan Sistem Budaya yang Ada Di Daerah Kabupaten Banyuwangi

Oleh Tri Mahendra

tri mahendra

Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan yang sangat luas dengan berbagai corak penduduk yang beraneka ragam. Dengan adanya berbagai macam corak keanekaragaman yang ada, Indonesia menjadi negara yang kaya akan budaya, diantaranya antara lain adalah adanya berbagai macam suku, agama, adat istiadat, budaya, bahasa dan lain-lain. Namun hebatnya, dengan berbagai perbedaan-perbedaan yang ada ternyata tidak membuat Indonesia mengalami disintegrasi. Akan tetapi perbedaan-perbedaan itu membuat Indonesia tetap terintegrasi secara solid. Perbedaan-perbedaan itu semua menjadi kekayaan yang unik tersendiri bagi bangsa Indonesia. Dengan adanya demikian, menjadi sangat menarik untuk dikaji dan dianalisis mengenai sistem sosial dan sistem budaya yang ada di Indonesia. Serta bagaimanakah kaitan antara sistem sosial dan sistem budaya yang ada di Indonesia tersebut.

Jika kita melihat wilayah Indonesia yang begitu luas, tentu ini akan membuat kita terkagum. Bagaimana tidak, wilayah Indonesia yang terbentang begitu luas yang dimulai dari Sabang sampai Merauke memiliki berbagai keunikan-keunikan yang tidak dimiliki oleh negara-negara lain. Mulai dari wilayah maritim yang terdiri dari hamparan laut yang luas, daratan yang subur yang sangat cocok untuk lahan pertanian, pulau-pulau yang indah yang terbentang luas dan berbagai keunikan lainnya.

Coba kita lihat aspek sosial budaya yang ada di Indonesia. Kita akan dikenalkan dengan berbagai keunikan budaya dari berbagai daerah yang ada di Indonesia. Misalnya saja yang terdapat di kabupaten Banyuwangi[1]. Di kabupaten Banyuwangi terdapat sistem sosial yang unik, sistem sosial itu merupakan sistem yang digunakan untuk mengatur perilaku-perilaku individu yang ada. Diantaranya adalah nilai-nilai sosial yang ada di sana. Di daerah Banyuwangi, tepatnya di Kecamatan Bangorejo Desa Ringintelu. Disana ada sistem sosial unik yang digunakan untuk mengendalikan perilaku individu. Sistem sosial disana mengajarkan kepada individu untuk memiliki kesadaran kolektif dalam hal apapun serta dalam kegiatan-kegiatan sosial apapun, misalnya kerja bakti mebersihkan jalan, selokan, maupun memperbaiki mushola. Disana setiap individu ditumbuhkan kesadaran kolektif untuk ikut aktif dalam kegiatan- kegiatan sosial[2]. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga integrasi warga agar tetap menjalin kehidupan kebersamaan. Orang tua anak kecil yang ada disana memiliki peran yang besar dalam membentuk kepribadian anak. Setiap anak memperoleh pendidikan sosial dari orang tuanya agar anaknya bisa hidup beradaptasi dengan lingkungan sosialnya.

Dalam kegiatan seperti kerja bakti bersih-bersih jalan maupun selokan. Setiap orang yang ada disana tidak perlu dipaksa untuk mengikuti kegiatan itu. Akan tetapi mereka memiliki kesadaran akan hal demikian. Sistem sosial yang tercipta secara abstrak itu telah merasuki pikiran warga yang ada disana. Mereka dengan otomatis bergerak mengikuti alur yang sifatnya eksternal diluar individu-individu yang ada. Ketika ada kegiatan-kegiatan yang sifatnya sosial, mereka tidak perlu disuruh untuk ikut serta dalam kegiatan itu. akan tetapi sistem sosial telah menggerakkan mereka dalam kesadaran kolektif.

Akan tetapi, apakah kesadaran kolektif yang ada itu benar-benar berasal dari individu-individu yang berada di dalam masyarakat. Ternyata sistem sosial yang ada di Desa Ringintelu adalah adanya semacam sanksi sosial yang akan menghukum setiap individu yang tidak mau mengikuti aturan nilai dan kebiasaan  yang ada. Setiap individu yang tidak mau mengikuti kegiatan-kegiatan seperti kerjabakti. Mereka dibiarkan oleh masyarakat yang ada disana, individu itu akan dengan otomatis memperoleh sanksi sosial dari masyarakat. Sanksi sosial itu berupa sikap pengucilan masyarakat terhadap individu yang membangkang seperti demikian. Pengucilan itulah yang akhirnya membuat individu merasa malu yang akhirnya membuat dia tidak mau meninggalkan kegiatan-kegiatan sosial masyarakat. Hal ini sudah cukup jelas bahwa individu disana dibentuk oleh kondisi sosial masyarakat.

Di daerah Banyuwangi ada budaya yang menarik. Mungkin budaya ini juga merupakan budaya yang sudah banyak dimiliki oleh daerah-daerah lain di luar Banyuwangi. Budaya ini adalah budaya mbecek[3]. Budaya mbecek ini adalah istilah yang dipakai oleh orang-orang Banyuwangi, khususnya bagi warga Banyuwangi yang berada di wilayah bagian selatan. Mbecek merupakan sebuah sebutan bagi warga Banyuwangi yang ingin menghadiri acara hajatan saudaranya. Misalnya adalah hajatan khitanan, pernikahan dan lain-lain. Budaya ini sudah sangat dikenal oleh masyarakat yang ada di Banyuwangi.

Jika itu dilihat dari sistem sosial yang ada. Di setiap daerah-daerah yang ada di Kabupaten Banyuwangi, memang hal itu telah dilakukan turun-temurun. Ada kemungkinan mereka melakukan itu seperti memang ada kesepakatan antar orang-perorang atau individu-individu untuk melakukan hal demikian. Hal itu bisa dikatakan sebagai sebuah wujud solidaritas sosial antar individu-individu yang ada di dalam masyarakat dalam membentuk sistem sosial. Sistem sosial-sistem sosial yang ada antar daerah-daerah yang ada itu pada akhirnya membentuk suatu rangkaian-rangkaian sistem sosial yang akhirnya membentuk sistem budaya yang ada di daerah Banyuwangi.

Sistem budaya mbecek yang ada di daerah Banyuwangi ini memang sudah merasuk dalam pemikiran masyarakat yang ada di Banyuwangi. Sehingga ini menjadi budaya yang unik tersendiri bagi warga Banyuwangi. Untuk bisa mengamati budaya mbecek  yang ada di Banyuwangi ini. Kita bisa mengamati perilaku-perilaku masyarakat yang ada di Banyuwangi, misalnya saja ketika ada acara hajatan warga. Seseorang yang memiliki hajatan biasanya memberikan undangan kepada sanak saudara maupun tetangga untuk menghadiri acara hajatannya. Biasanya istilah yang digunakan untuk undangan ini adalah nonjok[4]. Nonjok ini merupakan undangan yang biasanya berupa kotak nasi. Seseorang yang mendapat undangan ini pada nantinya akan menghadiri acara hajatan orang yang mengundang. Dan uniknya, ini merupakan budaya orang yang ada di Banyuwangi yaitu orang yang datang dalam acara hajatan itu membawa amplop yang berisi uang untuk diberikan kepada keluarga yang sedang melakukan hajatan itu. Padahal, orang yang mengundang itu tidak meminta untuk disumbang. Namun hal ini selalu dilakukan oleh masyarakat. Dan pada giliranya nanti, orang yang saat ini memberi amplop berisi uang saat ini juga akan memeroleh hal yang sama ketika dia hajatan. Dan hal ini terus turun-temurun menjadi budaya bagi masyarakat Banyuwangi.

Selain adanya budaya nonjok dan mbecek tersebut. Di daerah Banyuwangi juga ada budaya unik lainnya. Yaitu adanya budaya rewang[5]. Budaya rewang ini merupakan kegiatan yang masih berkaitan dengan acara hajatan warga yang ada di Banyuwangi. Rewang ini merupakan kegiatan membantu tetangga atau sanak keluarga yang sedang melakukan hajatan. Mereka yang datang untuk membantu ini tanpa disuruh oleh orang yang sedang hajatan. Artinya, mereka datang atas dasar sukarela. Inilah yang mungkin bisa dikatakan sebagai kesadaran kolektif yang ada di dalam masyarakat. Mereka datang dan digerakkan atas dasar kesadaran kolektif yang berada diluar dirinya untuk ikut berpartisipasi dalam acara hajatan. Mereka lebih memperhatikan solidaritas sosial dari pada kepentingan pribadi.

Jika kita renungkan, ternyata di Indonesia itu memiliki berbagai macam budaya yang unik dan beraneka ragam. Dalam tulisan ini tadi telah diberikan salah satu contoh mengenai budaya yang ada di daerah Banyuwangi. Sebenarnya masih ada contoh budaya lain yang ada di Banyuwangi, yaitu budaya ater-ater[6]. Ater-ater merupakan kegiatan yang dilakukan oleh seseorang yang sedang hajatan, syukuran maupun selamatan dengan cara memberi makanan kepada tetangga-tetangga ataupun sanak saudara. Budaya ater-ater ini merupakan budaya yang ada di Banyuwangi, khususnya di daerah Banyuwangi yang ada di wilayah pedesaan di bagian Banyuwangi selatan. Mengapa ater-ater dalam hal ini dikatakan oleh penulis sebagai sebuah budaya. Karena ater-ater ini merupakan suatu kegiatan yang sering dilakukan oleh warga di daerah Banyuwangi bagian selatan dan sudah menjadi bagian dari kegitan rutin warga yang sedang melakukan hajatan.

Kegiatan seperti ater-ater ini merupakan kegiatan yang cukup menarik. Karena orang yang memberi makanan pada tetangga atau sanak keluarga yang pada nantinya juga akan mendapat pemberian dari tetangga yang pada saat ini diberi makanan. Uniknya adalah kegiatan ini terjadi secara otomatis tanpa adanya perintah dari pihak-pihak tertentu. Kegiatan ini berjalan secara alami di dalam masyarakat. Artinya kegiatan seperti ini sudah merasuk dalam pemikiran warga yang ada di daerah Banyuwangi selatan.

Setelah melihat beberapa budaya yang ada tersebut. Memang ada kaitannya antara budaya yang ada di dalam masyarakat dengan sistem sosial yang dibangun di dalam masyarakat. Sebuah budaya yang ada di dalam masyarakat di daerah Banyuwangi yang khususnya di daerah Banyuwangi selatan dapat dilihat melalui aktivitas-aktivitas atau kegiatan-kegiatan sosial yang ada. Kegiatan-kegiatan sosial itu ternyata membentuk sebuah sistem sosial yang menggerakkan individu-individu yang ada di dalam masyarakat. Ketika individu-individu yang berada dalam lingkup sosial itu membentuk sistem sosial yang berdasar pada nilai atau norma di dalam masyarakat. Maka individu yang berada di dalam sistem sosial itu menjadi cerminan bagi lingkup sosial masyarakat tersebut. Pada nantinya individu menjadi produk sosial yang ada di dalam masyarakat itu.

Dalam kaitannya dengan sistem budaya yang ada. Pada akhirnya ketika sistem sosial yang ada di dalam masyarakat membentuk sebuah sistem budaya. Sistem budaya yang ada itu bersifat abstrak dan mempengaruhi pola pikir individu-individu di dalamnya. Jika budaya orang Banyuwangi dikatakan memiliki sikap ramah terhadap orang lain. Hal itu karena memang lingkungan sosial yang membentuk individu-individu di dalam lingkungan sosial masyarakat Banyuwangi mengajarkan sikap ramah terhadap orang lain. Jika orang jawa memiliki sikap ramah terhadap orang lain, itu karena memang sistem sosial orang jawa yang mengajarkan kepada individu-individu suku jawa untuk bersikap ramah kepada orang lain. Dari berbagai sistem sosial orang Banyuwangi maupun orang jawa yang mengajarkan kepada setiap individu untuk bersikap ramah kepada orang lain. Maka sistem sosial itu akan menjadi sebuah budaya bahwa orang Banyuwangi maupun orang  jawa, yaitu dengan memiliki budaya bersikap ramah terhadap orang lain.

Jika dianalisis lebih dalam dari berbagai contoh yang ada diatas. Memang ternyata ada kaitannya antara sistem sosial yang membentuk individu dengan sistem budaya yang ada. Bisa disimpulkan bahwa untuk mempertahankan sistem budaya yang ada di lingkungan masyarakat tertentu, misalnya saja di dalam sistem budaya masyarakat Banyuwangi. Maka sistem sosial yang ada di dalam masyarakat itu haruslah masih berkorelasi dengan sistem budaya yang ada. Dapat dikatakan bahwa sistem budaya merupakan lingkup yang lebih luas dibandingkan dengan sistem sosial. Sistem budaya merupakan wadah bagi sistem sosial, dan sistem sosial merupakan konkritisasi dari sistem budaya, yang mana dia memiliki fungsi untuk membentuk karakter individu-individu agar memiliki sikap yang bisa mencerminkan budaya yang dianut di dalam masyarakat itu.

Indonesia merupakan negara yang memiliki budaya ramah. Dapat disimpulkan bahwa sikap ramah itu dapat tercipta karena sistem sosial yang ada di dalam masyarakat Indonesia mengajarkan kepada individu-individu untuk bersikap ramah. Sebagai warga Indonesia, kita patut bangga dengan budaya yang ada di Indonesia. Wilayah Indonesia memiliki budaya yang beraneka ragam, akan tetapi Indonesia masih tetap mampu terintegrasi dengan baik. Dapat dikatakan bahwa Indonesia merupakan negara yang hebat, karena Indonesia memiliki solidaritas yang sangat kuat meskipun memiliki berbagai perbedaan yang ada.


[1] Penulis menggunakan daerah Banyuwangi sebagai contoh adanya keterkaitan antara sistem sosial dan sistem budaya masyarakat.

[2] Kesadaran kolektif merupakan kesadaran yang tumbuh atas dasar kebersamaan, biasanya kesadaran kolektif ini banyak dimiliki oleh masyarakat desa.

[3] Penulis mengartikan Mbecek sebagai kegiatan menghadiri undangan tetangga atau sanak saudara yang sedang hajatan.

[4] Nonjok juga merupakan budaya orang Banyuwangi. Dalam bahasa Indonesia, istilah nonjok ini bisa dikatakan sebagai undangan dalam acara hajatan.

[5] Budaya rewang merupakan budaya untuk membantu tetangga yang sedang melakukan hajatan dengan sukarela.

[6] Ater- ater merupakan kegiatan yang dilakukan oleh orang yang sedang hajatan dengan memberikan makanan kepada sanak atau tetangga.

Categories: Sistem Sosial Budaya Indonesia | Tinggalkan komentar

RISET ORGANISASI KOMUNITAS MOTOR DI DESA SIDOMULYO

RISET ORGANISASI KOMUNITAS MOTOR DI DESA SIDOMULYO

KOMUNITAS ANAK MOTOR SIDOMULYO

Oleh Tri Mahendra[1]

 WP_20130922_095 cams

   

Foto: Wawancara dengan Mas Riko (kiri), ditemui peneliti di tempat kerjanya dan logo CAMS (kanan)

Sumber:

Foto diambil peneliti saat riset, sedangkan logo CAMS diambil dari grup FB CAMS:https://www.facebook.com/photo.php?fbid=455856124504028&set=gm.327307260732589&type=1&theater

 

Latar Belakang

Komunitas Anak Motor Sidomulyo atau yang lebih dikenal dengan sebutan CAMS adalah sebuah organisasi komunitas motor yang dibentuk oleh para pemuda tani kopi yang ada di Desa Sidomulyo. Berawal dari sebuah acara kumpul-kumpul yang sering dilakukan oleh para pemuda tani kopi tersebut, kemudian mereka memiliki ide untuk membuat sebuah komunitas pemuda yang berbasis pada motor yang bergerak di bidang sosial. CAMS yang didirikan pada bulan Mei 2013 oleh para pemuda tani kopi di Desa Sidomulyo tersebut ternyata mendapatkan banyak sorotan, baik dari warga desa setempat maupun para aparatur desa.  

Pada dasarnya CAMS dibentuk berdasarkan atas sebuah rasa kebersamaan pemuda tani kopi yang ada di Desa Sidomulyo. Memang pada awalnya pemuda yang ada di Desa Sidomulyo terkenal sebagai pemuda yang suka mabuk minum-minuman keras. Karena kondisi tersebutlah akhirnya stigma negatif tersirat pada pemuda Desa Sidomulyo. Meski pemuda yang saat ini tergabung dalam CAMS adalah pemuda yang telah berhenti minum-minuman keras. Namun stigma masih terasa menempel pada pemuda di desa Sidomulyo ini.         

Menghadapi kondisi demikian tersebut tak lantas membuat pemuda yang ada di Desa Sidomulyo menjadi pesimis ketika mereka berbaur dalam masyarakat luas. CAMS saat ini menjadi basis bagi pemuda Desa Sidomulyo untuk belajar dan mengubah pandangan masyarakat atas stigma negatif bahwa pemuda di Desa Sidomulyo adalah pemuda yang suka minum-minuman keras. Terbukti dengan dibentuknya CAMS ternyata mereka melakukan sebuah tindakan yang berlawanan dengan asumsi masyarakat. Dimana pada awalnya masyarakat melihat pemuda Desa Sidomulyo terkenal dengan pemabuk minuman keras, kini masyarakat Desa Sidomulyo disuguhkan dengan adanya CAMS yang bergerak untuk menangani masalah mabuk-mabukan minuman keras.

Rumusan Masalah

            Akibat adanya stigma negatif pada pemuda tani kopi Desa Sidomulyo oleh  masyarakat ini ternyata mendapatkan respon dari para pemuda dengan membentuk sebuah organisasi yang berupa komunitas motor sebagai wadah bagi mereka untuk mengekspresikan diri. Permasalahan yang akan diteliti disini adalah:

  1. Mengapa pemuda tani desa Sidomulyo membentuk CAMS?
  2. Bagaimana CAMS dapat eksis ditengah stigma negatif masyarakat?
  3. Bagaimana respon masyarakat terhadap terbentuknya CAMS?

Pembahasan

            Riset ini dilakukan secara langsung dua kali, yaitu  pada hari Jumat tanggal 13 September 2013 pukul 19.30 – 21.30 WIB dan hari Minggu tanggal 22 September 2013 pukul 16.00-19.00 WIB di Desa Sidomulyo Kecamatan Silo Kabupaten Jember. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan wawancara pada ketua CAMS dirumahnya yang terletak di Dusun Krajan. Wawancara juga dilakukan pada salah satu anggota CAMS yang berasal dari divisi lapangan. Dalam penelitian ini peneliti mecoba menggali data tentang sejarah didirikannya CAMS serta apa yang menjadi tujuan mereka kedepannya. Yang menjadi kesulitan dalam penelitian ini adalah waktu penelitian. Karena narasumber hanya akan ada bila malam hari. Karena di siang hari mereka harus pergi ke kebun untuk merawat tanaman kopi.

Sebagai pemuda tani kopi yang selalu sibuk merawat tanaman kopi pada siang hari. Tentu malam hari adalah saat yang tepat untuk mereka berkumpul dengan anggota mereka sekaligus sebagai pelepas penat setelah seharian berada di kebun. Acara cangkruan tentu menjadi acara mereka dimalam hari untuk sekedar berdiskusi sembari merencanakan kegiatan apa yang akan dilakukan di CAMS. Pada dasarnya komunitas motor yang ada di CAMS tidak berbeda dengan beberapa komunitas motor lain yang ada. Mereka memiliki kegiatan touring, kumpul-kumpul untuk berdiskusi soal motor maupun kegiatan aksi sosial seperti bakti sosial. Namun ada juga yang berbeda pada komunitas motor ini adalah motor yang mereka pakai. Karena hingga saat ini di CAMS tidak ada jenis motor yang sama yang menjadi basis sebuah komunitas motor. Seperti di daerah Kalibaru, disana terdapat komunitas motor FIZ R, komunitas motor Satria FU, atau juga di wilayah Sempolan disana ada sebuah komunitas motor RX King. Memang pada dasarnya kebanyakan komunitas motor memiliki identitas yang sama pada jenis atau merek motor yang mereka pakai. Sehingga mereka terlihat jelas apakah jenis dan merek motor yang menjadi basis dari komunitas motor. Namun di CAMS sendiri masih memakai jenis ataupun merek motor yang berbeda. Ada yang memakai motor Honda Blade, Tiger, Mega Pro, ada juga yang memakai motor Yamaha Vixion. Dengan motor yang berbeda ini, ternyata mereka mengalami kesulitan saat akan mengurus surat resmi tentang dibentuknya CAMS di Desa Sidomulyo ini. Karena di Polres Jember ada sebuah aturan bila komunitas motor harusnya memiliki kendaraan yang sama. Kondisi ini tak lantas membuat para anggota CAMS ini menjadi tidak semangat. Walau kadangkala mereka juga pesimis melihat komunitas motor yang didalamnya terdapat orang-orang kelas atas. Misalnya saja komunitas Ninja, Komunitas Moge, dan lain sebagainya. Namun dengan tetap semangat mereka terus setia pada CAMS yang telah mereka bentuk.

Pemuda tani kopi yang tergabung dalam CAMS berasal dari para pemuda yang bisa dikatakan masih minim pengalaman organisasi. Namun di CAMS mereka telah berhasil membuat struktur organisasi. Di CAMS sendiri terdapat Ketua, Sekretaris, bendahara serta Rider Elit. Rider elit disini fungsinya sebagai delegasi touring jarak jauh yang diutus oleh ketua CAMS. Jumlah CAMS saat ini ada 29 orang. Dan mereka mayoritas berasal dari para pamuda tani kopi. Walau ada juga dari mereka yang tidak bertani kopi. Namun jumlahnya hanya satu atau dua orang saja.

Berbeda dengan organisasi pada umumnya, dalam organisasi CAMS ini posisi ketua hanya sebagai seorang tokoh yang sangat dihormati oleh anggotanya. Sedangkan intelektualnya adalah anggota yang berasal dari divisi lapang yang selalu banyak ide untuk melakukan kegiatan. Misalnya untuk kegiatan touring, maupun pertemuan dengan komunitas motor lain untuk sekedar bertukar stiker maupun menambah jaringan sosial. Untuk mengadakan sebuah pertemuan atau dalam bahasa mereka disebut kumpulan, ada dua jenis pertemuan yang mereka lakukan dalam tiap minggu. Ada yang sifatnya formal dan ada yang sifatnya nonformal. Kegiatan formal yang mereka lakukan misalnya dengan melakukan kegiatan arisan tiap malam minggu antar rumah-kerumah anggota. Sebagian dari arisan tersebut kemudian dijadikan sebagai uang kas untuk pelaksaan kegiatan CAMS. Untuk kegiatan yang nonformal biasanya mereka mengadakan pertemuan di “Gapura Selamat Datang di Kabupaten Jember” yang terdapat di wilayah pegunungan gumitir. Setelah mereka melakukan pertemuan biasanya mereka melakukan touring ke wilayah Banyuwangi atau ke wilayah alun-alun Kabupaten Jember. Inilah yang menjadi aktivitas mereka dalam tiap minggunya.

Sebagai komunitas motor yang baru berdiri, memang belum banyak pengalaman kegiatan yang telah mereka lakukan. Mereka harus memiliki kreatifitas untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar mereka agar diterima dengan baik oleh masyarakat sekitanrnya. Sebagai wujud keseriusan mereka dalam membangun sebuah komunitas, mereka telah berhasil mengadakan kegiatan mingguan secara rutin serta berbagai kegiatan touring.Yang menarik dalam kegiatan touring CAMS ini adalah dibaginya CAMS menjadi dua macam kegiatan touring. Kegiatan touring pada umumnya dilakukan secara bersama-sama dengan seluruh anggotanya. Namun di CAMS ada semacam kegiatan touring yang hanya diikuti oleh 5 orang saja yang berasal dari delegasi anggota CAMS. Mereka berlima ini disebut rider elite oleh CAMS. Mereka yang berjumlah 5 orang ini akan mendapatkan perintah dari ketua untuk melakukan touring ke suatu tempat.

Dalam touring rider elit, mereka berusaha untuk memperluas jaringan dengan tukar-menukar stiker identitas antar komunitas motor satu dengan komunitas motor yang lain. Tujuan dilakukannya kegiatan ini adalah untuk membesarkan nama CAMS agar dikenal oleh komunitas-komunitas motor lain. Selain kegiatan touring, di CAMS ini  juga selalu melakukan kegiatan rekruitmen anggota CAMS. Yang menarik dari CAMS ini adalah setiap orang yang mau masuk menjadi anggota CAMS adalah dia harus bukan peminum menuman keras. Gunanya adalah tentu sebagai aksi mereka untuk mengubah pandangan masyarakat atas stigma bahwa mereka sebagai pemabuk minum-minuman keras. Jika ada orang yang mau bergabung dengan CAMS ternyata memang peminum minuman keras, maka mereka harus mau berhenti menjadi peminum minuman keras.Serta jika dia sudah anggota CAMS, maka keluarganya atas sahabatnya juga harus dipastikan bebas dari minuman keras. Dalam komunitas ini anggota baru harus siap untuk melakukan kegiatan pemberantasan peminum-minuman keras serta masalah sosial yang lainnya. Seperti yang dikatakan oleh Mas Riko saat diwawancarai. Beliau memberikan pernyataan sebagai berikut:

“Dulu itu masih banyak yang mabuk, tapi kalau sekarang sudah enggak. Kalau untuk persepsi masyarakat sini tentang pemuda sudah biasa lah. Kalo dulu pie yo, disini disitu, mau main disini disitu wes paling yo mabuk. Tapi kalo mabuk tidak disini, tapi diluar sana. Kalo dulu memang parah, kalo sekarang sudah enggak.”

Memang apa yang telah dilakukan oleh para pemuda CAMS sedikit atau banyak tentu akan membawa perubahan bagi pemuda di desanya. Setidaknya dengan berdirinya CAMS ini akan membuat citra pemuda yang ada di Desa Sidomulyo semakin baik. Karena inilah yang menjadi cita-cita dari pemuda yang tergabung di dalam CAMS.

Narasumber Riset:

Mas Usman, sebagai ketua CAMS

Mas Riko, sebagai divisi lapangan


[1] Tri Mahendra adalah Mahasiswa Program studi Sosiologi FISIP Universitas Jember. NIM 100910302032. (tugas mata kuliah sosiologi organisasi)

Categories: Sosiologi, Sosiologi Organisasi | Tinggalkan komentar

Latar Belakang Proposal Penelitian CAMS

KOMUNITAS ANAK MOTOR SIDOMULYO

Oleh Tri Mahendra

Latar Belakang

Desa Sidomulyo merupakan sebuah desa yang terdapat wilayah paling timur Kabupaten Jember yang tepatnya di Kecamatan Silo. Mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani kopi. Walau Desa Sidomulyo terletak di dalam area pegunungan yang jauh dari keramaian, namun desa ini ternyata terdapat beberapa komunitas yang aktif dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakat, diantaranya adalah kelompok Pemuda Tani (PETA), komunitas Ibu-Ibu PKK, komunitas pengajian arisan, remaja masjid, dan juga KAMS. Keberadaan komunitas-komunitas inilah yang mungkin menjadi penguat kelembagaan Desa Sidomulyo. Diantara komunitas-komunitas yang ada di desa tersebut. Ada sebuah komunitas yang mungkin terlihat mencolok dibandingkan dengan komunitas yang pada umumnya ada di desa. Komunitas tersebut adalah komunitas anak motor yang biasanya warga setempat menyebut mereka sebagai geng motor. Karena Komunitas Anak Motor Sidomulyo ini berbeda dengan komunitas pada umumnya yang ada di desa. Tentu dibutuhkan model adaptasi yang kreatif agar mereka dapat eksis serta diterima di dalam masyarakat.

Komunitas Anak Motor Sidomulyo atau yang lebih dikenal dengan sebutan KAMS adalah sebuah komunitas motor yang dibentuk oleh para pemuda tani kopi yang ada di Desa Sidomulyo. Berawal dari sebuah acara kumpul-kumpul yang sering dilakukan oleh para pemuda tani kopi tersebut, kemudian mereka memiliki ide untuk membuat sebuah komunitas pemuda yang berbasis pada motor yang bergerak di bidang sosial. KAMS yang didirikan pada bulan Juni 2013 oleh para pemuda tani kopi di Desa Sidomulyo tersebut ternyata mendapatkan banyak sorotan, baik dari warga desa setempat maupun para aparatur desa. Pada dasarnya KAMS dibentuk berdasarkan atas sebuah rasa kebersamaan pemuda tani kopi yang ada di Desa Sidomulyo. Memang pada awalnya pemuda yang ada di Desa Sidomulyo terkenal sebagai pemuda yang suka mabuk minum-minuman keras. Karena kondisi tersebutlah akhirnya stigma negatif tersirat pada pemuda Desa Sidomulyo. Meski pemuda yang saat ini tergabung dalam KAMS adalah pemuda yang telah berhenti minum-minuman keras. Namun stigma masih terasa menempel pada pemuda di desa Sidomulyo ini. Untuk itu diperlukan model adaptasi sebuah komunitas yang baik agar dalam menjalankan kegiatan KAMS mereka dapat terus berjalan. Stigama negatif atas pemuda Desa Sidomulyo ternyata telah meluas hingga ke desa lain seperti Desa Garahan yang lokasinya berada dibarat Desa Sidomulyo. Menghadapi kondisi demikian tersebut tak lantas membuat pemuda yang ada di Desa Sidomulyo menjadi pesimis ketika mereka berbaur dalam masyarakat luas. KAMS saat ini menjadi basis bagi pemuda Desa Sidomulyo untuk belajar dan mengubah pandangan masyarakat atas stigma negatif bahwa pemuda di Desa Sidomulyo adalah pemuda yang suka minum-minuman keras. Terbukti dengan dibentuknya KAMS ternyata mereka melakukan sebuah tindakan yang berlawanan dengan asumsi masyarakat. Dimana pada awalnya masyarakat melihat pemuda Desa Sidomulyo terkenal dengan pemabuk minuman keras, kini masyarakat Desa Sidomulyo disuguhkan dengan adanya KAMS yang bergerak untuk menangani masalah mabuk-mabukan minuman keras. Setelah berita terbentuknya KAMS di Desa Sidomulyo terdengar aparatur desa. Ternyata mereka mendapatkan apresiasi yang besar dari Bapak Kepala Desa. Tidak hanya apresiasi, namun mereka secara khusus juga mendapatkan binaan dari desa. Mereka dimintai kerja sama oleh Bapak Kepala Desa untuk ikut serta dalam kegiatan pengamanan desa dari berbagai masalah sosial.

Setelah KAMS terbentuk, ternyata bukan KAMS yang menjadi sebutan Komunitas Anak Motor Sidomulyo oleh masyarakat. Masyarakat menyebut KAMS sebagai geng motor. Walau istilah geng motor lebih pada makna yang negatif. Namun KAMS tetap merasa senang dan terus berkarya untuk membangun pemuda desa yang lebih baik lagi. Walau mereka disebut geng motor, namun anggota mereka juga aktif dalam kegiatan kemasyarakatan atau keagaman yang ada di Desa Sidomulyo. Inilah yang menjadi basis kepercayaan masyarakat pada para pemuda yang ada di desa mereka. Geng motor yang ada di Desa Sidomulyo ini adalah geng motor yang baik yang aktif dalam kegiatan sosial masyarakat.

Latar belakang dari pemuda yang tergabung dalam KAMS sebenarnya bukanlah orang-orang yang memiliki pengalaman organisasi yang cukup banyak, dan juga bukan dari mereka yang memiliki modal besar serta pendidikan yang tinggi. Namun mayoritas dari mereka adalah para pemuda tani kopi yang setiap harinya disiang hari selalu berada di kebun kopi. Dan hanya pada waktu malam hari saja mereka dapat melakukan kegiatan berkumpul dengan para anggotanya. Tentu model adaptasi serta model mereka berorganisasi berbeda dengan komunitas motor lainnya yang telah memiliki banyak pengalaman. Sebagai petani kopi, tentu membentuk sebuah komunitas motor ini adalah tindakan yang menarik untuk dikaji. Karena pada umumnya mereka yang bertani kopi akan bergabung dalam komunitas petani kopi.

Sebagai pemuda tani kopi yang selalu sibuk merawat tanaman kopi pada siang hari. Tentu malam hari adalah saat yang tepat untuk mereka berkumpul dengan anggota mereka sekaligus sebagai pelepas penat setelah seharian berada di kebun. Acara cangkruan tentu menjadi acara mereka dimalam hari untuk sekedar berdiskusi sembari merencanakan kegiatan apa yang akan dilakukan di KAMS. Pada dasarnya komunitas motor yang ada di KAMS tidak berbeda dengan beberapa komunitas motor lain yang ada. Mereka memiliki kegiatan touring, kumpul-kumpul untuk berdiskusi soal motor maupun kegiatan aksi sosial seperti bakti sosial. Namun ada juga yang berbeda pada komunitas motor ini adalah motor yang mereka pakai. Karena hingga saat ini di KAMS tidak ada jenis motor yang sama yang menjadi basis sebuah komunitas motor. Seperti di daerah Kalibaru, disana terdapat komunitas motor FIZ R, komunitas motor Satria FU, atau juga di wilayah Sempolan disana ada sebuah komunitas motor RX King. Memang pada dasarnya kebanyakan komunitas motor memiliki identitas yang sama pada jenis atau merek motor yang mereka pakai. Sehingga mereka terlihat jelas apakah jenis dan merek motor yang menjadi basis dari komunitas motor. Namun di KAMS sendiri masih memakai jenis ataupun merek motor yang berbeda. Ada yang memakai motor Honda Blade, Tiger, Mega Pro, ada juga yang memakai motor Yamaha Vixion. Dengan motor yang berbeda ini, ternyata mereka mengalami kesulitan saat akan mengurus surat resmi tentang dibentuknya KAMS di Desa Sidomulyo ini. Karena di Polres Jember ada sebuah aturan bila komunitas motor harusnya memiliki kendaraan yang sama. Kondisi ini tak lantas membuat para anggota KAMS ini menjadi tidak semangat. Walau kadangkala mereka juga pesimis melihat komunitas motor yang didalamnya terdapat orang-orang kelas atas. Misalnya saja komunitas Ninja, Komunitas Moge, dan lain sebagainya. Namun dengan tetap semangat mereka terus setia pada KAMS yang telah mereka bentuk.

Pemuda tani kopi yang tergabung dalam KAMS berasal dari para pemuda yang bisa dikatakan masih minim pengalaman organisasi. Namun di KAMS mereka telah berhasil membuat struktur organisasi. Di KAMS sendiri terdapat Ketua, Sekretaris, bendahara serta Rider Elit. Rider elit disini fungsinya sebagai delegasi touring jarak jauh yang diutus oleh ketua KAMS. Jumlah KAMS saat ini ada 29 orang. Dan mereka mayoritas berasal dari para pamuda tani kopi. Walau ada juga dari mereka yang tidak bertani kopi. Namun jumlahnya hanya satu atau dua orang saja.

Berbeda dengan organisasi pada umumnya, dalam organisasi KAMS ini posisi ketua hanya sebagai seorang tokoh yang sangat dihormati oleh anggotanya. Sedangkan intelektualnya adalah anggota yang berasal dari divisi lapang yang selalu banyak ide untuk melakukan kegiatan. Misalnya untuk kegiatan touring, maupun pertemuan dengan komunitas motor lain untuk sekedar bertukar stiker maupun menambah jaringan sosial. Untuk mengadakan sebuah pertemuan atau dalam bahasa mereka disebut kumpulan, ada dua jenis pertemuan yang mereka lakukan dalam tiap minggu. Ada yang sifatnya formal dan ada yang sifatnya nonformal. Kegiatan formal yang mereka lakukan misalnya dengan melakukan kegiatan arisan tiap malam minggu antar rumah-kerumah anggota. Sebagian dari arisan tersebut kemudian dijadikan sebagai uang kas untuk pelaksaan kegiatan KAMS. Untuk kegiatan yang nonformal biasanya mereka mengadakan pertemuan di “Gapura Selamat Datang di Kabupaten Jember” yang terdapat di wilayah pegunungan gumitir. Setelah mereka melakukan pertemuan biasanya mereka melakukan touring ke wilayah Banyuwangi atau ke wilayah alun-alun Kabupaten Jember. Inilah yang menjadi aktivitas mereka dalam tiap minggunya.

Sebagai komunitas motor yang baru berdiri, memang belum banyak pengalaman kegiatan yang telah mereka lakukan. Mereka harus memiliki kreatifitas untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar mereka agar diterima dengan baik oleh masyarakat sekitanrnya. Sebagai wujud keseriusan mereka dalam membangun sebuah komunitas, mereka telah berhasil mengadakan kegiatan mingguan secara rutin serta berbagai kegiatan touring.Yang menarik dalam kegiatan touring KAMS ini adalah dibaginya KAMS menjadi dua macam kegiatan touring. Kegiatan touring pada umumnya dilakukan secara bersama-sama dengan seluruh anggotanya. Namun di KAMS ada semacam kegiatan touring yang hanya diikuti oleh 5 orang saja yang berasal dari delegasi anggota KAMS. Mereka berlima ini disebut rider elite oleh KAMS. Mereka yang berjumlah 5 orang ini akan mendapatkan perintah dari ketua untuk melakukan touring ke suatu tempat.

Dalam touring rider elit, mereka berusaha untuk memperluas jaringan dengan tukar-menukar stiker identitas antar komunitas motor satu dengan komunitas motor yang lain. Tujuan dilakukannya kegiatan ini adalah untuk membesarkan nama KAMS agar dikenal oleh komunitas-komunitas motor lain. Selain kegiatan touring, di KAMS ini  juga selalu melakukan kegiatan rekruitmen anggota KAMS. Yang menarik dari KAMS ini adalah setiap orang yang mau masuk menjadi anggota KAMS adalah dia harus bukan peminum menuman keras. Gunanya adalah tentu sebagai aksi mereka untuk mengubah pandangan masyarakat atas stigma bahwa mereka sebagai pemabuk minum-minuman keras. Jika ada orang yang mau bergabung dengan KAMS ternyata memang peminum minuman keras, maka mereka harus mau berhenti menjadi peminum minuman keras.Serta jika dia sudah anggota KAMS, maka keluarganya atas sahabatnya juga harus dipastikan bebas dari minuman keras. Dalam komunitas ini anggota baru harus siap untuk melakukan kegiatan pemberantasan peminum-minuman keras serta masalah sosial yang lainnya.

Dari latar belakang yang ada diatas, peneliti ingin mengetahui lebih mendalam mengenai model adaptasi komunitas yang dikembangkan oleh pemuda Desa Sidomulyo dalam wadah komunitas yang bernama Komunitas Anak Motor Sidomulyo atau KAMS.

Categories: Sosiologi, Sosiologi Organisasi | Tinggalkan komentar

Categories: Filsafat | Tinggalkan komentar

PEMIKIRAN THEODOR WIESENGRUND ADORNO

PEMIKIRAN THEODOR WIESENGRUND ADORNO

Tri Mahendra

NIM 100910302032

Program Studi Sosiologi

Sosiologi Kritik

Biografi Theodor Wiesengrund Adorno (1903-1969)
Theodor W. Adorno lahir di Frankfrut pada 11 September 1903. Dia adalah seorang keturunan yahudi yang diliputi oleh suasana musik. Sejak belia dia sudah belajar musik, kemudian dia belajar sosiologi, filsafat, dan musik di Universitas asalnya. Selama kuliah dia kenal dan akrab dengan Hokheimer. Mereka adalah sahabat dekat yang akhirnya menjalin hubungan kerjasama dalam bidang intelektual. Adorno mendapatkan gelar doktor filsafat dengan mempertahankan disertasinya tentang fenomenologi Husserl. Ia juga selalu aktif dalam menulis tentang sosiologi musik pada artikel di majalah untuk penelitian musik.
Ketika tahun 1934, Adorno hijrah dari Inggris ke AS. Bersama dengan Hokheimer dia disana menulis buku tentang “dialektika pencerahan”, tepatnya ada tahun 1947. Kemudian pada 1949 dia ke Jerman untuk mendirikan institut penelitian sosial bersama sahabatnya Hokheimer. Disinilah dia memperoleh gelar profesor. Setelah kepemimpinan Hokheimer di institut ini, Adornolah yang menggantikan posisi Hokheimer sebagai direktur hingga Hokheimer meninggal, yaitu tanggal 06 Agustus 1969.
Sebagai seornag penulis, Adorno dikenal sebagai penulis yang sangat luas. karya yang pernah ditulisnya antara lain adalah “Filsafat tentang musik modern” (1949), “pengantar sosiologi musik” (1962), “dialektika negatif (1966)”. Kebanyakan karya Adorno tersebut diterbitkan dalam bahasa Jerman. Karyanya yang paling terkenal adalah “The Authoritarian Personality” (1950).

Negasi Dialektika Pencerahan
Pada umumnya apa yang menjadi pemikiran Adorno memiliki kesamaan dengan tradisi marxisme dan idealisme di Jeman. Namun demikian, tidak selamanya apa yang menjadi pemikiran Adorno semurni seperti apa yang ada pada tradisi marxisme dan idealisme. Adorno mengkritik aas identitas sebagai basis atas idealisme. Seperti yang telah diketahui bila idealisme pada era Plato dan Hegel lebih menekankan pada realitas dan pengertian atas realitas. Adorno justru melakukan yang sebaliknya. Bagi Adorno, yang terpenting adalah menemukan kontradiksi nonidentitas. Inilah yang dimaksudkan oleh Adorno sebagai dialketika negatif yang menjadi inti sistem. Titik sentral yang dia bidik adalah rasionalitas. Adorno mempertahankan ide tentang pencerahan, karena di dalam pencerahan terdapat sebuah emansipasi atau pembebasan. Namun disini Adorno menambahnya dengan rasionalitas.
Adorno memiliki pandangan yang berbeda dari Hegel. Dimana Hegel mengklaim dialketis melalui “negasi dari negasi”. Disini Adorno mengusulkan tentang adanya prinsip “dialektika negatif”. Dimana ia menolak segala bentuk jenis pembenaran atau positivisme. Bagi Adorno, dialektika negatif itu nonindentitas. Meskipun konsep nonidentitas ini penting, Adorno juga mengungkapkan bila tidak ada pemikiran yang dapat mengungkapkan nonidentitas ini. Pemikiran identitas ini hanya bisa memikirkan kontradiksi sebagai sesuatu yang murni. yaitu sebagai identitias yag lain. Lalu bagaimana konteks nonidentitas ini bisa memberikan bekas pada pemikiran. Hal itu bisa dilakukan dengan cara menggunakan berbagai pembalikan. Adorno mengakui bahwa pada prinsipnya filsafat akan selalu terjebak pada jalan yang sesat. Namun itulah yang membuat filsafat akan terus bergerak kearah yang lebih maju. Oleh karena itulah filsafat adalah dialektika negatif dalam pengetiannya yang paling kuat. Dia adalah nonidentitas yang ingin dikonseptualisasikannya. Dalam mengkonseptualisasikan sesuatu, maka yang dibutuhkan adalah bahasa. Karena bahasa akan setara dengan tampilnya” ketidakbebasan”. Filsafat adalah seperti halnya ketidakmungkinan untuk mengkonseptualisasikan nonidentitas ini. bila bahasa kemudian tidak penting lagi di dalam filsafat, maka bahasa ini akan mirip dengan ilmu.
Dengan kritik radikal yang dilancarkan oleh Adorno atas pemikiran masa pencerahan yang dinaungi oleh adanya rasionalitas. Teori-teori kemjuan yang dikembangkan tak lain hanyalah berasal dari pertetangan satu sama lain. sejarah telah dipandang sebagai pembebasan manusia dari cengkeraman alam. Pada saat itulah manusia berusaha untuk membebaskan dari dominasi alam. Akhirnya manusia terbebas dari ketergantungan dengan alam. Jika manusia telah mendapatkan kebebasan dari cengkeraman alam, maka pada hakikatnya manusia telah mendapatkan kebebasan secara penuh. Akan tetapi yang perlu diingat adalah bahwa proses kemajuan yang diperoleh oleh manusia tak pernah lepas dari kemundurannya. Karena kemajuan yang dilontarkan manusia dengan menghancurkan alam adalah kemajuan yang menuju kemunduran. Dalam hal ini, Adorno melihat bila substansi dialektika yang berkembang adalah penguasaan, sama dengan prinsip rasionalitas.
Ketika manusia telah berhasil mentakhlukkan alam dengan rasionalitasnya. Disini Adorno melihat teknologi yang dibuat oleh manusia adalah manifestasi dari rasionalitas. Teknologi digunakan oleh manusia untuk membebaskan manusia dari dominasi alam. Namun pada akhirnya, ternyata manusialah yang akan di dominasi oleh teknologi yang dibuatnya sendiri. Manusia menjadi diperbudak oleh teknologi. Disini terlihat bahwa terjadi sebuah pembalikan dari subyek ke objek. Pembalikan inilah yang menjadi problem bagi Adorno. Hilangnya kebebasan manusia sebagai bentuk pembalikan disebut sebagai negatifitas total.
Dalam hal ini Adorno melihat sejarah ternyata hanya untuk mereka yang menang. Sejarah bukanlah untuk mereka yang terkalahkan. Dalam bukunya tentang dilektika negatif. Kesejarahan mereka yang terkalahkan ini akan dirumuskan kedalam keadaan negatif yang membuatnya menderita. Inilah yang dianggap Adorno sebagai malapetaka permanen atas sejarah. Keadaan yang negatif ini kemudian menjadi awal pemikiran manusiawi. Selanjutnya hal itu kemudian dirumuskan kedalam negasi dari keadaan yang awalnya negatif. Hal itu dilakukan untuk mengubah dan mengatasi situasi penderitaan. Tampaknya pada tahap ini pandangan Adorno hampir memiliki kesamaan dengan Marx. Bagi Adorno, bukan kesadaran yang membentuk keadaan, tapi keadaanlah yang membentuk kesadaran.

Adorno dan Kebudayaan Massa
Pernyataan Adorno tentang dialektika pencerahan tersebut tentu perlu mendapatkan perhatian yang lebih dalam lagi. Adorno sangat tertarik dengan musik dan seni avant garde. Adorno tertarik pada hal itu karena ia ingin menentang hogenisasi pada komersialisasi seni (reifikasi). Dimana dalam hal ini seni akan direduksikan kearah hal-hal yang bisa dipertukarkan. Subyektifitas akan direduksikan kearah yang memiliki status “objek”. Dalam hal ini Adorno ingin mengembalikan kembali kemurnian dari subyektifitas seperti yang tampil di dalam obyek seni. Hal itu dilakukan dengan cara melawan pasar dimana nilai itu disamakan dengan harga. Hal ini mirip seperti yang dinyatakan oleh Marx tentang konsep adanya nilai guna yang diubah menjadi nilai tukar bagi para kapitalis. Pada tahap inilah akhirnya yang membuat para pekerja kapitalis menjadi terasing atau teralienasi atas karyanya. Kemudian yang muncul berikutnya adalah fetisisme komoditas. Dimana di tangan kapitalis, komoditas menjadi suatu berhala yang harus disembah atas nilai tukar yang telah tereifikasi.
Dalam pemikiran Adorno, kebudayaan massa merupakan produk nyata dari pemikiran pencerahan semu kapitalisme. Apa yang dilakukan oleh masyarakat kapitalisme pada kebudayaan adalah dengan menjadikan kebudayaan menjadi patuh pada hukum komoditi kapitalisme. Dalam bahasa Adorno, orang yang seperti ini hanya akan menghasilkan apa yang disebutnya sebagai “kebudayaan industri”. Yaitu industri kebudayaan yang ditujukan untuk massa dan produksi yang dilakukan adalah berdasarkan pada mekanisme kekuasaan sang produser dalam menentukan bentuk, gaya, dan maknanya. Dalam hal ini Adorno menganggap bila kebudayaan industri adalah bentuk pengkomandoan konsumer dalam kepentingan kapitalisme melalui kebudayaan.
Adorno menyatakan bila kebudayaan industri merupakan bentuk dehumanisasi melalui kebudayaan. Rasionalisasi dan komodifikasi kebudayaan sebagai perwujudan dari pencerahan yang dikomandoi oleh kapitalis sebenarnya hanyalah berisi kepalsuan yang nantinya akan menghambat aspirasi dan kreatifitas individu. Inilah yang sebenarnya akan menghambat mimpi manusia untuk hidup dalam kebebasan dan kebahagiaan yang sesungguhnya. Yang diperoleh dari para konsumer atas konsumsi kebudayaan sebenarnya hanyalah tak lebih dari produk seni yang memberikan kebahagiaan dan kesenangan yang palsu. Apa yang dikonsumsi oleh konsumer atau massa atas berbagai kebebasan untuk memilih produk gaya hidup, sebenarnya hanyalah kebebasan yang berada dalam keterbatasan pilihan. Bagi Adorno, seni seharusnya menolak segala muatan ideologis tertentu. Karena dalam hal ini Adorno sangat menjunjung tinggi kemurnian seni.

Referensi Penulis:

Amir Piliang, Yasraf.2003. Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna.Bandung. Jalasutra.
Hardiman, F. Budi. 2009. Kritik Ideologi: Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan. Kanisius: Yogyakarta.
Hardiman, F. Budi. 2009. Menuju Masyarakat Komunikatif. Kanisius: Yogyakarta.
Lechte, John. 2001 50 Filsuf Kontemporer: Dari Strukturalisme Sampai Postmodernitas. Kanisius: Yogyakarta.
Upe, Ambo.2010.Tradisi Aliran dalam Sosiologi: Dari Filosofi Positivistik ke Post Positivistik. Jakarta: Rajawali Pers.

Categories: Filsafat, Sosiologi | Tinggalkan komentar

UPAYA MENGATASI KEMISKINAN DI INDONESIA DENGAN MEMBANGUN HUBUNGAN KEPERCAYAAN ANTAR MASYARAKAT

UPAYA MENGATASI KEMISKINAN DI INDONESIA DENGAN MEMBANGUN HUBUNGAN KEPERCAYAAN ANTAR

MASYARAKAT

Oleh Tri Mahendra

tri mahendra

A. Pendahuluan

Di masa sekarang ini, permasalahan kemiskinan telah menjadi masalah yang banyak menjadi perhatian dari berbagai elemen masyarakat. Seolah-olah permasalahan kemiskinan menjadi sebuah kebudayaan yang turun-temurun. Di negara Indonesia sendiri, permasalahan kemiskinan juga menjadi permasalahan yang cukup serius. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah dalam suatu negara untuk menanggulangi kemiskinan. Diantaranya adalah dengan memberikan bantuan untuk untuk masyarakat miskin. Misalnya saja bantuan asuransi kesehatan, Bantuan Operasional Sekolah (BOS) bagi siswa yang miskin, bantuan langsung tunai, subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan lain-lain. Segala upaya tersebut selalu diupayakan oleh pemerintah untuk menanggulangi kemiskinan yang ada pada masyarakat. Akan tetapi, apa yang ada di dalam masyarakat seakan-akan kemiskinan masih selalu ada. Lagi-lagi yang menjadi pertanyaan adalah mengapa hal itu terus terjadi. Lalu bagaimana solusi untuk mengatasinya.

Kemiskinan yang terjadi di negara Indonesia bukanlah permasalahan baru. Namun demikian, permasalahan kemiskinan ini tidak juga usai dan bahkan bisa dikatakan semakin bertambah. Hal itu terjadi seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk yang semakin tak terkendali. Selain itu, rendahnya tingkat pendidikan pada masyarakat Indonesia juga dianggap sebagai penyebab kemiskinan ini. untuk mengatasi hal ini, pemerintah berusaha membuat kebijakan untuk mengatasinya. Misalnya program KB untuk mengendalikan jumlah penduduk. Namun program tersebut juga kurang efektif karena rendahnya pendidikan masyarakat Indonesia untuk mengenal program KB. Kondisi ini tentu akan memperparah permasalahan yang ada di Indonesia.

Permasalahan kemiskinan yang terjadi di Indonesia juga tak akan lepas dari permasalahan yang lainnya. Misalnya saja, dengan adanya kemiskinan bisa menimbulkan bencana kelaparan, kriminalitas, pengangguran, pesimisitas dalam masyarakat, serta perasaan-perasaan terbelakang. Kondisi ini tentu akan semakin buruk jika tidak mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah. Kenyataannya dibalik masalah kemiskinan yang terjadi ini, banyak dari oknum pejabat yang juga masih korupsi uang rakyat. Kondisi ini tentu tak baik untuk masa depan bangsa Indonesia.

B. Tinjauan Teoritis

Permasalahan kemiskinan sebenarnya memang bisa ditinjau dari aspek internal dan eksternal individu. Faktor internal ini kaitannya dengan kondisi psikologis individu. Sedangkan pada aspek eksternal lebih menekankan pada aspek sosial atau struktural dalam masyarakat. Antara dunia psikologis individu dan dunia sosial individu tentu memiliki perbedaan. Dunia psikologi individu lebih berfokus kearah dunia internal yang berkaitan dengan kondisi psikologis. Sedangkan dalam dunia sosial individu, mereka lebih berfokus kepada faktor-faktor eksternal yang berada diluar individu yang memaksa individu itu untuk melakukan suatu hal yang sebenarnya tidak dia inginkan. Inilah fakta sosial (social fact) dalam konsep Emile Durkheim. Kondisi sosiologis seperti inilah yang kadang tidak disadari oleh seseorang. Bahkan kondisi inilah yang menyebabkan alienasi seperti yang dinyatakan oleh Marx bahwa ada suatu kondisi seseorang tidak dapat menikmati karyanya sendiri karena dirinya terikat oleh faktor eksternal.

Dalam perspektif sosiologis seperti yang ada dalam pemikiran Marx tentang kelas-kelas sosial yang ada di dalam masyarakat. Masyarakat telah terbagi kedalam dua kelas, yaitu kelas borjuis dan kelas proletar. Antara kelas penguasa yang memiliki modal dan alat produksi dengan kelas buruh yang tidak memiliki alat produksi dan modal. Yang mereka miliki hanyalah sebatas pada tenaga untuk melayani kapitalis. Dengan menggunakan perspektif Marx ini terlihat bahwa dengan terciptanya masyarakat kedalam dua kelas akan memunculkan kemiskinan. Mengapa hal demikian dapat terjadi, dengan merujuk pada pemikiran Marx tersebut memang pada kenyataannya kelas proletar atau si miskin hanya akan dijadikan sebagai objek eksploitasi oleh para kapitalis atau pemilik modal. Tenaga mereka diperas dan hasilnya akan terakumulasi untuk para kapitalis atau pemilik modal dan alat produksi.

Daya tawar bagi kelas sosial bawah atau orang miskin menjadi sangat rendah di dalam masyarakat. Mengapa demikian, karena si miskin tidak ada pilihan lagi untuk memilih selain bekerja untuk para kapitalis. Dan jika hal demikian terjadi, maka timbullah alienasi (keterasingan). Dimana kondisi seseorang menjadi terasing dengan dirinya, pekerjaannya serta lingkungan sosialnya. Seseorang bekerja bukan karena ingin mengaktualisasikan dirinya, akan tetapi mereka bekerja karena adanya faktor eksternal yang memaksanya untuk bekerja.

Merujuk pada pemikiran Robert Putnam, penulis melihat bila permasalahan kemiskinan ini sebenarnya dapat diatasi dengan mengembangkan modal sosial individu di dalam masyarakat. Karena hingga saat ini, upaya pemerintah dalam mengentaskan masalah kemiskinan kebanyakan hanya cenderung pada bagaimana memberikan sarana-sarana yang berupa modal maupun keterampilan kepada individu. Permasalahan kemiskinan ini sebenarnya juga bisa diatasi dengan mengembangkan modal sosial yang ada di dalam masyarakat. Seperti yang dinyatakan oleh Robert Putnam bila kapital sosial sebenarnya memiliki ciri organisasi sosial, dimana sistem kepercayaan, norma, dan jaringan dapat memberikan efisiensi masyarakat dengan memfasilitasi tindakan koordinatif.

C. Analisis Kemiskinan

            Sebenarnya permasalahan kemiskinan yang terjadi di Indonesia saat ini memang tak lepas dari permasalahan sosial yang ada di dalam masyarakat. Kondisi struktur sosial yang vertikal akan membentuk masyarakat yang memiliki kelas-kelas sosial. Dimana di dalam kelas-kelas sosial tersebut terdapat masyarakat yang berada dalam kelas sosial atas, kelas sosial menengah, dan kelas sosial bawah. Masalah kemiskinan ini biasanya akan terjadi pada masyarakat yang berada didalam kelas sosial bawah. Kebanyakan masyarakat yang berada di dalam kelas sosial bawah tidak mendapatkan kehidupan yang beruntung. Karena posisi mereka kebanyakan berada dalam kelas yang tereksploitasi. Dalam aspek modal finansial saja, kaum miskin tidak dapat meminjam uang untuk modal kepada pihak lain. Permasalahannya sebenarnya sederhana, yaitu mereka tidak memiliki barang  jaminan yang cukup untuk bisa digunakan dalam peminjaman uang. Sedangkan pada kebanyakan lembaga peminjaman uang selalu harus disertai dengan jaminan.

Permasalahan terkait dengan adanya tidak adanya jaminan untuk meminjam uang pada lembaga peminjaman ini sebenarnya sudah dipahami oleh pemerintah. Sehingga pemerintah juga mengeluarkan kredit lunak untuk masyarakat miskin agar mereka bisa memiliki modal untuk menjalankan sebuah usaha. Namun demikian, permasalahan yang kemudian muncul adalah aspek pendidikan yang dimiliki oleh masyarakat miskin. Karena kebanyakan masyarakat miskin masih memiliki pendidikan yang rendah. Sehingga dalam menggunakan uang pun mereka juga masih belum begitu mahir. Yang terjadi kemudian adalah bukan keuntungan yang diperoleh oleh masyarakat miskin penerima kredit lunak dari pemerintah. Akan tetapi seringkali mereka menjadi merugi karena antara pemasukan dan pengeluaran uang yang tidak tertata dengan baik.

Kondisi yang terjadi tersebut kemudian memaksa pemerintah untuk turun tangan dengan menurunkan tim ahli pemberdayaan agar masyarakat miskin ini dapat diberikan pembimbingan dalam mengelola usahanya. Memang ketika pada saat dilakukan pembimbingan mereka paham dan dapat menjalankan usahanya dengan baik. Namun setelah pihak yang melakukan pembimbingan pergi meninggalkan mereka, belum tentu mereka kemudian menjadi bisa untuk mengelola usahanya sendiri.

Masalah kemiskinan ini juga akan semakin diperparah dengan hadirnya arus globalisasi dan pasar bebas. Globalisasi dan pasar bebas ini telah menuntut seseorang untuk mampu bersaing dengan orang lain. Namun kenyataanya, masyarakat miskin ini berada dalam strata masyarakat kelas bawah. Sehingga tidak mungkin mereka bisa bersaing dengan masyarakat yang berada dalam kelas diatasnya. Karena masyarakat yang berada dalam kelas atas memiliki banyak sumber daya yang bisa mereka gunakan untuk memperluas usaha mereka. Jika kita melihat pada ekonomi masyarakat kelas bawah, kehidupan ekonomi mereka masih sangat bergantung dengan sektor pasar tradisional. Namun yang terjadi saat ini, banyak pasar tradisional yang mulai sepei pembeli. Hal itu terjadi karena saat ini banyak didirikan pasar-pasar modern yang berjaringan. Pasar-pasar modern ini ternyata melakukan ekspansi hingga ke wilayah-wilayah pedesaan. Sehingga ekonomi masyarakat desa yang berasal dari pasar tradisional ini sedikit demi sedikit akan terkikis.

Permasalahan kemiskinan yang belum selesai ini ternyata juga diperparah dengan kondisi politik negara Indonesia yang kurang baik. Kondisi politik yang kurang baik ini ternyata menjadi sebuah ajang untuk pencitraan publik. Setiap kampanye partai politik, seolah-olah yang mereka dengungkan adalah pro terhadap rakyat kecil. Namun pada kenyataannya setelah mereka berhasil menduduki jabatan pemerintah, mereka seringkali melupakan janji-janji yang telah mereka buat sebelumnya. Lagi-lagi yang menjadi korban adalah masyarakat kecil. Lalu bagaimana mengatasi kondisi ini agar keminkinan yang ada di Indonesia dapat teratasi dengan baik. Disini penulis akan membahasnya dalam solusi mengatasi masalah kemiskinan dengan berbasis pada membangun hubungan kepercayaan antar masyarakat.

D. Mengatasi Kemiskinan Dengan Meningkatkan Hubungan Kepercayaan Antar Masyarakat

            Upaya mengatasi kemiskinan dengan basis membangun hubungan kepercayaan antara masyarakat ini sebenarnya berangkat dari ketertarikan penulis untuk menerapkan apa yang dikatakan oleh Robert Putnam tentang pentinganya menjalin hubungan kepercayaan antar individu di dalam masyarakat untuk memperoleh modal sosial yang kuat. Selama ini solusi yang ditawarkan dari pemerintah untuk mengatasi masalah kemiskinan ini seirngkali tidak pernah menyinggung aspek modal sosial di dalam masyarakat. Jika kita telisik lebih dalam tentang kondisi masyarakat miskin ini, kebanyakan mereka memiliki modal sosial yang rendah. Hal itu dikarenakan hubungan yang mereka jalin biasanya masih berada di dalam lingkup yang sempit. Sehingga jaringan mereka pun menjadi sempit pula. Padahal aspek jaringan sosial ini juga sangat membantu manusia dalam hal pemenuhan kebutuhan ekonomi. Selama ini cara yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi masalah kemiskinan hanya masih berkutat pada tataran bagaimana meningkatkan sumber daya individu.

Meningkatkan sumber daya individu memang penting dalam meningkatkan kualitas individu agar mampu bersaing di dalam era globalisasi dan pasar bebas ini. Namun yang perlu diketahui adalah bahwa kondisi sosial kultural bangsa Indonsia ini kebanyakan berbasi pada hubungan emosional yang tinggi. hubungan emosional ini hanya akan tercipta jika basis hubungan kepercayaan di dalam masyarakat dapat berjalan dengan baik. Namun realitas yang terjadi saat ini, modernisasi telah menjamur keseluruh aspek kehidupan manusia. Sehingga awalnya hubungan yang diciptakan manusia adalah hubungan kepercayaan, saat ini hubungan yang terjalin tinggallah hubungan transaksional semata. Orang yang memiliki uang hanya akan mau bekerjasama dengan orang yang memiliki uang pula. Jarang sekali ada orang kaya yang mau bekerjasama dengan orang miskin jika mereka tidak ada hubungan kepercayaan yang baik.

Kondisi masyarakat miskin yang berada di dalam posisi ini memang tidaklah mudah. Karena jalan yang harus mereka tempuh adalah jalan persaingan di era globalisasi dan pasar bebas ini. Dalam konteks ini penulis mencoba membangun analisis untuk mengatasi kemiskinan dengan membangun kembali hubungan kepercayaan antar masyarakat. Tentunya dalam menjalankan hal ini tidaklah mudah. Karena akan banyak tantangan yang harus dilalui. Dalam menjalankan hal ini yang perlu dilakukan adalah merekatkan kembali hubungan sosial antar masyarakat dari berbagai kelas sosial yang ada. Karena pada hakikatnya, budaya yang ada pada masyarakat Indonesia ini dibangun atas dasar hubungan kepercayaan yang tinggi. Seperti yang dilakukan oleh nenek moyang bangsa Indonesia dahulu bahwa pada masa kerajaan. Hubungan yang dibangun antara raja dengan rakyatnya adalah hubungan saling percaya. Dimana raja dipercaya rakyat untuk melindungi mereka dan raja juga mepercayai rakyat bila rakyat juga akan mengabdi penuh kepada kerajaan. Hubungan inilah yang akhirnya terjalin dan membentuk masyarakat yang serasi. Dimana dalam hal ini hubungan mereka menjadi baik dan harmonis.

Lalu bagaimana mengatasi kemiskinan yang terjadi dalam konteks saat ini di Indonesia. Sebenarnya cara yang dapat dilakukan yang pertama adalah menghidupkan kembali kearifan lokal yang ada pada masyarakat Indonesia. karena kearifan lokal itulah sebenarnya yang menjaga nilai-nilai kebudayaan bangsa Indonesia. Nilai-nilai itu dijaga dengan berbasis pada jalinan hubungan yang saling percaya antar masyarakat. Seperti kebiasaan saling tolong-menolong, kerjasama, dan mempererat hubungan kepercayaan antar sesama. Kondisi itulah yang sebenarnya akan memperkaya modal sosial masyarakat. Jika modal sosial di dalam masyarakat yang berbasis pada hubungan kepercayaan ini dapat dicapai, maka yang terjadi adalah hubungan yang saling tolong-menolong antar masyarakat. Orang yang berada di dalam kelas atas akan mau berhubungan baik dengan orang yang berada di dalam kelas bawah. Karena hubungan kepercayaan ini sifatnya merekatkan jarak antara kelas atas dengan kalas bawah. Hubungan baik ini tentu akan menumbuhkan sikap untuk bekerjasama dengan berbasis pada hubungan kepercayaan. Jika hal ini dapat tercapai, bukan tidak mungkin lagi permasalahan kemiskinan yang ada di Indonesia ini dapat teratasi dengan baik.

E. Kesimpulan

            Sebenarnya permasalahan kemiskinan yang ada di Indonesia ini memang menjadi masalah yang begitu kompleks. Hal itu terjadi karena permasalahan kemiskinan ini selalu menimbulkan masalah baru seperti kriminalitas, anak terlantar, pengangguran, maupun munculnya pengemis di jalanan. Berbagai upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi masalah ini tampaknya tak juga menemui hasil yang baik. Basis yang digunakan oleh pemerintah untuk mengatasi masalah kemiskinan ini hanya sampai pada bagaimana meningkatkan sumber daya manusianya. Sedangkan yang telah kita ketahui bila permasalahan kemiskinan ini memang permasalahan yang sangat kompleks. Sehingga dalam mengatasi masalah ini tidaklah cukup bila hanya terhenti pada peningkatan sumber daya manusianya saja.

Selain meningkatkatkan sumber daya manusia agar kualitas manusia menjadi lebih baik. masih ada lagi cara yang harus ditempuh agar permasalahan kemiskinan ini bisa tertasi dengan baik. Cara tersebut adalah membangun kembali hubungan kepercayaan antar masyarakat. Hal itu menjadi sangat penting karena akar warisan budaya bangsa Indonesia adalah berbasis pada hubungan kepercayaan emosional antar individu yang tertuang di dalam nilai dan norma yang ada di dalam masyarakat. Realitas yang terjadi saat ini, hubungan kepercayaan itu seakan hilang dan berubah menjadi hubungan yang transaksional yang hanya meperhitungkan untung dan rugi.

Dalam menumbuhkan kembali hubungan kepercayaan ini, diharapkan masyarakat yang awalnya hidup dengan penuh persaingan dapat berubah menjadi hidup yang saling bekerjasama. Hubungan kepercayaan diharapkan dapat memperbaiki jarak hubungan yang ada pada masyarakat kelas atas dan kelas bawah. Jika di dalam setiap elemen masyarakat dapat bekerjasama dengan baik dalam basis hubungan kepercayaan yang baik. Baik itu hubungan atara kelas atas dengan kelas atas, kelas bawah dengan kelas atas, ataupun atara kelas yang satu dengan kelas lainnya dapat terjalin dengan baik. bukan tidak mungkin lagi permasalahan kemiskinan yang terjadi pada masyarakat kelas bawah ini dapat teratasi dengan baik.

BACAAN:

Maarif, Syamsul. 2011. Bahan Ajar Sosiologi Kapital Sosial. Yogyakarta: Gress Publishing

Ritzer, George & Douglas J. Goodman. 2005. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana

Siahaan, Hotman M. 1986. Pengantar ke Arah Sejarah dan Teori Sosiologi. Jakarta: Erlangga.

           

           

Categories: Modal Sosial, Sosiologi | Tinggalkan komentar

Sebuah Perlawanan Atas Hegemoni Iklan Politik Melalui Media

ANALISIS IKLAN POLITIK

(Sebuah Perlawanan Atas Hegemoni Iklan Politik Melalui Media)

ABSTRAK

Oleh: Tri Mahendra[1]

Di masa kontemporer ini, media telah menjadi konsumsi bagi semua elemen masyarakat. Akan tetapi permasalahan akan muncul ketika masyarakat tidak mengetahui apa yang ada dibalik media tersebut. Masyarakat pada umumnya hanya dapat melihat apa yang ditampakkan oleh media dari luar. Pemilihan judul mengenai “Analisis Iklan Politik: Sebuah Perlawanan Atas Hegemoni Iklan Politik Melalui Media” sebenarnya adalah berangkat keresahan penulis yang telah frustasi melihat media yang menjadi konsumsi bagi masyarakat awam. Melalui media  televisi, radio, surat kabar, internet dan sebagainya, hegemoni yang berisikan iklan politik terus dilancarkan. Dalam aspek ini penulis berposisi sebagai counter hegemony terhadap penguasa media. Karena realitanya apa yang ditampilkan adalah kepalsuan. Bahkan media saat ini telah menjadi sebuah area pertarungan dari berbagai kepentingan. Misalnya pertarungan kepentingan antara dua partai besar yang ada di Indonesia. Yaitu antara PDIP dengan Partai Penguasa yakni Partai Demokrat. Mereka saling berebut pengaruh dan bertarung dengan iklan-iklan politik demi memperluas hegemoni mereka. Dengan permainan tanda yang digunakan, media telah dijadikan sebagai alat untuk menciptakan sebuah diskursus. Seakan-akan media telah menjadi sebuah kebenaran mutlak.  Jika media yang ada saat ini adalah media milik penguasa, maka hilanglah kebenaran itu. Yang terjadi selanjutnya adalah pembodohan masal bagi masyarakat. Lihat saja PDIP yang selalu melatar belakangi dirinya dengan sosok Soekarno. Sedangkan Partai Demokrat hingga saat ini belum memperoleh sosok yang tepat untuk dijadikan sebagai tanda atau juga background partai yang berpengaruh bagi masyarakat. Karena hingga saat ini SBY telah kehilangan popularitasnya. Sosok-sosok yang ditampilkan dibalik nama partai tersebut sebenarnya adalah sebagai tanda. Tanda yang nantinya digunakan untuk menarik para simpatisan dari masyarakat Indonesia. Namun bagaimana masyarakat memposisikan dirinya adalah pertanyaan penting. Karena hingga saat ini masyarakat masih terombang-ambing dan terbawa oleh dua pengaruh besar yang memiliki kepentingan yang berbeda. Partai demokrat yang ingin terus mempertahankan status quo nya dan PDIP yang haus ingin mengambil alih kekuasaan Partai Demokrat yang saat ini duduk di dalam kursi Pemerintahan. Inilah realita yang ada dihadapan masyarakat Indonesia. Salah satu cara untuk melawan mereka adalah melakukan sebuah perlawanan atas hegemoni yang mereka lakukan.

Kata Kunci: Konsumsi media, Counter hegemoni, Permainan tanda, Diskurus media.

Pengantar

Melihat kondisi masyarakat di masa sekarang terlihat ini begitu berbeda dengan masyarakat di zaman dahulu. Dalam aspek penyampaian informasi misalnya, antara zaman dahulu dengan saat ini terlihat begitu berbeda. Jika dahulu orang harus bertemu langsung untuk mendapatkan informasi atau berkomunikasi, maka saat ini hal tersebut sudah tidak demikian lagi. Karena dengan munculnya berbagai media informasi seperti internet, televisi, surat kabar, telepon, dan sejenisnya orang sudah bisa memperoleh informasi. Namun apakah setiap orang di dalam masyarakat memahami dan menyadari bahwa ternyata dibalik media tersebut telah terjadi berbagai deviasi. Misalnya saja tentang adanya iklan terkait dengan kampanye suatu partai yang mengusung calon pemimpin tertentu. Tentu bagi masyarakat yang masih awam, mereka sudah tidak lagi menelisik untuk mengetahui apa yang ada dibalik iklan yang tampil tersebut. Karena bagi mereka apa yang ada di media itulah kebenaran itu.

Sebuah permasalahan muncul ketika pada realitasnya media yang dianggap sebagai penyalur informasi tersebut telah dikendalikan oleh pihak-pihak tertentu. Sehingga pengertian dari media yang netral hanyalah sebagai simbol saja. Melihat kondisi yang sudah seperti ini, tentu permasalahan yang timbul tidak sedangkal dari apa yang sudah ada. Melainkan, sesungguhnya masalah tersebut ada ketika masyarakat awam pada khususnya menganggap hal itu bukanlah masalah. Misalnya saja saat kampanye yang dilakukan oleh para calon pemimpin, baik pemimpin daerah, provinsi ataupun negara. Ketika kampanye yang mereka tampilkan adalah tanda. Tanda itu seakan menjadi kebenaran. Dan dialektika atas tanda yang seharusnya ada telah hilang ataupun sengaja dihilangkan maupun juga diarahkan agar hilang.

Dengan menggunakan pemikiran Jean Baudrillard, bahwa dialektika sekarang terkoyak dan yang nyata mati. Dengan matinya realita, maka yang tersisa adalah tanda.  Maksudnya adalah bahwa saat ini realitas yang nyata itu mati, dan yang dihidup adalah kepalsuan. Dan dialektika yang terjadi pun saat ini berada pada realitas yang palsu tersebut. Yang terjadi saat ini adalah pertukaran tanda untuk menentang tanda yang lain dengan dalih untuk menentang yang nyata. Padahal yang ditentang adalah yang palsu. Namun diskursus menghadirkan realitas yang seolah-olah nyata dan benar.  Dengan kematian dialektika dan yang nyata, maka telah mematikan harapan humanistik yang besar. Maksudanya adalah sudah tidak ada lagi nilai-nilai kemanusiaan. Misalnya saja iklan politik yang gencar menampilkan sebuah kesejahteraan masyarakat apabila negara dipimpin oleh pihaknya. Namun sebernarnya semua itu adalah sebuah kepalsuan belaka. Karena wajah-wajah perpolitikan hanya tampak manis saat berkampanye dan beriklan politik. Saat merekka terpilih dan menang dalam pemilu. Suasana pun tetaplah sama dan kesejahteraan yang dijanji-janjikan hanyalah bualan belaka.[2] Saat ini pun media juga demikian, ambil contoh saja ketika kampanye pemilu. Tanda menjadi basis utama dalam sebuah retorika saat kampanye pemilu. Dimana tanda yang tampil dalam iklan kampanye pemilu di televisi tidak ada lagi yang mendialektika. Begitupun sebaliknya, lawan atau pihak lain yang berkampanye juga menggunakan tanda-tanda dan juga tidak ada dialektika. Seakan-akan itu adalah yang nyata. Padahal semua yang tampil disana adalah sama-sama tanda.

Melihat sebuah tanda yang dimainkan dalam iklan politik di dalam televisi. Roland Barthes mengembangkan dua tingkatan penandaan, yaitu pada  tingkat denotasi dan pada tingkat konotasi[3]. Dalam denotasi,  hubungan antara penanda dan petanda memiliki hubungan yang eksplisit. Sedangkan dalam konotasi sebaliknya, karena maknanya tidak eksplisit atau tidak langsung. Misalnya saja dalam pidato Aburizal Bakrie dalam pidato politik saat HUT Golkar ke- 47. Dinyatakan olehnya bahwa padi akan semakin menguning dan akan menjadi beras di tahun 2014. Dan Aburizal Bakrie juga menyatakan harapanya bahwa matahari juga akan tetap bersinar di langit yang biru.[4] Contoh pernyataan tersebut sepertinya juga mengarah kepada arah konotasi. Karena hubungan antara penanda dan petanda tidak eksplisit. Bentuk-bentuk kampanye itulah yang berkembang saat ini. Mereka saling melakukan provokasi satu sama lain. Dalam aspek ini, tidak hanya Golkar saja yang melakukan hal itu. Tentu dari pihak Partai Demokrat maupun PDIP juga melakukan hal yang sama. Begitulah iklan-iklan kampanye politik yang berkembang di dalam media yang dikonsumsi oleh masyarakat akhir-ahir ini. Media seakan telah menjadi area untuk menghegemoni masyarakat. Apalagi media tersebut dekat dengan pihak-pihak terkait yang memiliki misi untuk melakukan hegemoni. Dalam aspek ini masyarakat awam akan menjadi korban. Jika masyarakat awam tidak mampu berpikir mendalam tentang apa yang dilihatnya, maka mereka akan terbawa dan menjadi korban iklan politik tersebut.

Dramaturgi Politik di Indonesia

Dalam menggunakan analisis politik di Indonesia, juga digunakan analisis dramaturgi Erving Goffman. Seperti yang dikatakan oleh Erving Goffman  bahwa di dalam semua interaksi sosial ada yang namanya panggung depan dan juga panggung belakang. Seseorang yang berada di panggung depan memiliki sikap yang berbeda ketika berada di panggung belakang. Mereka dapat berganti-ganti peran sesuai dengan kondisi mereka. Apa yang mereka lakukan di panggung depan berbeda ketika mereka berada di panggung belakang.[5] Dalam kondisi perpolitikan yang ada saat ini, tampaknya masih relevan untuk dikaji dengan menggunakan analisis dramaturgis ini.

Perpolitikan yang ada di Indonesia juga tak lebih dari sekedar permainan panggung depan belaka. Iklan ditampilkan semenarik mungkin dengan menampilkan wajah yang menawarkan kesejahteraan hidup. Ironi muncul ketika sang pemenang telah berhasil menduduki kursi pemerintahan. Bagi mereka yang telah duduk di bangku pemerintahan. Sudah saatnya bagi mereka untuk memulai panggung belakang. Dengan berbekal panggung depan mereka telah berhasil mencuri hati rakyat. Dan ketika panggung belakang telah dimulai, barulah rakyat tahu bahwa mereka telah tertipu. Rakyat yang kecewa akhirnya marah, mereka melakukan demonstrasi untuk menyuarakan aspirasinya. Namun sayang, ternyata sang pemerintah memiliki pasukan khusus yang siap menghajar rakyat yang protes. Ketika sang pemenang sedang sibuk berbagi kursi dan jabatan kepada anak buahnya. Rakyat sedang kelaparan, sengasara dan terbiarkan nasibnya.

Mitos Politik di Indonesia

Dalam aspek ini, mitos dapat dikatakan sebagai sistem komunikasi yang mengantarkan sebuah pesan. Dapat dikatakan bahwa mitos itu sendiri adalah sarana penyampai pesan. Mitos juga dapat diartikan sebagai cara untuk melakukan sebuah pemaknaan. Oleh karena itulah, mitos tidak bisa  menjadi objek, konsep, maupun ide. Hal itu terkait dengan pemaknaan tadi. Mitos adalah sebuah tipe wicara. Namun segala sesuatu tidak akan bisa secara tiba-tiba menjadi sebuah mitos. Segala sesuatu bisa menjadi mitos jika hanya ditampilkan dalam sebuah wacana atau diskursus. Dalam perpolitikan juga demikian. Segala sesuatu bisa menjadi sebuah mitos ketika tampil dalam sebuah diskursus.[6]

Coba lihat pada mitos politik di Indonesia. Apakah iklan politik yang tampil di televisi dapat dikatakan sebagai mitos. Masih ingatkah dengan kata-kata “lanjutkan” dari SBY. Berbeda dengan kata-kata Megawati yang mengusung tema “perubahan”. Kedua kata ini memiliki makna yang bertolak belakang. Di satu sisi ada makna yang berisi mempertahankan kekuasaan. Dan disisi yang lain ada makna merebut kekuasaan. Dari hal ini bisa dianalisis bahwa keduanya saling beroposisi. Kondisi ini semakin terlihat ketika mereka menayangkan iklan politiknya di televisi. Di satu sisi pihak yang mempertahankan menampilkan keberhasilan program-programnya. Dan disisi yang lain pihak yang ingin merebut kekuasaan menampilkan kebobrokan penguasa. Begitulah realita yang ada. Isu-isu yang mereka bawa dalam iklan politik adalah sama. Mereka-sama mengatasnamakan demi kesejahteraan rakyat. Namun ternyata semuanya sama. mereka yang menang jadi pemenang, mereka yang kalah jadi oposisi. Dan rakyat jadi penonton yang selalu dikecewakan. Kondisi ini terus berulang dan berulang. Ketika rakyat mulai sedikit semakin pintar dan mulai mempelajari pengalamannya atas kekecewaan-kekecewaan yang pernah mereka alami sebelumnya. Para elit politik juga tak ada habis-habisnya untuk terus mencekoki rakyat dengan iklan-iklan politik yang selalu tak pernah kehabisan ide.

 

Semiotika Dalam Iklan Politik

            Ferdinand de Saussure dalam Course in General Linguistik telah mendefinisikan bahwa semiotika sebagai ilmu yang mengkaji tentang tanda sebagai bagian dari kehidupan sosial.[7] Tanda merupakan unsur dasar dalam semiotika dan komunikasi, yaitu segala sesuatu yang mengandung makna, yang mempunyai dua unsur, yaitu penanda(bentuk) dan petanda(makna).

Apabila di dalam seluruh praktik sosial merupakan fenomena bahasa, maka ia dapat dikatakan sebagai tanda. Saat ini permainan iklan juga tak lepas dari permainan bahasa. Apa yang dibahasakan oleh iklan tak selalu sesuai dengan apa yang diharapkan oleh rakyat. Karena apa yang dibahasakan oleh politikus hanya sebatas bahasa. Sedangkan rakyat memaknainya secara mendalam. Ambil contoh saja kata “demokrasi”. Demokrasi yang berarti dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. Dapat saja dipermainkan dengan mudah. Tidak semua demokrasi adalah demokratis. Demokratis tidaklah selalu dengan demokrasi. Begitulah kira-kira yang ada.

Seperti istilah pendidikan gratis, kesehatan gratis dan lain sebagainya seperti yang tayang dalam iklan-iklan politik juga hanya sebatas tanda saja. Mirip sekali dengan iklan-iklan yang menyembunyikan kebohongannya. Karena kebanyakan dari iklan yang menawarkan hal-hal yang manis selalu diikuti dengan syarat-syarat dan ketentuan. Namun syarat-syarat dan ketentuan tersebut ditampilkan sangat kecil agar yang membaca tidak tahu. Sehingga seringkali orang yang terbawa oleh iklan tersebut harus kecewa. Begitulah kondisi periklanan yang ada.

Selanjutnya Saussure menjelaskan bahwa tanda tak bisa dilepaskan dari dua bidang, yaitu penanda (signifier) untuk menjelaskan bentuk/ekspresi, dan bidang petanda (signified) untuk menjelaskan konsep atau maknanya. Antara bentuk dan makna memang saling terkait dan tak bia lepas Di dalam strukturalisme bahasa, tanda tak dapat dilihat secara sendiri, melainkan berdasarkan pada relasi atas tanda-tanda yang lain dalam kerangka sistem yang diatur oleh sebuah rule atau kode tertentu agar memiliki makna.[8] Artinya untuk memahami sebuah bahasa agar menemukan sebuah makna, perlu memahami juga relasi dengan tanda-tanda yang lain agar makna yang eksplisit tersebut dapat diketahui dengan jelas. Bagi rakyat yang masih awam, perlu diketahui bahwa sebenarnya dalam iklan-iklan politik juga menampilkan permainan tanda yang memiliki relasi dengan tanda yang lain. Karena rakyat tidak mampu menjangkau relasi tanda itu. seringkali mereka menjadi korban permainan iklan politik tersebut. Hampir seluruh iklan juga memiliki model seperti itu. iklan yang kental sekali dengan permainan tanda adalah iklan operator seluler yang seringkali membuat penggunanya kecewa. Saat ini iklan politik pun juga mengarah kepada hal-hal yang sifatnya menyembunyikan sesuatu lewat permainan tanda dalam relasi dengan tanda-tanda yang lainnya.

 

Disinformasi Iklan Politik

Dalam sebuah bahasa komunikasi, iklan memiliki bahasanya sendiri. Akan tetapi seringkali iklan melakukan sebuah penipuan-penipuan yang disampaikan lewat bahasa. Penipuan tersebut memang tidak tampak pada bahasa yang ditampilkan. Namun makna dari bahasa yang tampil tersebut seringkali ambigu sehingga dapat dipermainkan. Karena secara struktural iklan tersebut terdiri atas tanda-tanda yang di dalamnya terdapat penanda yang berupa gambar, foto atau ilustrasi dan juga petanda yang di dalamnya terdapat konsep atau makna. Namun di dalam kesemuanya itu ternyata digunakan untuk memalsukan realitas.[9] Yang ada di dalam iklan dengan kenyataan yang ada tidaklah sama. Artinya iklan tersebut memberikan informasi yang salah.

Saat ini iklan-iklan politik juga semakin menjamur ke permukaan. Mulai dari media elektronik hingga media massa. Iklan politik selalu menampilkan keberpihakannya kepada rakyat kecil. Seakan-akan bahwa ketika negara dipimpinnya rakyat kecil akan menjadi sejahtera. Iklan-iklan politik selalu menampilkan para petani kecil, pengusaha kecil, para buruh, tukang becak dan orang-orang kecil lainnya demi mendapatkan perhatian dari rakyat secara luas. Kemudian yang mereka bawa biasanya adalah semangat nasionalisme, religius, cinta tanah air, cinta kepada bangsa, mengabdi kepada bangsa, pro kepada rakyat kecil. Tak hanya itu, dalam iklan juga menampilkan sebuah janji-janji yang seakan sangat meyakinkan. Seperti memberikan pendidikan murah bagi rakyat. Namun kenyataanya masih juga banyak rakyat kecil yang tak dapat menikmati pendidikan. Iklan selalu tampil dengan wajah yang penuh senyuman, semangat, dan masa depan yang cerah. Namun dibalik semua itu ternyata tak lebih hanya sebuah mimpi belaka. Sehingga tidak salah jika banyak dari rakyat kecil hanya bisa bermimpi dan berkhayal akan sebuah kesejahteraan hidup. Namun impian tersebut hanya berada dalam angan-angan yang membuat rakyat semakin terpuruk.

Kondisi masyarakat kecil yang semakin terpuruk semakin diperparah dengan masih banyaknya iklan politik yang menampilkan sebuah janji manis akan kesejahteraan hidup masyarakat kecil. Ternyata setelah sang elit politik berhasil duduk dalam kursi pemerintahan. Mereka tak lantas segera bertindak untuk menuntaskan masalah para rakyat kecil yang sedang menangis kelaparan. Yang mereka lakukan adalah sibuk menghitung berapa rupiah yang telah mereka keluarkan selama kampanye pemilu. Seringkali gaji yang akan mereka terima selama menjabat dengan biaya kampanye yang telah mereka keluarkan masih belum cukup untuk mengembalikan segala biaya kampanye tersebut. tak hanya itu, kadangkala juga mereka masih mempunyai banyak hutang untuk biaya kampanye. Kondisi inilah yang akhirnya memaksa para pemimpin untuk tidak jujur dan kadangkala melakukan korupsi. Entah apa yang sedang ada dipikiran para elit politik ini. Dalam kondisi yang seperti ini sulit bagi elit politikini untuk bisa memikirkan nasib rakyat.

Iklan politik yang dilakukan oleh partai politik yang telah mengalami diinformasi ini akhirnya menghegemoni masyarakat dan menjadi konsumsi masyarakat banyak. Jika kondisi ini lama-kelamaan terus berlanjut, maka kepercayaan rakyat pada partai politik akan semakin turun. Karena semakin lama rakyat akan semakin pintar dan semakin tahu. Walau para elit politik berusaha untuk kreatif dalam mendesain iklan-iklan yang akan ditampilkannya nanti. Masyarakat juga akan terus mencoba untuk memahami dengan kritis pada iklan yang ditampilkan tersebut. Kondisi inilah yang akan terus berdialektika hingga pada titik tertentu.

Kondisi Perpolitikan di Indonesia

Saat ini kondisi politik yang ada di Indonesia bisa dikatakan tidak lebih baik dari kondisi-kondisi sebelumnya. Bahkan bisa dikatakan saat ini kondisi perpolitikan di Indonesia saat ini sudah melampaui batas. Pasalnya semenjak babak baru dengan adanya era reformasi, suara aspirasi rakyat semakin berserakan dan tanpa batas. Budaya saling sikut dalam urusan politik juga masih ada hingga saat ini. Tentu tak jauh beda dengan masa-masa kepemimpinan Soekarno dimasa itu dimana kabinet-kabinetnya selalu jatuh bangun akibat dari saling sikut dan saling menjatuhkan dalam urusan politik. Dimasa sekarang pun juga demikian.[10] Politik tak lebih dari sekadar perebutan kursi kekuasaan. Dimana yang berkuasa akan terus mempertahankan status quo sedangkan pihak yang ingin mengambil alih kekuasaan berposisi sebagai pihak oposisi.

Semenjak dibukanya babak baru yang dinamai dengan era reformasi, kemunculan berbagai macam partai politik pun semakin banyak. Karena sebelumnya dimasa orde baru partai masih disederhanakan. Tetap saja kondisi ini tidak bisa menjamin bahwa kondisi politik yang ada akan menjadi lebih baik. dimasa sekarang ini  lebih-lebih ketika musim pemilu tiba, berbagai partai politik berbondong-bondong mencari massa sebanyak-banyaknya guna untuk membesarkan nama partainya. Mulai dari anak kecil, dewasa hingga orang tua berbondong memberikan dukungan pada suatu partai tertentu. Mereka diarak kejalan-jalan dan juga di lapangan untuk berkampanye. Namun apa yang sebenaranya mereka lakukan hanyalah sebuah bualan belaka. Dimana pihak massa sendiri mau turun ke jalan karena diberi uang ataupun kaos partai tertentu. Sedangkan dari pihak calon yang maju menjadi calon pemimpin telah mengkalkulasi berapa uang yang dihabiskan untuk kampanye dan berapa uang yang akan kembali ketika menang. Begitulah sederhananya yang ada. Kondisi ini akan terus berlanjut dan berlanjut hingga terjadilah bisnis politik. Jika demikian, maka yang terjadi adalah permainan. Semarak nasionalisme yang didenungkan dalam kampanye hanyalah bualan belaka.

Ketika musim pemilu sudah akan tiba. Tibalah waktu dimana akan banyak ditemukan pamflet-pamflet ataupun spanduk-spanduk yang berisikan iklan pemilu bertempelan di pinggir-pinggir jalan. Segala tempatpun tak luput dari tempelan iklan politik tertentu. Mulai dari tiang listrik, tembok-tembok pertokoan, hingga di kaos-kaos tukang becak pun menjadi sasaran iklan politik. Tak hanya kaos tukang becak yang menjadi tempat iklan politik, bahkan di becaknyapun ada tempelan iklan politik. Sungguh ironi padahal ketika mereka menang pemilu nanti di kota-kota terdapat rabu lalu lintas yang bertuliskan bila becak dilarang masuk. Sungguh malang nasib orang becak ini. Padahal mereka adalah berasal dari golongan orang kecil yang tidak tahu apa-apa tentang politik.

Pertarungan Politik yang Mirip dengan Pertandingan Sepak Bola

Kondisi arah perpolitikan yang ada di Indonesia ternyata mudah sekali ditebak. Pasalnya kondisi partai di Indonesia yang lumayan banyak lama-lama juga akan mengerucut ke dua garis besar yang berlawanan. Ketika ada pertarungan politik antara berbagai macam partai. Sedikit demi sedikit banyak partai yang tumbang. Mirip sekali dengan pertandingan sepak bola dengan sistem gugur. Kondisi partai politik yang banyak tersebut juga akhirnya berakhir dengan pertarungan dua partai politik yang besar. Partai-partai yang telah gugur atau telah kalah di awal ternyata juga merapat ke partai-partai lain yang lolos. Partai-partai yang telah gugur tersebut kemudian akan memperkuat partai lain yang lolos untuk memperkuat suara. Umumnya partai yang telah gugur di awal berkoalisi dengan pihak partai lain yang lolos yang memiliki kemiripan ideologi partai ataupun juga kepentingan tertentu. Mereka juga akan berbagi kursi kekuasaan jika memang berhasil menang nantinya. Tentunya juga dengan tawar-menawar dahulu.

Pada akhirnya partai-partai yang telah bertarung tersebut berakhir dengan koalisi. Mereka umumnya mengerucut kedalam dua kubu yang berbeda. Yaitu antara partai yang berkuasa dengan partai oposisi. Begitulah yang ada saat ini. Yang terlihat kental saat ini adalah pertarungan politik antara Partai Demokrat dengan PDIP. Pada umumnya partai-partai lain melakukan koalisi pada kedua partai ini. Ketika mereka sudah membulatkan tekad dan membulatkan suara. Barulah kemudian babak final dalam pertarunganpun dimulai. Mirip sekali dengan pertandingan sepak bola. Dimana ada babak penyisihan hingga babak final.

Posisi Media dalam Pertarungan Politik

Saat pertarungan politik adalah saat pertarungan tanda dimulai. Permainan tanda dimulai dengan cara saling sikut antara pihak-pihak yang bertarung. Mereka para elit politik saling mencoba untuk menghegemoni masyarakat dengan menyebarkan tanda. Mereka juga berdramaturgi dengan bermain panggung depan dan juga panggung belakang.[11] Saat mereka tampil di depan masyarakat, mereka tampak seperti seorang pahlawan yang akan memberikan kebaikan pada rakyat. Iklan-iklan yang menyuarakan tentang kepedulian terhadap rakyatpun bermunculan. Misalnya memberikan akses kesehatan yang mudah bahkan gratis, pendidikan murah, harga sembako murah dan lain-lain. Dalam aspek ini, media juga berperan dalam menyampaikan iklan-iklan yang seperti ini. Misalnya ada media televisi yang menampilkan pemberantasan korupsi tanpa pandang bulu yang diprakarsai oleh penguasa tertentu. Namun yang tersisa dalam apa yang tayang di dalam televisi tersebut hanyalah performativitas.[12]

Jika sebuah permainan bahasa melaui performativitas lebih mendominasi, maka realitas yang sebenarnya akan semakin jauh. Bila ingin korupsi diberantas tanpa pandang bulu, maka pilihlah pemimpin yang berasal dari golongan militer. Karena militer itu tegas dan berani. Namun kenyataannya ketika militer jadi pemimpin, justru korupsi tidak semakin sedikit namun malah merajalela. Begitulah performativitas bekerja di dalam realitas. Tidak ada yang menjamin sebuah kebenaran. Dan media disini justru berperan di dalamnya. Media telah bekerjasama dengan pihak yang ingin menayangkan iklan. Media mendapatkan keuntungan karena telah menayangkan iklan. Dan pihak yang beriklan juga diuntungkan karena telah dibantu media dalam menyuarakan program-programnya. Lalu bagaimana dengan posisi masyarakat. Terlebih bagi masyarakat yang masih awam dan mudah terhipnotis oleh iklan politik di media. Kondisi ini tentu tidak baik karena dapat menyebabkan masyarakat awam semakin tidak terdidik dan terus tertipu oleh iklan.

Siapa Yang Berkuasa?

            Bahasan yang cukup menarik terkait dengan siapa yang berkuasa. Karena sudah seharusnya yang berkuasa adalah penguasa. Lalu siapakah yang berkuasa. Apakah para partai yang sedang duduk di kursi kekuasaan, ataukah partai oposisi, ataukah rakyat, ataukah media. Sebuah pertanyaan yang mungkin cukup membingungkan. Namun jika merujuk pada pemikiran Michel Foucault tentang pengetahuan dan kekuasaan.[13] Dimana ada pengetahuan disitulah ada kekuasaan. Kekuasaan dapat berjalan seiring dengan adanya pengetahuan. Dalam aspek siapakah yang berkuasa. Tentu bagi mereka yang berpengetahuanlah yang akan berkuasa. Lalu bagaimanakah dengan masyarakat awam yang pada dasarnya mereka memiliki pengetahuan yang rendah. Apakah masyarakat awam menjadi pihak yang terkuasai. Selama masyarakat awam bisa menguasai dirinya sendiri, maka mereka telah berhasil berkuasa. Minimal berkuasa atas dirinya sendiri. Namun ketika masyarakat awam telah terhegemoni oleh pihak-pihak tertentu. Jelaslah bahwa mereka telah terkuasai.

           

Iklan Politik Sama Dengan Adu Kreatif

            Berbicara mengenai adu kreatif memang tak ada habisnya. Begitu pula pada adu iklan politik yang seringkali juga harus menumbuhkan ide-ide yang kreatif. Mulai dari nuansa yang lucu yang bisa membuat orang tertawa hingga nuansa yang serius hingg amenumbuhkan rasa semangat. Iklan-iklan tersebut memang sengaja di desain sedemikian rupa agar masyarakat dapat terhipnotis. Masih ingatkah dengan iklan SBY yang bertemakan “katakan TIDAK pada korupsi”. Ternyata baru-baru ini ada juga orang-orang yang berasal dari petinggi partai milik SBY yang terjerat kasus korupsi. Hal ini membuktikan bahwa realitas yang ada dalam iklan tidak sama dengan kenyataannya. Penulis mengartikan iklan politik sama dengan adu kreatif karena ternyata iklan tersebut hanya sebatas untuk hiburan semata. Hanya sebatas untuk meyakinkan kepada orang yang melihat.

Seperti halnya adu yel-yel, iklan politik ternyata mirip dengan adu yel-yel. Siapa yang kreatif, dialah yang akan jadi pemenangnya. Jika sudah seperti ini, maka yang tersisa adalah sebuah permainan belaka. Karena seharusnya yang menjadi acuan adalah bagaimana bisa menyejahterakan rakyat. Dalam iklan politik tidaklah demikian, yang terpenting bagi mereka adalah bagaimana bisa membuat iklan yang menarik dan bisa mendapatkan suara sebanyak-banyaknya. Perkara nanti bekerja bagus atau tidak saat menang dan menduduki jabatan kepemimpinan. Itu adalah urusan belakangan. Karena saat masa-masa tersebut mereka begitu sibuk mengurusi partainya. Belum lagi urusan soal menggaji para tim suksesnya. Untuk menggaji para tim sukses tentu membutuhkan uang yang tidak sedikit jika ingin tim suksesnya bekerja keras. Hingga tidak jarang calon bupati, gubernur maupun anggota legislatif harus mengeluarkan uang yanag tidak  sedikit untuk mendapatkan kursi jabatan di dalam pemerintahan.

Agar iklan politik lebih dapat meyakinkan rakyat. Background partai pun selalu dilancarkan. Misalnya untuk PDIP, mereka menmpilkan sosok Soekarno yang nasionalis. Sedangkan untuk Partai Demokrat, sosok SBY masih menjadi acuannya. Namun ketika pamor dari SBY sedang turun, pasti Partai Demokrat akan kebingungan akan menampilkan sosok siapa dalam partainya. Kondisi ini juga tak jarang dialami ketika pemilu legislatif, gubernur maupun bupati. Dibalik dari wajah sang calon pemimpin yang tampil eksis dalam iklan, tentu mereka juga tak melepaskan dari wajah-wajah pemimpin lamanya. Namun apakah ketika mereka telah berhasil menjadi pemimpin nanti mereka benar-benar bisa menyejahterkan rakyat. Hal itu tentu masih akan terus menjadi sebuah pertanyaan.

Mengapa Harus Ada Iklan Politik dan Pemilu?

Pertanyaan ini mungkin sedikit menggelitik para pembaca. Iklan memang harus ada untuk mengenalkan diri bagi calon pemimpin yang bertarung dalam perebutan kursi pemerintahan. Iklan itulah yang nantinya dapat membuat mereka menjadi eksis dalam masyarakat. Jadi eksistensi mereka tidak lepas dari peran media. Melalui media mereka dapat memperkenalkan diri. Baik dari media cetak maupun elektronik. Tidak jarang saat musim pemilu tiba banyak iklan-iklan di televisi yang dipenuhi oleh iklan-iklan politik dari partai tertentu. Dalam istilah hariannya masyarakat menyebut sebagai istilah “pesta demokrasi”. Entah dari mana asal muasal dari kata pesta demokrasi itu muncul. Karena yang pasti jika ada pesta pasti ada uang yang dihamburkan. Tidak hanya uang dari calon pemimpin saja yang dihamburkan. Uang dari rakyatpun juga tidak lepas dari penghamburan untuk pesta demokrasi ini.  Namun rakyat mungkin tidak sadar bahwa uang mereka juga ikut dihamburkan. Padahal untuk mengadakan pesta demokrasi ini membutuhkan biaya yang mahal. Dibalik dari biaya yang banyak dihamburkan untuk pesta demokrasi tersebut. masih banyak dari rakyat kecil yang masih sangat kekurangan pangan. Namun yang dinamakan pesta pasti harus melupakan hal-hal yang sifatnya mengundang kesedihan.

Jika ditanya mengapa harus ada pemilihan umum. Pasti orang menjawab agar pemerintahan dalam negara dapat demokratis. Namun apakah demokrasi dengan pemilu itu dapat menyebabkan rakyat sejahtera. Pertanyaan itu pasti akan sulit untuk dijawab. Karena pada dasarnya kesejahteraan itu tidak harus ditempuh dengan jalan pemilu. Pasalnya masih banyak juga negara yang tidak menganut sistem demokrasi seperti Inggris, Saudi Arabia dan negara-negara lain yang dalam penyelenggaraan pemerintahannya dapat berjalan dengan baik. Lalu mengapa di Indonesia harus menganut sistem demokrasi. Padahal hingga saat ini sistem demokrasi yang diterapkan di Indonesia juga tidak mampu menyejahterakan seluuruh elemen masyarakat. Masih banyak ketimpangan sosial yang ada di Indonesia. bagi mereka yang memiliki uang yang banyak. Mereka tentu dapat berinvestasi dan mengakumulai modal sebanyak-banyaknya. Sedangkan bagi mereka yang miskin, mereka menjadi semakin terpuruk, sakit-sakitan dan seringkali terlilit hutang. Saat orang-orang kecil ini menangis kesakitan dalam penderitaannya. Sungguh ironi karena ternyata di televisi ada iklan-iklan politik yang beradu kreatif untuk saling sikut antar lawan politik. Begitulah realita yang ada di kehidupan masyarakat Indonesia saat ini.

 

Konklusi

            Seperti yang dijelaskan di awal bahwa iklan politik ternyata tidak mencerminakan dengan realitas yang sesungguhnya. Hal itu terjadi karena iklan yang ditampilkan hanya untuk sebatas mendapat pengaruh yang kuat di dalam masyarakat. Dengan pengaruh yang kuat itulah mereka bisa memperoleh suara sebanyak-banyaknya. Iklan-iklan tersebut kemudian tampil melalui media yang akhirnya menjadi konsumsi oleh masyarakat banyak. Secara tidak langsung sebenanya iklan termasuk masuk dan mengkonstruk pemikiran masyarakat. Seakan-akan sang calon pemimpin benar-benar akan menjadi seorang pahlawan yang bisa mengubah kehidupan masyarakat. Walhasil ketika sang pemimpin baru terpilih, ternyata kondisi dan situasi tak jauh beda dengan kondisi sebelumnya. Permasalahan kesejahteraan rakyat tetap saja ada dan tidak ada habisnya. Iklan-iklan yang bertuliskan tentang pemberantasan kemiskinan ternyata hanya sebatas iklan yang tidak ada realitanya.

Iklan sebenarnya memang sebagai ajang untuk mendapatkan suara. Tak heran jika mereka saling sikut antar lawan politik agar bisa mendapat banyak dukungan dari masyarakat. Tidak sedikit uang yang harus dikeluarkan untuk biaya kampanye dan juga iklan. Dengan mengatasnamakan untuk kepentingan rakyat mereka berkampanye. Namuan ketika mereka sudah duduk dibangku pemerintahan. Rakyat sudah banyak dilupakan. Sungguh derita yang tiada habisnya. Karena lagi-lagi rakyat yang menjadi korban. Rakyat yang telah menumpukan harapannya kepada sang pemimpin yang dipilihnya, seringklai harus menanggung rasa kecewa. Kondisi ini terus berlanjut hingga sekarang. Bahkan saat ini zaman sudah semakin sulit bagi rakyat kecil untuk menyambung hidup. Karena segala biaya kehidupan telah menjadi mahal karena terjadi kapitalisasi sumber daya oleh orang-orang kaya maupun elit-elit politik. Keberpihakan kepada rakyat kecil hanyalah sebuah wacana elit politik belaka yang tidak ada kenyataanya. Rakyat kecil selalu tertipu, kecewa, dan menderita. Sedangkan sang pemimpin selalu sibuk, sibuk dan sibuk dalam urusan politiknya.

BACAAN

 

Amir Pialang, Yasraf.2003. Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna.Bandung. Jalasutra.

Barthes, Roland. 2004. Mitologi. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Lechte, John. 2001. 50 Filsuf Kontemporer Dari Strukturalisme sampai Postmodernitas. Yogyakarta: Kanisius.

Ritzer, George. 2010. Teori Sosial Postmodern. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Ritzer, George & Douglas J. Goodman. 2010. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana.


[1] Tri Mahendra adalah Mahasiswa Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember

[2] George Ritzer dalam Teori Sosial Postmodern, 2010: 158. Berisi tentang pemikiran Jean Baudrillard. Penulis mencoba megaplikasikan pemikirannya pada dunia politik yang ada di Indonesia

[3] Yasraf Amir Pialang dalam Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna, 2003: 261

[4] Dikutip dari http://politik.news.viva.co.id/news/read/259893-ical–padi-menguning–jadi-beras-di-2014 yang diakses pada tanggal 07/12/12. Penulis mencoba mengaitkan tingkatan penandaan yang dimaksud Roland Barthes pada tingkat konotasi yang bersifat konotatif dengan realitas iklan politik di Indonesia.

[5] Teori dramaturgis Erving Goffman ini diambil dari buku karangan George Ritzer dalam Teori Sosiologi Modern, 2010:93-94. Penulis mencoba mengaplikasikan dua sisi yang berbeda antara panggung depan yang dimainkan oleh elit politik saat kampanye politik dengan panggung belakang saat elit poltik telah menjabat dalam pemerintahan negara.

[6] Dikembangkan dari buku Roland Barthes dalam Mitologi, 2002: 151-152. Dalam buku tersebut diterangkan terkait dengan mitos, kemudian penulis mencoba mengaitkan dengan realitas politik di Indonesia.

[7] Yasraf Amir Pialang dalam Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna, 2003: 256. Disini Saussure membahas tentang definisi dari semiotika.

[8] Ibid., hlm. 258

[9] Ibid., hlm. 280

[10] Penulis membandingkan kondisi politik dari masa dahulu dengan saat ini yang tidak ada bedanya. Budaya saling menjatuhkan masih saja terjadi. Saat ini pun juga masih saja terjadi. Bahkan saat ini pertarungan politik antar partai politik semakin tajam ketika ada sistem koalisi antar partai. Meskipun sekarang partai semakin banyak dan berbeda ketika dahulu saat kepemimpinan Soeharto yang hanya ada sedikit partai. Sistem koalisi juga akan mengerucutkan partai yang banyak tersebut kedalam dua ranah yang besar. Ada ranah penguasa dan juga ranah oposisi. Kondisi inilah yang menyebabkan budaya saling sikut dan saling menjatuhkan masih saja terjadi. Hal itu tampak pada tayangan iklan-iklan politik yang ada baik di televisi maupun internet.

[11] Analisis dengan menggunakan konsep dramaturgis milik Erving Goffman. Bisa dilihat dalam buku karangan George Ritzer dalam Teori Sosiologi Modern, 2010:93-94.

[12] Konsep performativitas Lyotard, diambil dari Buku karangan John Lecte dalam 50 Filsuf Kontemporer, 2001: 374

[13] Baca selanjutnya buku Karangan George Ritzer dalam Teori Sosial Postmodern,2010:65-81

Categories: Cultural Studies, Filsafat, Sosiologi, Sosiologi Media | Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.