SEBUAH PERENUNGAN AKAN HADIRNYA INDIVIDU DALAM MEMAKNAI KEHIDUPAN

 SEBUAH PERENUNGAN AKAN HADIRNYA INDIVIDU DALAM MEMAKNAI KEHIDUPAN

Oleh Tri Mahendra

FENOMENOLOGI

 

Memandang dunia sosial dengan perspektif fenomenologis…..

Ketika nilai-nilai dari individualitas manusia yang hakikatnya melekat pada manusia sebagai manusia yang dimanusiakan oleh manusia itu dihilangkan….

Ketika sebuah kehendak[1] yang dimiliki oleh manusia sebagai manusia dilenyapkan…..

Ketika birokrasi[2] benar-benar mengurung dan menggilas secara terang-terangan, menggilas kebebasan manusia sebagai manusia……

Ketika dunia yang berada dalam dunia eksternal individu itu mendominasi kehidupannya…..

Ketika individu tidak lagi hidup dengan dirinya sebagai manusia…..

Ketika diri individu itu terkurung dalam dirinya……

Ketika individu tak bisa memberontak akan hadirnya dunia eksternal yang membelenggu dirinya…..

Ketika para pejuang keadilan harus mati karena otoritas penguasa……

Lalu dimanakah nilai humanitas manusia itu????…..

Dalam pandangan yang pertama yang dibahas mengenai hilangnya sebuah nilai-nilai individu. Hilangnya sebuah makna penting dari individu. Bukankah dalam sebuah kehidupan itu, sudah seharusnya hak-hak individu untuk hidup sesuai dengan apa yang diharapkannya dapat terjalankan dengan baik. Namun apakah yang terjadi saat ini. Individu menjadi manusia yang diperlakukan seperti benda. Atau bahkan individu mungkin seperti robot yang tak memiliki perasaan. Akan menjadi sangat berbahaya ketika manusia mulai berpikir seperti komputer ataupun robot. Individu sama saja halnya dengan benda mati yang digerakkan oleh sistem atau pun birokrasi. Atau bahkan secara ekstrim saya berani mengatakan bahwa manusia sekarang itu seperti mayat hidup yang tak memiliki perasaan ataupun jiwa bahwa dia adalah manusia.

Saat ini, jika orang yang menggunakan perspektif kanan akan mengatakan bahwa sekarang ini adalah zaman modern. Zaman yang sudah maju. Segala sesuatu menjadi mudah. Dengan hadirnya bermacam-macam teknologi modern segalanya menjadi mudah. Dalam perspektif kiri yang saya gunakan, yang menjadi pertanyaan adalah apakah semua orang bisa menikmati dan menggunakan segala teknologi yang ada itu? Lalu, ketika semua orang berbondong-bondong dan berusaha untuk tidak mau menjadi manusia yang ketinggalan teknologi, dan berusaha untuk bisa menguasai teknologi itu, apakah mereka masih peduli dengan orang-orang yang bisa disebut makhluk miskin yang ada disekelilingnya, atau lebih ekstrimnya sebagai mahluk yang tertindas oleh penguasa dan sistem?

Berbicara mengenai orang miskin dalam perspektif sosiologis[3]. Sebenarnya orang miskin itu bukan karena dia itu pemalas yang tidak mau bekerja yang menyebabkan dia menjadi miskin, akan tetapi karena sistem ataupun kebijakan yang dibuat oleh pemerintah itu hanya menguntungkan sebagian pihak saja yang akhirnya merugikan seseorang, yang akhirnya membuat seseorang menjadi miskin. Sebagai contoh: misalnya banyak terjadi mahasiswa sosiologi yang menjadi orang miskin setelah lulus kuliah, karena mahasiswa sosiologi tidak memperoleh ruang pekerjaan. Maksud miskin disini adalah miskin dalam konteks miskin material. Ini sebagai contoh saja, sebenarnya bukan karena mahasiswa sosiologi itu tidak mau mencari kerja,  mereka itu mencari kerja. Akan tetapi memang ternyata pemerintah tidak mau memberikan ruang pekerjaan bagi mahasiswa sosiologi, sehingga banyak mahasiswa sosiologi termarjinalkan. Pemerintah hanya memberikan ruang pekerjaan bagi mahasiswa kedokteran, keperawatan, teknik, FKIP, dan lainnya. Coba kalau pemerintah memberikan ruang pekerjaan bagi mahasiswa sosiologi. Tentu hasilnya akan lain. Ini jika dilihat dalam perspektif sosiologis.

Dalam perspektif liberal yang terjadi saat ini. Menjadi rasional untuk dikatakan bahwa dunia semakin keras. Seperti apa yang dikatakan oleh Herbert Spencer yang menganut Darwinisme Sosial[4]. Bagi mereka yang berkuasa dan kuat, mereka akan merasa dirinya hebat, mereka akan terus bertahan hidup, dan bisa berbuat apapun yang dia mau, termasuk untuk menguasai dan mengeksploitasi mereka yang lemah. Dan mereka yang lemah mungkin akan semakin tereksploitasi serta membuat mereka semakin tak berdaya, mereka yang lemah akan binasa. Apa yang dikatakan oleh Anthony Giddens sebagai juggernaut[5], sebagai panser raksasa. Dunia semakin sulit untuk terkendali dengan makin kompleksnya sistem yang ada di dalam masyarakat. Sistem semakin mendominasi adanya individu yang berada didalamnya. Dapat dikatakan bahwa dunia sekarang sudah semakin keras. Orang yang berkuasa akan semakin menguasai. Sedangkan orang yang lemah akan semakin tergilas dengan yang lebih kuat.

Kembali lagi untuk membahas mengenai hilangnya nilai-nilai individualitas sebagai individu yang bebas. Dalam perspektif liberal memang individu hakikatnya harus bebas. Dalam bahasan ini akan dibahas agak mudur kebelakang, yaitu pada era orde baru[6]. Dalam perspektif fenomenologis ini, coba bayangkan dan renungkan apa yang dirasakan oleh manusia ketika dia hidup pada masa otoritarian rezim Soeharto. Cobalah bayangkan ketika manusia sebagai individu yang  hidup pada masa rezim itu. Apa yang sebenarnya dirasakan oleh individu ketika dia berada dalam penguasaan sebuah rezim yang sangat otoriter. Akankah mereka sebagai manusia yang dikuasai penguasa otoriter sadar akan posisinya yang seperti itu. Memang pada kondisi yang demikian itu sulit bagi individu untuk bisa membebaskan dirinya dari sebuah belenggu penguasa. Jika mereka memberontak, maka mereka akan dilenyapkan oleh penguasa. Bila mereka tak memberontak sedangkan mereka sendiri sadar bahwa mereka sebenarnya harus memberontak, itu sama saja dengan dia sebagai seorang pengecut yang tidak berani melawan ketidakadilan. Namun memang kondisinya tak mudah untuk memutuskan hal itu.

Dengan adanya hal yang semacam itu. Akankah individu sadar akan dirinya sebagai mahluk yang hakikatnya bebas berbuat apa saja dan bebas mengekspresikan apa yang menjadi keinginannya. Jika mereka sadar akan dirinya yang harus bebas dari belenggu otoritarian. Mereka harus mau memberontak dengan segala resiko yang akan dihadapinya.

Dalam pandangan yang kedua akan dibahas mengenai birokrasi yang akhirnya menjadi seperti kerangkeng besi (iron cage) yang mengurung individu. Hal ini merupakan perspektif dari Max Weber[7] (1864-1920). Memang sebenarnya birokrasi itu dibuat untuk memudahkan kehidupan manusia. Namun harus disadari juga bahwa birokrasi ternyata juga menjadi kerangkeng besi yang mengurung individu-individu didalamnya. Mengapa demikian, memang sudah jelas bahwa yang saat ini orang lakukan adalah semata-mata karena mereka takhluk akan hadirnya sebuah sistem. Sistem itulah yang sebenarnya menggerakkan individu-individu. Bukan dari individu itu sendiri.

Pencarian Kebenaran

Dalam sejarah umat manusia. Manusia selalu mencari sebuah kebenaran.[8] Akan tetapi, dimanakah kebenaran itu sebenarnya ada. Dalam pencarian saya pun, saya belum menemukan sebuah kebenaran yang sungguh benar adanya. Kebenaran yang saya dapatkan selama ini hanyalah kebenaran yang relatif dan sering kali tergilas oleh adanya ruang dan waktu. Apakah kebenaran itu memang tidak mau menampakkan dirinya. Atau kebenaran itu memang tidak ada yang sungguh benar adanya. Apakah juga benar ada yang namanya fenomena dan noumena[9]. Lalu dimanakah kebenaran itu berada. Lalu, apakah kebenaran itu tampak sebagai sebuah realitas. Ataukah kebenaran itu tak tampak sebagai realitas namun itu bisa dirasakan.

Dalam sejarah umat manusia. Manusia telah berusaha untuk mencari sebuah kebenaran. Hingga sekarang pun, pencarian kebenaran itu masih terus dilakukan oleh manusia. Hingga selama ini dalam matematika, bila ada pertanyaan satu ditambah satu sama dengan dua. Orang matematika menjawab satu ditambah satu sama dengan dua adalah benar. Namun, bila ditanya angka satu itu apa. Apakah satu itu ayam, apakah satu itu sapi. Satu yang dimaksud itu apa belum dijelaskan. Ketika saya mengatakan bahwa satu sapi jantan dewasa ditambah dengan satu sapi betina dewasa dan mereka melakukan perkawinan. Apakah nantinya ada dua sapi, ataukah lebih dari dua sapi, ataukah berapa itu. Apakah jika saya mengklaim kebenaran dengan menjawab akan ada dua sapi itu benar. Kemudian siapa yang menjamin nantinya jika klaim atas kebenaran yang saya ajukan itu benar. Saya akan mengatakan bahwa tidak akan ada yang menjamin kebenaran itu. Kebenaran itu juga selalu relatif, artinya memang tergantung dari sisi si subyek yang mengamati. Manusia juga memiliki keterbatasan dalam hal indera yang dimilikinya. Seperti apa yang dirasakan oleh Descartes[10]. Dia meragukan segala apa yang dilihatnya. Hingga dia mengatakan cogito ergo sum, jika saya berpikir maka saya ada.

Kaitannya dengan segala keterbatasan indera yang dimiliki manusia itu. Manusia terus berusaha untuk melakukan sebuah pencarian. Yang menjadi pertanyaan, apakah manusia bisa mengetahui ataupun mencapai dunia transendental. Dunia yang tidak mampu untuk dijangkau oleh akal. Apakah kita pernah membayangkan berapa batasan dari angka. Apakah kita pernah membayangkan berapakah batasan untuk benda terkecil. Apakah manusia pernah mengetahui berapakah sebenarnya nilai tak terhingga dalam dunia matematika. Apakah manusia bisa menjangkau dan mengetahui berapa luasnya alam semesta ini. Artinya bahwa manusia memang memiliki keterbatasan untuk menjangkau suatu pengetahuan. Mungkin memang batasan dari pengetahuan manusia adalah hingga pada titik dimana manusia sudah tidak bisa menjangkau apa yang dinamakan dengan dunia yang transendental itu.

Dalam kuliah tentang Fenomenologi yang saya dapatkan di kelas. Saya pernah mengajukan sebuah pertanyaan mengenai siapa yang menjamin sebuah kebenaran.[11] Akan tetapi disini saya tidak pernah memperoleh jawaban yang memuaskan mengenai pertanyaan saya itu. Entah itu jawaban dari dosen saya, ataupun jawaban dari teman diskusi saya. Dan dari semua jawaban yang telah saya dapatkan itu dapat saya simpulkan bahwa ternyata tidak ada yang mampu menjamin sebuah kebenaran. Berkaitan dengan hal ini juga, saya dapat menyimpulkan dengan sisi subyektif saya atas apa yang saya pahami bahwa sebenarnya tidak ada sebuah kebenaran yang absolut, tak ada kebenaran yang mutlak.

Sebuah pencarian yang tak pernah usai. Manusia selalu dan terus selalu mencari sebuah kebenaran. Seperti yang dilakukan oleh para filsuf pra-Sokrates. Pada masa itu, sebuah pencarian seseorang mengenai sebuah kehidupan memang sudah dimulai.[12] Pada masa itu, dongeng-dongeng ataupun mite-mite menjadi sebuah pembenaran bagi hadirnya sebuah kebenaran mengenai segala hal yang berkaitan dengan gejala alam. Pada saat itu, ketika orang melihat pelangi, mereka sudah menjustifikasi bahwa itu benar adalah bidadari yang turun dari langit. Apakah memang itu sebuah kebenaran yang mutlak. Semua orang masih belum tahu, akan tetapi orang yang ada pada masa itu mengatakan bahwa itu adalah benar dengan rasionalitas yang mereka gunakan pada saat itu. Kemudian setelah itu, muncullah beberapa orang yang mulai menggunakan rasionalitasnya dalam melihat sebuah gejala alam yang hadir di dalam kehidupannya. Salah satunya adalah filsuf yang bernama Thales, dia mengatakan bahwa air merupakan asal mula segala sesuatu, karena air meresapi seluruh benda yang ada di seluruh alam jagad raya ini. Dengan melihat statement tadi. Menjadi sebuah pernyataan yang dapat dikatakan menjadi rasional ketika dikatakan demikian, karena orang yang mengatakan itu memiliki alasan logis atas statemennya. Yaitu karena air meresapi seluruh alam.

Siapa Mahasiswa Itu?

Sebuah pencarian yang terus berlanjut hingga saat ini. Yang menjadi sebuah dilema saat ini adalah sikap mahasiswa sekarang. Apakah yang menjadi kegiatan mahasiswa saat ini sudah benar? Sudahkah mereka melakukan sebuah perubahan untuk menjadikan dunia lebih baik? Sudahkah mereka mau memperhatikan dirinya sebagai mahasiswa yang mengemban amanah bagi hadirnya dan bagi berkembangnya ilmu pengetahuan? Sudahkah mahasiswa itu menyadari bahwa dirinya adalah mahasiswa? Dimanakah sebenarnya mahasiswa itu? Apakah dia itu adalah orang yang setiap hari pergi ke kampus? Apakah dia itu yang memakai jas almamater. Berarti di Indonesia ini banyak mahasiswa. Karena di dalam kampus banyak orang yang setiap hari kuliah. Itu adalah kesimpulannya.

Dalam perspektif fenomenologi ini. Saya ingin mencari makna siapakah mahasiswa itu[13]. Dalam kaitannya dengan hal ini, selama ini saya tidak pernah melihat banyak mahasiswa. Saya hanya melihat beberapa mahasiswa. Mungkin orang-orang akan menilai diri saya bahwa saya ini gila. Mungkin orang akan mentertawakan saya juga.  Karena diluar sana banyak sekali mahasiswa. Tetapi kenapa saya mengatakan bahwa mahasiswa hanya beberapa saja. Mengapa demikian, karena saya ingin melihat makna dari dalam tentang mahasiswa, bukan label mahasiswa seperti apa yang ditangkap oleh indera. Jika kita melihat lebih dalam mengenai makna dari makhluk yang berkategorikan mahasiswa. Mahasiswa itu adalah seseorang yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap hadirnya ilmu pengetahuan. Mahasiswa itu adalah orang yang memiliki kepekaan terhadap fenomena-fenomena yang ada disekitarnya. Mahasiswa itu adalah orang yang dapat dipercaya dan memiliki sifat jujur dan memiliki tanggung jawab moral yang tinggi.

Mungkin saya disini akan membuat kritikan yang tidak pedas, tetapi menjadi sangat pedas bila kritikan saya itu dimaknai. Saya berani mengatakan bahwa sebenarnya di kampus itu banyak orang yang pengecut, itu secara ekstrimnya. Mungkin saya juga termasuk orang yang pengecut itu, atau bukan mungkin lagi bahwa memang benar bila saya pengecut. Saya berani mengatakan bahwa di kampus itu banyak penipu. Di kampus itu tempatnya orang yang hanya banyak jualan ide. Lalu yang menjadi pertanyaan adalah dimanakah mahasiswa itu. Jika ada yang mengatakan ada banyak mahasiswa.

Kemudian, siapakah orang yang tiap malam berada di warung kopi itu. Siapakah orang yang setiap hari lebih suka menghabiskan waktunya untuk bermain game dan bersenang-senang saja dari pada belajar. Siapakah orang yang suka titip absen dari pada menghadiri kuliah. Padahal titip absen itu adalah sebuah tindakan menipu. Jika kita memaknai apa itu titip absen dengan seksama. Titip absen itu adalah menipu dosen, dan itu adalah tindakan yang dilakukan oleh seorang yang pengecut. Mengapa demikian, saya berani mengatakan itu karena mengapa dia tidak izin saja bila dia tidak masuk kuliah serta memberikan alasan yang jelas. Mengapa dia tidak menghubungi dosennya saja tentang alasan dia tidak masuk kuliah. Bukankah melakukan sebuah komunikasi itu lebih penting dari pada melakukan tindakan titip absen secara sembunyi-sembunyi. Apakah itu yang dinamakan dengan makhluk yang berkategorikan mahasiswa.

 Sebuah Pergeseran Makna

            Mungkinkah kita pernah ditanya oleh orang lain tentang mengapa kita kuliah dan kita mau jadi apa. Mungkinkah jika kita lulus kuliah dan ketika kita pulang ke kampung halaman kita nanti. Orang akan bertanya tentang apa pekerjaan kita dan kita bekerja dimana. Jika kita maknai pertanyaan ini dengan perspektif kiri ataupun perspektif marxis, ini menjadi sebuah hal yang menyedihkan bagi saya ketika saya ditanya seperti itu. Bukan sedih kepada diri saya, akan tetapi saya sedih kepada orang yang mengajukan pertanyaan itu kepada saya. Betapa tidak, orang-orang mengkorelasikan hubungan antara kuliah dengan pekerjaan. Bukankah kuliah itu ada tanggung jawab akademis untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Akan tetapi mengapa orang-orang mengkorelasikan itu dengan pekerjaan. Apakah memang benar bahwa kuliah adalah tempatnya orang untuk dicetak menjadi kelas pekerja[14].

Jika kita mau berpikir lebih kritis dan mendalam mengenai pandangan yang dilakukan masyarakat bahwa kuliah adalah untuk mencari kerja. Maka itulah berhasilnya hegemoni ideologi kapitalisme dalam mempengaruhi masyarakat. Karena kita ternyata dicetak untuk menjadi kelas pekerja yang nantinya bekerja untuk orang-orang kapitalis. Menjadi orang-orang yang takhluk kepada sistem yang telah dibuat oleh kaum kapitalis. Menjadi orang yang tak bisa memerdekakan dirinya sebagai manusia. Dengan menggunakan perspektif kiri ini, kita dapat mengetahui bahwa ternyata sedemikian pintarnya orang-orang kapitalis menghegemoni masyarakat. Coba renungkan itu dan sadarkan diri kita. Ketika dunia pendidikan sudah dipengaruhi orang-orang kapitalis untuk mencetak mahasiswa menjadi kelas pekerja. Mahasiswa pun juga disiapkan para kapitalis untuk menjadi pekerja yang nantinya bisa memenuhi kebutuhan para kapitalis. Yaitu mahasiswa menjadi pekerja/buruh kapitalis yang nantinya dipekerjakan di bagian-bagian tertentu, ini memang sudah dirancang oleh kaum kapitalis. Ini juga sudah memang menjadi dilema. Akankah mahasiswa sekarang ada yang sadar mengenai hal itu. Apakah mahasiswa hanya akan membiarkan dirinya mengalir mengikuti arus yang dibuat kaum kapitalis. Apakah mahasiswa akan berani melawan arus yang dibuat oleh kaum kapitalis. Sebuah pertanyaan yang mungkin akan terjawab dengan realitas yang ada saat ini.

Dengan kita menggunakan perspektif fenomenologi. Coba kita rasakan pada apa yang dirasakan oleh individu. Kita tentu masih ingat dengan sistem pendidikan kita, yaitu kita harus bisa lulus dari SMA yang hanya ditentukan dengan nilai Ujian Akhir Sekolah yang diselenggarakan hanya beberapa hari saja. Kita akan lulus bila kita bisa melewati batas standar nilai minimal yang ditentukan oleh pemerintah. Dalam kaitannya dengan hal ini, pasti seorang individu akan mengalami tekanan psikologis ketika harus berhadapan dengan sistem yang dibuat semacam itu. Sistem yang dibuat manusia itu menjadi sebuah hal yang sangat menakutkan. Banyak siswa yang menjadi takut bila berhadapan dengan UAS. Inilah contoh sistem yang dirancang oleh orang-orang dengan paradigma positivis. Pemerintah begitu terlihat tidak mau tahu dengan tekanan psikologis yang dialami oleh para siswa. Pemerintah hanya bisa membuat regulasi yang kemudian dipaksakan untuk dijalankan oleh individu didalamnya. Hingga sering kali kita mendengar sampai ada siswa yang bunuh diri ketika dirinya tidak lulus sekolah gara-gara tidak lulus UAS.

Penutup

Jika kita mengkaji lebih banyak lagi dan lebih dalam lagi mengenai apa-apa yang terjadi disekitar kita, sebenarnya masih banyak lagi fenomena-fenomena yang disekitar kita yang perlu kita renungi. Masih banyak fenomena-fenomena disekitar kita yang perlu kita kaji dan kita gali dengan perspektif fenomenologis. Dan akhirnya sebagai penutup tulisan ini, marilah kita munculkan sebuah imaginasi, kemudian merenung sejenak untuk merenungkan apa yang sedang terjadi disekeliling kita. Dan semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua, dan semoga tulisan ini juga menjadi sebuah renungan bagi kita sebagai makhluk yang berkategorikan mahasiswa untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Jika orang berpegang pada keyakinan, maka hilanglah kesangsian. Tetapi, jika orang sudah mulai berpegang pada kesangsian, maka hilanglah keyakinan.

~ Sir Francis Bacon~


[1] Konsep Schopenhauer mengenai dunia adalah kehendak dan bayangan (idea atau representasi)

[2] Konsep Birokrasi Weber yang berujung pada iron cage atau kerangkeng besi

[3] Penulis menggunakan perspektif sosiologi imajinasi C. Wright Mills

[4] Herbert Spencer memiliki pandangan liberal, yaitu terjadinya seleksi alamiah. Survival of the fittest bahwa individu kuat akan berkembang dan yang lemah akan punah

[5] Pandangan Giddens tentang modernitas seperti sebuah juggernaut atau panser raksasa

[6] Era orde baru merupakan masa berkuasanya rezim Soeharto yang terkenal otoriter

[7] Max Weber merupakan salah satu dari 3 founder sosiologi, selain Durkheim dan Marx

[8] Penulis mengambil rentang waktu dari filsuf Thales (640-550 SM) hingga sekarang

[9] Filsuf Jerman Kant. Fenomena adalah kebenaran yang tampak dari luar. Noumena adalah kebenaran dalam benda itu sendiri

[10] Filsuf dengan pandangan rasionalis, dia meragukan segala sesuatu kecuali ketika dia sedang meragukan sesuatu itu.

[11] Ini merupakan konsep pencarian penulis mengenai siapa yang menjamin kebenaran tentang sebuah kalim kebenaran

[12] Masa-masa perkembangan pemikiran filsafat barat pada zaman Yunani Kuno sekitar abad 6 sebelum masehi

[13] Analisis penulis dalam melihat mahasiswa dalam perspektif fenomenologis

[14] Penulis menghubungkan paradigma kuliah yang berorientasi kerja dengan perspektif kiri untuk menentang kapitalisme

Categories: Filsafat, Teori Sosiologi Modern | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: