MEMBANGUN ARGUMEN DENGAN MENELISIK KEDALAM UNTUK MEMAHAMI KEPENTINGAN POLITIK DIBALIK YANG TAMPAK DENGAN BERPIKIR KRITIS

MEMBANGUN ARGUMEN DENGAN MENELISIK KEDALAM UNTUK MEMAHAMI KEPENTINGAN POLITIK DIBALIK YANG TAMPAK DENGAN BERPIKIR KRITIS

Analisis politik dengan perspektif kiri                         

 Oleh Tri Mahendra

Tulisan ini merupakan tugas mata kuliah pada saat semester 3

tri mahendra

            Sebagai kaum intelektual, sudah seharusnya bagi kita untuk bisa berpikir kritis mengenai kehidupan yang kita hidupi. Jika selama ini masih banyak orang yang belum sadar akan kehidupan yang dijalaninya. Maka tugas dari kaum intelektual adalah mengajak mereka untuk sadar akan kehidupan yang hadir dihadapannya. Memberikan sebuah dorongan bagi mereka untuk keluar dari ketidaksadarannya. Karena jika bukan kita yang melakukan itu, siapa lagi?

Saat ini, hampir dari setiap aspek dalam kehidupan kita sudah terpolitisasi. Jika kita sadar akan hal itu, maka kita akan tahu betapa kita sebenarnya berada seperti dalam sebuah perahu yang terombang-ambing oleh ombak. Akan tetapi dalam kondisi yang demikian itu kita malah tidur ataupun  tertidur, entah kita sedang mimpi apa. Kita tidak peduli, kita acuh tak acuh, kita tidak ingin tahu siapa yang mengemudikan perahu itu. Kita tidak mau peduli untuk mencari tahu mengapa bisa terjadi ombak yang sedemikian itu. kita hanya memilih untuk menjadi orang yang mengikuti arus. Bukankah dalam kondisi yang demikian itu kita sudah seharusnya bangun dan mencari jalan keluar. Tetapi kenapa kita malah masih memilih tidur jika kita sudah tahu kondisi yang seperti itu. Apakah ini yang dinamakan dengan kesadaran palsu. Apakah sebenarnya kita memang sadar akan tetapi kita tidak mau melakukan sebuah tindakan untuk mencari jalan keluar, yaitu untuk melawan hal-hal dapat dikatakan sebagai hal-hal yang politis itu.

Seperti itulah sebuah analogi yang dapat saya curahkan untuk memahami kondisi politik yang ada disekitar kita. Terlihat bahwa saat ini banyak dari kaum intelektual yang lebih memilih diam meskipun sebenarnya mereka tahu dengan segala permainan politis yang mungkin itu dilakukan oleh para penguasa. Atau bahkan kaum intelektual lebih memilih dekat dengan penguasa agar dirinya bisa memperoleh keuntungan-keuntungan dari para penguasa. Mereka enggan memilih untuk dekat dengan rakyat. Karena mereka berpikir jika mereka memilih dekat dengan rakyat, mereka tak akan memperoleh keuntungan apa-apa dari penguasa yang memang tidak peduli dengan rakyat. Jadi, mereka lebih memilih dekat dengan penguasa.

Apa seperti itukah yang dilakukan oleh kaum intelektual sekarang. Mereka lebih suka ikut-ikutan bermain politik dengan penguasa dari pada memperjuangkan hak-hak orang yang terkuasai. Bukankah kaum intelektual itu ada untuk membantu orang-orang yang tertindas atau orang yang terkuasai. Jika memang seperti ini realita yang ada. Dimanakah yang tak politis itu ada. Jika mereka mengatakan bahwa diri mereka tak politis akan tetapi mereka memilih dekat dengan penguasa dan ikut memperoleh keuntungan dari para penguasa. Apakah seperti itu yang tak politis itu ada. Jika kaum intelektual yang dapat dikatakan memiliki kapasitas untuk melawan hal-hal yang tak politis sudah ikut bermain di dalam hal-hal yang politis. Lalu siapakah yang mau memperjuangkan rakyat yang terpolitisasi oleh orang-orang yang bermain dengan hal-hal politis. Bukankah rakyat disini sudah menjadi korban dari yang politis. Apa yang ada di dalam para kaum intelektual sekarang. Dapat dikatakan bahwa tak lain dari mereka adalah bentukan dari yang politis dan tak lain adalah orang yang ikut andil dalam permainan politis penguasa.

Dalam kaitannya dengan kapitalisme yang terjadi saat ini. Arena politik dapat menjadi sebuah lahan subur bagi tumbuhnya kapitalisme. Betapa tidak, arena politik saat ini malah dijadikan sebagai ajang untuk adu kepentingan diantara orang-orang yang ingin bertengger di kursi pemerintahan. Ketika hal itu terjadi, arena politik menjadi sebuah ajang bisnis yang menyebabkan tumbuhnya kapitalisme. Dan rakyat kecillah yang akan dijadikan sebagai korbannya.

Setiap kali ada Pemilu, tahukah kita bahwa disana ada sebuah permainan politik yang licik yang dimainkan oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab. Ini akan kita ketahui bila kita menggunakan paradigma kritis. Pernahkah kita melihat ada politik uang disana. Ada orang-orang yang berbisnis politik untuk menguasai pemerintahan. Ketika mereka berhasil bekuasa, lalu mereka menukar nilai-nilai kemanusiaan dengan segelintir materi. Sungguh tidak manusiawi. Kemudian yang menadi pertanyaan adalah. Setelah kita tahu akan hadirnya yang demikian itu. Dimanakah letak individu yang tak berbau politis ada. Dimanakah ruang-ruang yang non politis itu ada dan hadir didalam kehidupan kita. Dimanakah dunia yang tanpa politis itu ada. Ketika ada pemilu saja, orang yang mencalonkan diri sebagai calon pemimpin menggunakan modal mereka untuk membeli suara kepada rakyat. Dan itu membutuhkan dana yang besar, bahkan mungkin juga sampai ada orang yang memberikan bantuan dana kepada sang calon itu, yang bila calon itu sudah terpilih nanti, sang calon itu akan mengembalikan dana yang sudah diberikan kepadanya. Sebenarnya sama seperti orang berinvestasi atau orang yang sedang menanam saham. Ini sudah sangat keterlaluan dan sangat merugikan rakyat. Dan terlihat bahwa orientasinya menjadi kearah materi.

Politik di Indonesia

Dalam bagian ini, saya akan mencoba untuk menelisik kedalam untuk mengkritisi situasi politik yang ada di Indonesia. Ada kemungkinan bagi orang awam melihat situasi politik yang ada di Indonesia ini baik-baik saja. Akan tetapi ternyata didalamnya terdapat permainan-permainan politik yang sungguh picik[1]. Mereka yang sedang duduk di kursi pemerintahan sedang bermain sandiwara untuk menarik simpati rakyat. Bila dilihat dengan perspektif teori dramaturgi[2].  Sebenarnya para elit birokrat atau para penguasa pemerintahan itu sedang memainkan sebuah politik pencitraan dalam bagian front stage atau panggung depan dalam konteks dramaturgis. Sebuah politik pencitraan untuk bisa melakukan pembohongan terhadap publik. Dan mungkin yang akan terus menjadi korban dari kebohongan publik ini adalah orang-orang awam. Para penguasa menampilakan dirinya sebagai sosok-sosok pahlawan yang nantinya dapat dikagumi oleh rakyat. Seakan-akan para penguasa adalah orang-orang yang sangat berjasa bagi rakyat. Dalam analisis dramaturgis ini, coba lihatlah juga panggung belakangnya atau back stage. Skenario apa yang dilakukan oleh para penguasa. Politik seperti apa yang dilakukan oleh para penguasa pemerintahan. Akankah mereka melakukan sebuah konspirasi yang akhirnya membohongi rakyat.

Coba kita melakukan sebuah analisis politik yang terjadi di negara Indonesia saat ini dengan perspektif kiri untuk melihat kebobrokan pemerintahan yang terjadi di negara Indonesia. Masih ingatkah bahwa Presiden SBY pernah mengatakan akan memberantas koruptor tanpa pandang bulu. Bila statement itu dikritisi, kenapa dalam menangani masalah Bank Century pemerintah seakan-akan ingin menyembunyikannya. Apakah memang benar bahwa nantinya ada banyak orang-orang yang duduk di kursi penguasa akan menjadi tersangka. Ini menjadi pertanyaan besar yang harus diungkap demi menegakkan supremasi hukum yang ada di Indonesia. Memang terlihat bahwa penguasa seakan-akan melakukan sebuah permainan politik untuk menenggelamkan masalah Century supaya tidak lagi terangkat oleh media.

Masih ingatkah kita dengan jargon yang pernah disuarakan oleh penguasa saat ini, bahwa langit akan tetap membiru dan padi akan semakin menguning. Dapat dikatakan bahwa inilah strategi politik yang dilancarkan pemerintah untuk terus menguasai pemerintahan. Masih ingatkah kita dengan statement Presiden SBY yang mengatakan bahwa beliau beserta keluarganya nanti tidak akan maju lagi untuk mencalonkan diri sebagai capres untuk 2014 mendatang. Benarkah seperti itu nantinya. Namun kita harus tetap kritis dengan statement itu. Coba kita telisik kembali dengan maksud dari jargon langit tetap membiru dan padi akan semakin menguning. Adakah kepentingan dibalik jargon tersebut.

Ada kemungkinan orang awam melihat jargon tersebut adalah sesuatu yang istimewa yang seakan-akan rakyat nanti akan dibuat semakin sejahtera dengan melimpahnya pangan, karena dikataan bahwa padi semakin menguning. Itu bagi orang awam yang masih belum kritis. Tapi bagi kita, itu hanya sebuah omongan kosong belaka dan masih perlu pembuktian. Coba kita telisik lebih dalam lagi apa maksud tersembunyi dibalik jargon tersebut[3]. Ada kemungkinan memang di tahun 2014 yang akan datang Partai Demokrat dengan SBY sebagai Dewan Pembinanya beserta keluarganya tidak akan maju untuk mencalonkan diri lagi sebagai presiden. Akan tetapi dengan jargon tersebut, ternyata Partai Demokrat melakukan sebuah koalisi dengan Partai Golkar. Apa maksud dibalik dari padi yang menguning itu. Ada kemungkinan bahwa dari Golkar nanti ada orang yang mencalonkan diri menjadi capres di tahun 2014. Memang akan terlihat bahwa Partai Demokrat tidak mencalonkan diri untuk meaju menjadi capres 2014. Akan tetapi dengan koalisinya antar Partai Demokrat dengan Partai Golkar akan tetap memberikan Partai Demokrat untuk terus berkuasa. Dapat dikatakan bahwa inilah yang dinamakan dengan sebuah tindakan politis.

Berkaitan dengan hal yang ada diatas, kita bisa mengaitkan itu dengan teori hegemoni Antoio Gramsci[4]. Bahwa ada kemungkinan mengenai apa yang dilakukan oleh pemerintahan SBY adalah sebagai sebuah usaha untuk melakukan hegemoni kepada masyarakat. Memang ketika pemerintah melakukan sebuah tindakan politis seperti  yang ada diatas. Masyarakat seakan-akan diam dan merelakan dirinya untuk mengikuti alur yang dibuat oleh penguasa. Padahal, dalam negara demokrasi di Indonesia, masyarakat juga perlu dan memiliki hak untuk menyuarakan aspirasi mereka, untuk menentang segala keluhan mereka terhadap tindakan politis pemerintah itu. Namun terlihat yang terlihat saat ini adalah masyarakat tidak melakukan tindakan pemeberontakan seperti demikian. Inilah yang dapat dikatakan sebagai keberhasilan penguasa dalam menghegemoni masyarakat. Masyarakat benar-benar dibuat tak sadar oleh penguasa.

Mengetahui hal yang demikian itu. Lagi-lagi, dimanakah hal yang tak politis itu ada. Begitu terlihat bahwa segala aspek kehidupan sudah dipenuhi oleh hal-hal yang berbau politis. Namun, kenapa orang-orang menjadi tak sadar akan hadirnya yang politis itu.

Demokrasi di Indonesia

            Kita semua sudah tahu bahwa Indonesia adalah negara yang menganut sistem pemerintahan demokrasi. Namun apakah dalam praktiknya sudah demokratis[5]. Memang jika kita lihat proses demokrasi di Indonesia secara prosedural sudah menjalankan praktik-praktik demokrasi. Sebagai contoh adalah adanya pemilihan kepala daerah maupun presiden secara langsung. Akan tetapi apakah itu sudah menjamin bahwa dengan sistem demokrasi itu hak-hak rakyat akan terpenuhi. Bukankah dalam demokrasi itu dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Namun apakah secara substansial demikian. Jika kita menganalisis secara interpretatif, mari kita lihat pada diri subyek dalam tanda kutip adalah rakyat. Apakah rakyat sudah merasakan bahwa hak-haknya sudah terpenuhi. Bukankah dalam negara dengan sistem demokrasi itu ada istilah “untuk rakyat”. Kita perlu menanyakan itu kepada rakyat sebagai individu yang tinggal dalam suatu negara. Apakah memang benar bahwa hak-hak mereka sudah terpenuhi.

Dapat dikatakan bahwa memang negara dengan sistem demokrasi itu secara tertulis adalah dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Namun dalam praktiknya saya dapat mengatakan bahwa demokrasi yang dijalankan di negara Indonesia adalah dari penguasa, oleh penguasa, dan untuk penguasa. Mengapa demikian, coba kita lihat ketika ada pemilu. Misalnya saja ketika ada pemilu kepala daerah. Calon kepala daerah bisa saja melakukan politik uang untuk membeli suara kepada masyarakat. Kemudian ketika calon kepala daerah itu sudah berhasil menguasai pemerintahan, mereka bisa mengabaikan kepentingan masyarakat. Akan tetapi mereka lebih mementingkan kepentingannya sendiri, ataupun juga kepentingan partai yang telah mengusungnya.

Mari kita menelisik lagi mengenai sebuah kepentingan politik yang dilakukan oleh para penguasa. Pernahkah kita berpikir mengenai apa yang dilakukan oleh pemerintah ketika masa jabatannya hampir selesai atau hampir habis. Kebanyakan dari penguasa itu melupakan tugas mereka untuk menjalankan amanah dari rakyat yang telah diberikan kepadanya. Ketika jabatan penguasa itu hampir habis atau selesai, yang mereka lakukan adalah sibuk untuk mengurusi partainya demi pemilu yang akan datang. Sehingga mereka sering kali melalaikan tugasnya untuk rakyat. Dapat dikatakan bahwa inilah yang dinamakan dengan kepentingan yang politis yang perlu kita selidiki dan kita pahami.

 

Analisis Politik Internasional

Pada bagian ini akan dibahas mengenai setingan politik internasional. Pada bagian ini saya akan menganilisis menggunakan perspektif teori Wallerstein[6] mengenai konsep sistem dunia. Jika kita menggunakan teori ini untuk melihat dunia yang ada dihadapan kita. Dapat dikatakan bahwa memang ada pembagian-pembagian atau sekat-sekat suatu negara. Dapat dikatakan bahwa ada negara kuat dan ada negara yang lemah. Negara yang kuat pada umumnya memang negara yang kapitalis. Misalnya saja yang saya contohkan adalah negara Amerika Serikat. Dengan menggunakan perspektif Wallerstaein ini, kita akan coba untuk menelisik gerak-gerik Amerika Serikat. Jika kita amati dengan menggunakan perspektif ini, dapat dikatakan bahwa saat ini Amerika Serikat memang selalu mendekati negara berkembang, atau secara ekstrimnya ingin mengeksploitasi negara-negara yang lemah atau bisa disebut juga sebagai negara berkembang. Logisnya memang di Amerika Serikat membutuhkan bahan baku dari negara berkembang untuk kelangsungan industrialisasinya. Jika Amerika tidak mencari partner dengan negara yang memiliki bahan baku. Mereka akan kesulitan untuk memperoleh bahan baku. Selain itu, negara berkembang juga bisa menjadi pasar yang subur bagi Amerika Serikat dalam memasarkan hasil industrinya.

Kaitannya dengan Amerika Serikat, saya ingin membangun sebuah argumen mengenai hegemoni Amerika Serikat dalam menyebarkan ideologi liberalnya. Dalam perspektif liberal[7] ini, coba kita analisis mengenai intervensi Amerika Serikat dengan negara-negara lain. Misalnya saja dengan negara-negara yang berada di Timur Tengah yang kaya akan minyak bumi. Logisnya atau mungkin ini merupakan sisi subyektif penulis, Amerika Serikat pasti tidak mau bila negara-negara yang kaya akan minyak itu menutup diri. Dengan hadirnya Libya yang notabene adalah negara yang kaya akan minyak bumi. Amerika Serikat dengan kepentingan politiknya tidak akan mau dan tidak akan membiarkan bila Libya menutup diri. Karena secara logisnya Amerika membutuhkan minyak itu. Ketika negara-negara yang kaya minyak menutup diri. Amerika Serikat akan melakukan intimidasi kepada negara itu.

Dengan menyelidiki makna dibalik apa yang dilakukan oleh Amerika Serikat saat ini. Misalnya saja ketika di negara-negara yang bukan penganut demokrasi, akan tetapi merupakan negara dengan penganut sistem pemerintahan kerajaan. Ketika di dalam negara penganut sistem kerajaan terdapat konflik, misalnya saja konflik yang terjadi antara rakyat dengan penguasa kerajaan. Saya akan mencoba menganalisis dengan perspektif atau konsep dari Robert K Merton mengenai fungsi manifes dan fungsi laten[8]. Jika negara Amerika Serikat ikut mengintervensi negara-negara lain terutama negara-negara yang merupakan  penganut sistem pemerintahan kerajaan. Intervensi yang dilakukan oleh Amerika Serikat bisa atas nama PBB untuk perdamaian dunia dan atas nama Hak Asasi Manusia atau HAM yang ada di suatu negara.

Ketika Amerika Serikat mungkin dengan membonceng PBB membantu rakyat yang ada di negara kerajaan yang sedang terjadi konflik atas nama HAM. Misalnya saja yang terjadi di negara-negara di Timur Tengah. Amerika Serikat bisa mendekati rakyat di dalam negara kerajaan untuk bisa menumbangkan rezim kerajaan itu, Amerika Serikat bisa saja melakukan sebuah adu domba antara rakyat negara kerajaan dengan penguasa negara kerajaan itu. Karena bila dilihat dari kacamata liberal atau perspektif liberal. Pemerintahan dengan sistem kerajaan itu tidak bisa memberikan peluang bagi rakyat untuk bisa berkuasa di dalam negara, dan dalam perspektif liberal itu tidak boleh terjadi, semua orang memiliki kesempatan yang sama. Beda dengan negara dengan sistem demokrasi. Dalam sistem demokrasi, pemerintahannya berasal dari rakyat.

Secara manifest atau nyata bila di lihat dari konsep Robert K Merton. Amerika Serikat terlihat membantu rakyat tertindas dalam negara-negara penganut sistem pemerintahan kerajaan,  dengan atas nama memperjuangkan HAM yang dimiliki oleh individu-individu di dalam negara kerajaan itu. Akan tetapi lihatlah juga fungsi tersembunyi dibalik bantuan Amerika Serikat yang mengatas namakan HAM itu. Disana ada fungsi tersembunyi atau yang disebut fungsi laten, yaitu Amerika Serikat dapat menyebarkan ideologi liberalnya dibalik bantuan yang diberikan. Karena memang di dalam ideologi liberal kebebasan individu itu diutamakan.

Penutup

Sebagai penutup tulisan ini, dapat disimpulkan bahwa memang ternyata di dalam kehidupan kita sudah dipenuhi dengan hal-hal yang politis. Segala ruang yang ada didalam kehidupan ini tak lain merupakan bentukan dari hal-hal yang politis. Mulai dari individu hingga ruang-ruang sosial yang ada, tak lain juga memang bentukan dari hal-hal yang politis. Dan kita sebagai makhluk yang berkategorikan mahasiswa, dapat dikatakan merupakan agen penggerak perubahan. Marilah kita merenung, berpikir kritis, dan bertindak yang nyata untuk menciptakan sebuah perubahan, sebuah terobosan untuk menghadirkan kehidupan yang lebih baik.

“Aku bukanlah seorang aliran kanan, aku bukanlah seorang aliran kiri, aku bukanlah seorang netral. Akan tetapi, aku adalah aku bersama jiwaku”

~Tri Mahendra~


[1] Penulis menggunakan perspektif kiri untuk mengkritisi hal-hal yang berbau politis dalam pemerintahan

[2] Dramaturgi merupakan teori Erving Goffman bahwa yang ditampilkan aktor itu merupakan sebuah permainan peran di panggung depan dan pengaturan skenarionya di panggung belakang

[3] Penulis mencoba menggali makna dibalik jargon tersebut berdasarkan perspektif paradigma interpretatif.

[4] Penulis ingin melihat penindasan halus yang dilakukan oleh pemerintah SBY melalui konsep hegemoni Gramsci

[5] Penulis mencoba mengnalisis demokrasi yang ada di Indonesia secara interpretatif

[6] Wallerstein merupakan pemikir maxrxis yang berorientasi historis. Sistem itu dipersatukan bersama oleh berbagai kekuatan yang mengandung ketegangan di didalamnya.

[7] Amerika serikat selalu menyuarakan ideologi liberalnya demi atas nama hak-hak individu, atas nama kebebasan individu.

[8] Penulis mencoba menganalisis dengan persektif Robert K Merton yang memperkenalkan konsep fungsi manifes (fungsi nyata) dan fungsi laten (fungsi tersembunyi)

Categories: Filsafat, Sosiologi Politik | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: