REFLEKSI KRITIS MENGENAI PENGARUH DUNIA ILUSI FILM TERHADAP KEBERADAAN INDIVIDU DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

 REFLEKSI KRITIS MENGENAI PENGARUH DUNIA ILUSI FILM TERHADAP KEBERADAAN INDIVIDU DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI


Oleh: Tri Mahendra

Mahasiswa Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Jember

tri mahendra

Pemikiran Deleuze tentang Film

Dalam dunia kekontemporeran saat ini, sudah tentu tidak asing lagi bagi kita ketika mendengar kata Film. Tak jarang ada orang yang begitu tertarik untuk menjadi penikmat film. Bahkan mungkin film sudah menjadi bagian dari hidup tersendiri bagi penikmat film tersebut. Namun apakah kita pernah menyadari ketika film telah memberikan efek tersendiri dalam kehidupan manusia sekarang. Kita tahu bahwa dunia film merupakan dunia ilusi. Mungkinkah dunia ilusi tersebut bisa diterapkan di dalam dunia nyata. Ataukah dunia ilusi tersebut hanyalah ilusi belaka yang tak pernah mampu diterapkan dalam dunia nyata. Tentu ini menjadi pertanyaan yang menarik untuk ditelaah lebih lanjut.

Sebelum menginjak ke pemikiran Deleuze lebih lanjut. Dalam  Cinema and Philosophy[1] Gilles Deleuze membagi film menjadi dua. Yaitu mengenai sinema klasik dan sinema modern. Dalam sinema klasik atau film klasik, film masih dibuat dengan sangat sederhana. Sinema klasik ini ada sebelum masa perang dunia ke dua. Film ini seperti halnya sebuah panggung pertunjukkan. Dimana dalam film klasik belum ditemukan kamera. Jadi segala adegan yang dimainkan pemeran di dalam panggung pertunjukan akan tampak sekali. Namun dalam perkembangan film selanjutnya. Film menjadi lebih maju sejak ditemukannya kamera. Pembuatan film akan lebih tampak sempurna dibandingkan dengan film klasik. Dalam film modern ini, pertimbangan waktu dan gerakan gambar menjadi hal yang begitu penting. Film modern lebih memiliki pengaruh terhadap sisi afeksi dan persepsi penonton. Sehingga, tak jarang film-film modern ini seringkali mampu membuat penonton terbawa dalam sebuah ilusi yang ada di dalam film. Yang menjadi pertanyaan sebenarnya adalah bagaimana ilusi-ilusi film itu bergerak dan hadir di dalam kehidupan individu.

Berikut saya akan menganalisis film kontemporer yang dirilis pada tahun 2008 yang berjudul Death Race. Bagi saya, film ini telah banyak memberikan ilusi, semangat dan motivasi dalam kehidupan saya sehari-hari. Meskipun ini hanyalah ilusi, akan tetapi film ini cukup memberi pengaruh dalam kehidupan saya.

Judul Film                   : Death Race

Sutradara                     : Paul W. S. Anderson

Tahun Produksi Film   :2008

Sinopsis film :

Film Death Race merupakan film yang berisi mengenai ajang balap mobil maut yang ada di dalam penjara. Film ini berisi mengenai sebuah penjara yang bernama Terminal Island yang digunakan untuk ajang balapan mobil. Balapan dalam Death Race diisi oleh para narapidana yang memperoleh hukuman berat. Balapan maut ini ditonton oleh jutaan orang di dunia secara online dan untuk menontonnya harus membayar. Maka dari itulah penjara ini digunakan sebagai bisnis komersial oleh pengelola penjara. Otak dari bisnis balapan dalam penjara ini adalah Hennesey. Seseorang yang sangat licik dan berjiwa sadis.

Dalam cerita film ini diawali dari Jensen Ames yang merupakan jawara balapan mobil yang menang beberapa kali, dia dijebak oleh Hennesey dengan cara memerintah seseorang untuk membunuh istrinya. Setelah istri dari Jensen Ames terbunuh. Ternyata Jensen Ames terjebak dan dia menjadi tersangka sebagai pembunuh istrinya sendiri. Oleh karena itulah Jensen Ames akhirnya di penjara di dalam penjara Terminal Island. Sebuah penjara yang dihuni oleh para narapidana kelas berat.  Disana dia bertemu dengan Hennesey dan dimintanya untuk menjadi salah satu pembalap dari permainan balapan mobil maut dalam penjara itu. Jansen Ames diminta untuk menggantikan jawara balapan mobil maut Death Race yang bernama Frankenstein yang telah meninggal dalam kecelakaan. Hal itu dilakukan Hennesey supaya balap mobil maut ini tetap diminanti banyak penonton. Karena semenjak kematian Frankenstein, jumlah penonton menurun. Oleh karena itulah Hennesey menginginkan Jensen Ames agar masuk dalam penjara dan menggantikan Frankenstein. Karena Hennesey tahu bahwa Jensen Ames adalah pembalap yang handal dan dianggap mampu untuk menggantikan posisi Frakenstein. Hennesey menjanjikan Jansen Ames bebas bila dia berhasil memenangkan lomba dan menjadi jawara dalam balapan maut Death Race dalam penjara itu. Karena Jensen Ames ingin segera bebas dan ingin segera bertemu dengan anaknya, maka dia menerima tawaran itu.

Dalam balapan ini, mobil bebas diberi senjata yang digunakan untuk menyerang mobil lawan dan bahkan untuk membunuh lawan. Sungguh pertarungan yang sangat mengerikan karena antar mobil mereka saling tembak menembak dan saling membunuh. Di dalam balapan ini, ternyata Jensen Ames bertemu dengan orang yang telah membunuh istrinya. Dia adalah Pachenko, seorang napi yang merupakan orang suruhan Hennesey untuk membunuh istrinya. Oleh karena itulah, Jensen Ames ingin balas dendam dan ingin membunuh Pachenko melalui balapan maut itu. Pada balapan yang telah dilalui beberapa kali oleh Jensen Ames, akhrinya dia berhasil membunuh Pachenko. Dalam balapan maut itu, Jensen Ames menggantikan sosok  Frankenstein yang merupakan lawan berat dari pembalap yang bernama Joe. Oleh karena itulah akhirnya Jensen Ames bertarung dengan Joe. Namun dalam perkembangan balapan berikutnya, akhirnya mereka berdua mengetahui semua sekenario Hennesey. Pada saat itulah mereka tak lagi bertarung  dalam balapan. Akan tetapi mereka menjadi bekerjasama untuk kabur dalam penjara dan berbalik melawan Hennesey. Pada akhirnya mereka berhasil keluar dari penjara dengan cara meroketkan peluru ke pembatas balapan hingga berlubang. Melalui lubang itulah akhirnya mereka kabur dari penjara. Mengetahui hal itu, Hennesey memerintahkan Helikopter untuk mengejar Jensen Ames dan Joe. Namun dalam pengejaran itu, Helikopter tak berhasil menangkap Jensen Ames dan Joe.

Pada akhir dalam cerita film itu, Hennesey tak berhasil menangkap Jensen Ames dan Joe. Akan tetapi, dia malah menjadi korban sekenarionya sendiri. Kelicikan Hennesey yang telah memasang bom pada mobil Jensen Ames tak mampu meledakkan mobil Jansen Ames. Karena bom tersebut telah dijinakkan oleh mekanik mobil Jensen Ames. Akhirnya, bom itu dikirimkan kembali ke Hennesey melalui ucapan kiriman selamat. Pada saat itulah Hennesey beserta antek-anteknya tewas terkena bomnya sendiri. Jensen Ames dan Joe berhasil kabur dari dalam penjara. Mereka telah berhasil hidup bebas dan menemukan apa yang diinginkannya.

Analisis

Setelah saya menonton dan mengamati kejadian-kejadian yang ada di dalam film Death Race. Saya telah menemukan beberapa adegan menarik yang dapat dikaitkan dengan pemikiran Deleuze. Terlihat di dalam film Death Race ada beberapa potongan gambar atau video yang telah disambungkan. Misalnya saja pada saat balapan dimulai. Banyak sekali penggabungan dari beberapa potongan adegan yang kemudian ditayangkan tampak seperti gerakan-gerakan yang terus berkontinyu. Seakan-akan tak ada pemotongan-pemotongan dalam film itu. Saya akan mencoba mengaitkan itu dengan apa yang dituliskan Deleuze dalam The Movement Image- Cinema 1 Gilles Deleuze. Dikatakan bahwa:

The time-image will be the subject of a second part. The

great directors of the cinema may be compared, in our view, not

merely with painters, architects and musicians, but also with

thinkers. They think with movement-images and time-images

instead of concepts. One cannot object by pointing to the vast

proportion of rubbish in cinematographic production – it is no worse

than anywhere else, although it does have unparalleled economic and

industrial consequences. The great cinema directors are hence merely

more vulnerable – it is infinitely easier to prevent them from doing

their work. The history of the cinema is a long martyrology.

Nevertheless, the cinema still forms part of art and part of thought, in

the irreplaceable, autonomous forms which these directors were able

to invent and get screened, in spite of everything.[2]

 

Dari pandangan Deleuze diatas, saya dapat memahami dan mencoba menyimpulkan bahwa sebuah pengeditan video atau gambar yang ada di dalam film adalah untuk mempengaruhi penonton agar terbawa kedalam ilusi. Pemotongan- pemotongan video yang dilakukan bukan serta merta keinginan yang disukai oleh sutradara. Akan tetapi bagaimana pemotongan-pemotongan beberapa adegan itu bisa mempengaruhi penonton agar terpengaruh kedalam dunia ilusi film. Hal ini dilakukan oleh sutradara bukan serta merta untuk kepentingan indusri perfilman saja. Akan tetapi ini juga untuk memberikan peningkatan reputasi tersendiri bagi sang sutradara film. Untuk melakukan hal ini dibutuhkan sebuah keahlian tersendiri yang melibatkan berbagai pihak.

Kemudian, saya menemukan hal yang menarik lagi dalam film Death race tersebut. Yaitu apa yang dimaksudkan dengan keberadaan ruang. Ada beberapa adegan yang telah menggabungkan beberapa ruang kedalam kronologi waktu yang seakan bersamaan dan berurutan. Seakan-akan ruang tak memiliki jarak lagi dalam film. Misalnya saja pada adegan sebelum balapan. Mekanik dapat menyelesaikan penggarapan mobil yang akan digunakan untuk balapan selama 24 jam lamanya. Namun dalam dunia saya, mekanik telah menyelesaikan penggarapan mobil hanya dengan beberapa menit saja jika menggunakan jam saya. Inilah waktu (time) yang berbeda antara waktu yang ada di dalam film dan yang ada di dunia nyata saya. Dengan hadirnya waktu. Ruang yang berbeda dengan jarak yang berbeda pun akan berjalan beriringan dan berurutan sesuai dengan kronologi film yang dimainkan. Dan semua itu berjalan seiring dengan bergerakanya waktu (time). Berikut saya akan menampilkan apa yang ada dalam Sinema 1 Gilles Deleuze- Movement Image. Ada poin menarik yang dapat saya petik dalam tulisan Deleuze tersebut:

According to

the first thesis, movement is distinct from the space covered. Space

covered is past, movement is present, the act of covering. The space

covered is divisible, indeed infinitely divisible, whilst movement is

indivisible, or cannot be divided without changing qualitatively each

time it is divided. This already presupposes a more complex idea: the

spaces covered all belong to a single, identical, homogeneous space,

while the movements are heterogeneous, irreducible among themselves.[3]

 

Dari apa yang dikatakan oleh deleuze tersebut. Saya memiliki interpretasi bahwa dengan gerakan (movement) mampu menghadirkan ruang-ruang yang berbeda dalam waktu yang terkronologis. Ruang yang ada dimasa lampau akan dihadirkan dalam waktu sekarang. Seakan- akan waktu telah menggabungkan masa sekarang dengan masa lampau secara simultan. Kehadiran waktu ini juga berpengaruh terhadap keberadaaan ruang. Dengan waktu yang berbeda-beda, ruang dapat dipersatukan. Kejadian ini terjadi pada film Death Race saat lomba balapan dan alur cerita dimainkan. Seakan-akan ruang-ruang yang ada didalam film dapat berubah-ubah dengan begitu saja. Tentu ini berbeda dengan kehidupan nyata saya. Dalam dunia nyata saya keberadaan ruang tak akan bisa berubah-ubah dengan begitu saja seperti apa yang ditanyangkan di dalam film. Namun, apa yang saya lihat di dalam film Death Race itu tampak nyata. Padahal itu semua hanyalah ilusi belaka yang tak pernah sama dalam dunia nyata saya. Meskipun demikian, ilusi tetaplah ilusi dan itu menghadirkan kenikmatan tersendiri bagi saya ketika menonton film tersebut.

Terkait dengan hadirnya duree (duration) dalam padangan Deleuze. Saya menemui hal yang menarik dalam film Death Race. Misalnya saja terkait dengan hadirnya duree (duration) dan waktu (time). Deleuze membedakan antara duree dan waktu. Waktu (time) merupakan durasi yang berada di dalam film. Sedangkan duree (duration) merupakan durasi yang ada di dalam dunia nyata kita.[4] Di dalam film Death Race tersebut waktu dihadirkan dalam durasi yang berbeda dalam dunia nyata. Mungkin ini juga terjadi dalam semua film-film kontemporer pada umumnya. Waktu begitu dipersingkat dalam dunia ilusi film. Saya telah mengutip apa yang dikatakan Deleuze dalam Sinema 1 Gilles Deleuze- Movement Image:

On the other

hand, however much you divide and subdivide time, movement will

always occur in a concrete duration (duree) thus each movement will

have its own qualitative duration. Hence we oppose two irreducible

formulas: ‘real movement – concrete duration’, and ‘immobile

sections + abstract time.[5]

 

Dari kalimat yang ada diatas saya menginterpretasikan bahwa memang benar jika waktu di dalam film dapat dibagi-bagi kedalam ruang-ruang yang terpisah, yang kemudian disatukan dalam durasi film. Artinya, kita hanya mendapatkan durasi yang palsu di dalam film. Jadi bila dikontekskan kedalam film Death Race. Terlihat bahwa mekanik dalam film itu memperbaiki mobil dengan waktu 24 jam. Namun bila dikontekskan dengan dunia nyata saya, itu hanya memakan waktu beberapa menit saja. Artinya, ada beberapa adegan saja yang dimasukkan kedalam bagian-bagian film yang kemudian digerakkan secara kronologis dalam alur film. Artinya, bila dunia ilusi dalam film itu dikaitkan dalam dunia nyata saya, ini sebenarnya ada beberapa bagian yang hilang.

Konklusi

Dari pandangan saya mengenai film yang ada diatas. Ada perbedaan tersendiri antara sinema modern terkontemporer dengan sinema klasik masa lalu. Film kontemporer tampaknya benar-benar dibuat lebih menarik dan berusaha membawa individu untuk masuk kedalam dunia ilusi. Ilusi itu terkait dengan hadirnya durasi yang berbeda antara durasi yang ada di dalam film dengan durasi yang ada di dalam dunia nyata. Bahkan tak jarang kita terhanyut dalam dunia ilusi tersebut. Dan akan berbahaya ketika kita menghidupkan ilusi tersebut kedalam dunia nyata. Ketika hal itu dilakukan, maka saya akan mengaitkan itu dengan apa yang dimaksud Deleuze mengenai Oedipus. Dimana Oedipus merupakan sebuah ikatan yang membelenggu hasrat seseorang/individu. Artinya, individu menghidupi dunianya dengan penuh ilusi film, bukan menghidupi dengan hasratnya. Dia telah dibelenggu oleh ilusi film dan dia tak membebaskan hasratnya. Seperti apa yang dikatakan oleh Deleuze bahwa Oedipus akan menjajah diri kita.[6] Bila dikaitkan dengan konteks ini, ilusi film lah yang telah menjajah dunia nyata kita.

Apabila kita mau merunut ke pemikiran Deleuze mengenai Anti-Oedipus. Kita akan menemukan jalan bagi pembebasan hasrat. Dikatakan Deleuze yang sengaja saya ambil dari bukunya Ritzer, bahwa Anti-Oedipus merupakan sebuah upaya untuk membebaskan diri mereka dari mode pemkiran yang dominan.[7] Dalam konteks film ini, kita akan menemukan pembasan hasrat dari ilusi film melalui anti-oedipus tersebut. Mungkin benar bahwa ilusi film lah yang telah membelenggu dunia alam bawah sadar kita sehingga kta menjadi tak sadar. Dengan anti-oedipus, kita akan menemukan hasrat kita kembali. Kemudian saya mengutip lagi mengenai apa yang dikatakan Deleuze mengenai apa yang seharusnya kita lakukan. Bahwa apa yang seharusnya kita lakukan adalah “skizofrenisasi alam bawah sadar masyarakat secara keseluruhan maupun individu. Skizofrenisasi seperti itu akan memberikan peluang kepada kita untuk menghancurkan lingkaran besi Oedipus dan menemukan kembali dimana saja kekuatan produksi hasrat. Karena Skizofrenia adalah dunia produksi dan reproduksi mesin hasrat. Skizofrenia merupakan bagian yang inheren bagi spesies kehidupan.[8]

Dari berbagai pemikiran deleuze tersebut. Saya dapat mengambil kesimpulan bahwa menghidupkan ilusi film ke dunia nyata adalah sebuah tindakan mengurung hasrat kedalam sebuah lingkaran besi oedipus. Dari berbagai pengalaman saya ketika menonton film. Saya selalu ingin menghidupkan dunia ilusi kedalam dunia nyata. Saya begitu tak sadar dan seringkali terbawa ilusi-ilusi film tersebut. Misalnya saja ketika saya menonton film Death Race. Dan sekarang, yang perlu saya lakukan adalah keluar dari ilusi film tersebut. Langkah yang perlu saya lakukan untuk keluar dari ilusi film itu adalah dengan mematikan ilusi tersebut. Dunia ilusi adalah dunia ilusi, dan dunia nyata adalah dunia nyata. Itulah film, dunia nyata dalam ketaknyataannya.

DAFTAR PUSTAKA

 

Deleuze, Gilles. 2008. Cinema and Philoshopy, translated by Alisa Hartz. The Johns hopkins University.

Deleuze, Gilles. 1986. Cinema 1: Movement-Image, translated by Hugh Tomlinson and Barbara Haberjam. The Athlone Press.

Ritzer, George. 2010. Teori Sosial Postmodern. Yogyakarta: Kreasi Wacana.


[1] Penulis menginterpretasikan mengenai perbedaan sinema klasik dan sinema modern dalam  Buku Cinema and Philoshopy – Gilles Deleuze, page X . Serta dari beberapa pemahaman penulis saat kuliah.

[2] Penulis mengutip apa yang dikatakan Deleuze dalam Sinema 1 Gilles Deleuze- Movement Image dalam bagian pembukaan.

[3] Penulis mengutip dalam Sinema 1 Gilles Deleuze- Movement Image  pada First thesis: movement and instant di halaman 1.

[4] Pembedaan mengenai waktu dan duree ini berdasarkan pemahaman penulis mengenai pemikiran Deleuze melalui diskusi yang diberikan oleh Bapak Nurul Hidayat. Penulis mencoba menelaah pemahaman tersebut dengan mengaitkannya dalam dunia film dan dunia nyata.

[5] Penulis mengutip kalimat tersebut  dalam Sinema 1 Gilles Deleuze- Movement Image First thesis: movement and instant di halaman 1.Penulis mencoba mengaitkan dan membandingkan duree (duration) dengan time yang ada di dalam film. Antara dunia nyata dan dunia ilusi yang ada didalam film tersebut.

[6] Lihat dalam buku teori sosial postmodern karangan Ritzer mengenai Oedipus hal. 214

[7] Lihat dalam buku teori sosial postmodern karangan Ritzer mengenai Anti-Oedipus hal. 210

[8] Lihat dalam buku teori sosial postmodern karangan Ritzer mengenai Skizofrenia hal. 212

Categories: Sosiologi, Sosiologi Kontemporer | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: