REFLEKSI MENGENAI RESISTENSI SUBYEK BUDAYA DAN SENI TERHADAP PEMBUNGKAMAN JIWA DAN PENGOBJEKTIFAN TUBUH DI DALAM DUNIA MODERN

REFLEKSI MENGENAI RESISTENSI SUBYEK BUDAYA DAN SENI TERHADAP PEMBUNGKAMAN JIWA DAN PENGOBJEKTIFAN TUBUH DI DALAM DUNIA MODERN

Oleh:

Tri Mahendra

 

Perenungan akan hadirnya budaya dan seni saat ini

 

REFLEKSI MENGENAI RESISTENSI SUBYEK BUDAYA DAN SENI TERHADAP PEMBUNGKAMAN JIWA DAN PENGOBJEKTIFAN

TUBUH DI DALAM DUNIA MODERN

Sebuah perenungan akan hadirnya budaya dan seni di masa sekarang…..

Jika dalam soal tersebut dikatakan bahwa sosiologi seni merupakan perkembangan dari sosiologi budaya. Dalam perkembangan selanjutnya sosiologi seni masih mempertanyakan tentang keindahan seni yang mengagungkan humanitas manusia. Disuatu sisi lainnya, ternyata dalam seni tak pernah bisa lepas dari kerangka sudut pandang teori yang melibatkan sisi historis yang melingkupi perjalanannya. Jika ini ditarik kedalam pandangan Foucault mengenai arkeology dan geneology. Arkeology Foucault memfokuskan pada kondisi historis yang ada (yang kenyataannya sangat panjang). Sedangkan pada geneology Foucault memfokuskan tentang asal-usul (dalam sejarah yang konkrit) dan (terutama keterputusan) perkembangan rezim-rezim kekuasaan[1].

Dalam bahasan mengenai arkeology dan geneology Foucault. Disini akan ditarik ke arah budaya musik. Terkait dengan musik, tentu musik memiliki perkembangannya sendiri yang terlepas dari aspek-aspek lain yang mempengaruhinya, musik memiliki alur dan historisnya sendiri-sendiri. Akan tetapi zaman modern ini, dimana rasio menjadi hal yang utama dalam menjawab segala permasalahan dunia. Dunia menjadi tersistem dan semakin terobjektifikasi, itu semua tercipta karena rasio. Dunia yang semakin terobjektifikasi telah menghilangkan eksistensi dari subjek itu sendiri. Hal itu tentu sangatlah mengerikan, karena kita tahu bahwa dunia seni tak kan pernah bisa lepas dari subjek yang menghidupi seni itu sendiri. Akan tetapi, hadirnya dunia modern yang seakan-akan terus menggilas dunia subjek tak pernah berhenti. Dunia menjadi rasional dengan munculnya birokrasi, namun menjadi irrasional ketika birokrasi berimbas pada kerangkeng besi atau iron cage (konsep Weber). Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah. Apa benar yang dikatakan Giddens bahwa modernitas adalah juggernaut, sebagai panser raksasa yang sewaktu-waktu bisa mengamuk. Atau seperti yang dikatakan Habermas bila modernitas adalah proyek yang belum selesai[2]. Perlu diketahui bahwa modernitas selama ini telah membungkam eksistensi si subyek. Dan perlu untuk diketahui juga bahwa yang menghidupi seni adalah si subyek itu sendiri. Seakan-akan hanya penguasa yang bisa memiliki power untuk untuk menggerakkan individu-individu. Dengan menggunakan sistem, seakan-akan penguasa bisa mengusai kehidupan individu-individu dalam dunia ini. Namun dalam menanggapi hal demikian, Foucault menyatakan bahwa dibalik dari sistem serta power yang dimiliki oleh penguasa, selalu ada keretakan. Dan keretakan itulah yang bisa menimbulkan celah untuk melakukan sebuah couter power.[3] Terkait dengan itu, ini bisa dikaitkan dengan model seni arsitektur penjara panopticon.

Dalam dunia seni arsiktektur, lihatlah pada panopticon. Sebuah penjara dengan tingkat pengawasan dan pendisiplinan tinggi. Dimana individu yang berada didalamnya sungguh berada dalam pengawasan yang ketat. Dalam pandangan Foucault mengenai disiplin and punish (disiplin dan hukuman)[4], dalam pandangan Foucault telah dinyatakan bahwa awalnya hukuman dilakukan pada tubuh manusia. Akan tetapi dengan munculnya penguasa dan birokrasinya. Hukuman tidak lagi berada dalam tubuh manusia,  hukuman beralih menghukum jiwa dan kehendak manusia[5]. Mereka(penguasa) berkilah bahwa penghukuman fisik adalah tak humanis. Jadi mereka beralih untuk menghukum tubuh dengan cara tak menyakiti tubuh. Tapi mereka mengurung tubuh dalam suatu penjara yang selalu terawasi. Inilah bentuk dari pendisiplinan tubuh ala zaman modern yang dianggap humanis. Mereka mengatakan bahwa ini demi normalitas, namun apakah dengan cara seperti ini dikatakan sebagai yang manusia (penguasa) yang memanusiakan manusia. Tentu ini bukan memanusiakan manusia. Lihatlah didalam penjara panopticon yang arsitekturnya dibentuk sedemikian rupa untuk mengkontrol individu. Dengan adanya penjara panopticon ini, individu diobjektifikasi. Individu menjadi dibendakan, karena hasrat, insting, nafsu, kreatifitas yang ada pada individu seluruhnya telah dibekukan dengan hadirnya sistem penjara panopticon tersebut. Bila direfleksikan dalam kehidupan sehari-hari, banyak model-model institusi atau lembaga yang dibuat dengan pengawasan seperti itu. Lalu bila ini telah terjadi, kemudian dimana eksistensi subyek itu.

Dalam pandangan saya mengenai penjara dengan seni arsitektur panopticon ini. Ini adalah sebuah sistem penjara yang begitu tidak manusiawi. Dimana tubuh tidak lagi menjadi pusat dari hukuman. Akan tetapi hukuman ini langsung menuju kearah psikis manusia. Tentu ini lebih mengerikan. Coba lihat dan refleksikan pada kehidupan kita, bahkan pada kampus kita. Akankah ada sistem yang demikian itu. Jika memang itu ternyata ada dalam kehidupan kita. Berarti selama ini kita telah dibungkam dalam belenggu sistem. Adakah yang tersisa dari tubuh ketika tubuh terpenjara dalam sistem. Lalu dimanakah daya hasrat, kreatifitas, naluriah yang dimiliki oleh manusia. Apakah itu semua telah ikut terpenjara di dalam tubuh. Lalu siapa yang menggerakkan tubuh ini. Untuk menjawab pertanyaan itu, hanya dengan refleksi dan perenungan kitalah yang akan memberi jawaban. Tak ada yang tersisa dari tubuh, tubuh kini bukanlah milik individu itu. Tubuh itu milik sistem. Dan yang bisa memiliki tubuh adalah manusia yang bisa menggerakkan dirinya diluar garis-garis pembungkaman tubuh (keluar dari iron cage atau kerangkeng besi dalam konsepnya Weber) oleh sistem ataupun aturan-aturan birokrasi[6].

Pertanyaannya saya sekarang adalah:

Dimanakah eksistensi budaya dan seni saat itu? [7]

Lihatlah seni sekarang!!!!

Adakah yang tersisa dari eksistensi seni?

Adakah yang tersisa dari alur yang telah dibuat oleh dunia seni itu sendiri? [8]

Dimana alur dari seni itu kemudian?

Coba lihatlah kapitalis yang dengan leluasa telah mengotori dunia seni….

Kapitalis telah membelokkan arah seni kedalam dunia material….

Mungkin benar yang dikatakan Simmel mengenai hilangnya subyek dalam budaya yang diciptakannya…..

Budaya menjadi sebuah dunia-dunia yang terobjektifikasi[9]…..

Lalu dimana keberadaan subjek itu?

Lihatlah dengan begitu rakusnya kapitalis telah mengkomersialkan seni…. Bukankah seni itu berasal dari jiwa….

Lalu dimanakah jiwa itu kemudian…..

Dalam pandangan Foucault mengenai musik. Musik seharusnya memiliki circuit dan tracy (konsep Foucault). Akan tetapi coba kita amati dunia musik saat ini. Saya ingin merefleksikan itu pada dunia musik Indonesia maupun musik mancanegara. Adakah musik sekarang yang masih memiliki jejak dan alurnya sendiri. Coba kita telisik dengan perspektif kritis. Saya adalah penikmat musik mancanegara sekaligus penikmat musik Indonesia. Setelah saya mengamati antara musik mancanegara dan musik Indonesia. Ternyata sama, ada komersialisasi musik disana. Tak ada musik yang diciptakan benar-benar dari jiwa individu yang mencipta musik. Akan tetapi musik diciptakan untuk memenuhi kebutuhan pasar(market oriented). Kebutuhan yang menjadi trend bagi publik. Lihatlah tangga lagu-tangga lagu yang dihimpun dan di update oleh para kapitalis. Kenapa musik dibuat tangga lagu seperti itu. Betapa kita sebenarnya diarahkan untuk mendengarkan lagu-lagu yang sudah di daftar di posisi tangga lagu tertentu. Coba kemudian kita lihat para kapitalis yang kemudian memanfaatkan itu untuk kepentingan profit (kapitalis menggunakan itu sebagai basis profit oriented). Semua menjadi terobjektifikasi, terbendakan, dan dinilai dengan uang.

Setelah kita tahu dengan hadirnya dunia musik yang dibuat demikian oleh para kapitalis. Kemudian dimanakah alur dan jejak yang dimiliki oleh dunia musik itu sendiri. Lalu dimanakah eksistensi dari musik-musik daerah, musik-musik lokal. Seakan-akan kita diarahkan pada musik yang diuniversalkan, yaitu musik yang bertengger di dalam tangga lagu yang berada pada posisi paling atas. Dalam Contemporery music and the public, Foucaut mengatakan bahwa musik rock merupakan sebuah antitesis dari berbagai musik yang ada. Musik rock sebagai inisiator tersendiri bagi perkembangan musik selanjutnya. Tampaknya rock lebih diterima dan menjadi gaya hidup di dalam masyarakat. Dalam Contemporery music and the public Foucault mengatakan bahwa Rock memungkinkan adanya hubungan yang kuat antar anggotanya, menciptakan soidaritas yang inten dan berjiwa[10].

Berbicara mengenai lukisan, mari kita beranjak ke pandangan Foucault mengenai lukisan. Mengenai Las Meninas[11], dimana pelukis berdiri dibelakang kanvas tempatnya melukis. Dia melukis sebuah objek, akan tetapi lihatlah bahwa penulis juga menempatkan dirinya menjadi objek yang dia lukis sendiri, padahal dia sedang bekerja untuk melukis sebuah objek. Pada sisi inilah pelukis bisa dikatakan berada pada posisi yang netral, posisi subjek sebagai objek meski dia sebenarnya subjek yang melukis. Lihatlah dia mengobjekkan dirinya sebagai objek yang dilukisnya. Inilah mungkin yang bisa dikatakan sebagai perwujudan dari sebuah representasi. Seakan tak ada lagi sisi subjek yang melukis lukisan itu

( las meninas). Karena disini pelukis telah meleburkan diri kedalam objek yang dilukisnya. Dalam kaitannya dengan lukisan itu, terdapat sebuah hal menarik yang dapat diamati. Saya mengaitkan ini sebagai penghilangan sisi subjek. Dimana pelukis tidak mau menggunakan sisi subjektifnya. Yang ada adalah pelukis mengobjekkan dirinya.

Bahasan tentang Foucault selanjutnya adalah mengenai film. Lihatlah film-film yang ada akhir-akhir ini. Mungkin kita akan menemukan film-film yang berbau sadis. Mungkin kita akan merasa ngeri dengan film-film itu. akan tetapi, kita sebenarnya juga bisa menikmati film-film yang berbau sadis itu. Bahkan ketika film itu menampilkan hal yang sangat sadis, itu akan menjadi lebih menarik. Dalam essential works of Foucault di bahas mengenai body fragment. Ini berkaitan juga dengan sade, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan perbuatan sadis yang dilakukan seseorang terhadap tubuh. Lihat disana seseorang dengan begitu dingin melukai organ-organ tubuh mereka sesuai yang mereka sukai. Misalnya seperti lidah yang dikeluarkan dari bibirnya, kemudian dengan mudahnya dia menggigit lidah itu hingga terpotong[12].

Film-film kontemporer saat ini lebih menampilkan hal-hal yang baru, yaitu mengenai sadisme itu sendiri. Lihat saja tubuh ini, semua begitu terorgan dan terhirarki. Tampaknya beberapa film-film kontemporer lebih menayangkan bagaimana cara membuat tubuh menjadi hal-hal yang berbeda. Lihat saja manusia begitu bergantung dengan mata untuk melihat. Bergantung pada lidah untuk berbicara dan mengecap. Kemudian apa yang terjadi bila itu semua diubah kedalam hal-hal yang tidak biasa. Itulah semua yang terjadi di dalam film kontemporer. Lalu bagaimana dengan pemeran tokoh-tokoh yang berbau sadis dalam film itu. Apakah mereka bisa dikatakan sebagai korban dari kekerasan sadisme itu. Itulah sinematografi, bagaimana kamera dapat mengeksplorasi tubuh untuk dibuat seperti apapun. Dengan kamera itu, tubuh tampak seperti nyata yang terlihat seseorang tampak dengan sadar menyakiti atau memotong bagian tubuhnya. Inilah kegilaan dalam sade, sebuah hal yang mengerikan akan ditampakkan disana.

Sebagai penutup dari tulisan ini. Dapat ditarik kesimpulan bahwa dunia dunia modern telah melakukan pembungkaman terhadap eksistensi subyek. Dunia modern terlihat begitu kaku dan otonom ketika mengatur individu. Dunia modern yang begitu diagungkan, dibangga-banggakan, ternyata menyimpan keretakan-keretakan. Dimana tubuh individu mejadi sasaran pendisiplinan yang tinggi. Dengan dalih normalisasi dan keteraturan. Individu tak beda dengan halnya benda yang tak memiliki arti apa-apa. Inilah bukti dari kebusukan dunia modern. Dunia modern yang terlihat begitu rapi, bersih, dan teratur. Akan tetapi lihatlah didalamnya, ternyata penuh dengan kebobrokan. Terlihat bahwa dunia modern tak sanggup untuk memberikan ruang kepada individu untuk kreatif. Akan tetapi yang terjadi adalah robotisasi individu, yang selalu digerakkan bagaikan mesin. Inilah dunia modern. Dunia yang rasional dibalik keirasionalannya.

DAFTAR PUSTAKA

Foucault ,Michel; Pierre Boulez; John Rahn.Contemporary Music and the Public. CNAC Magazine no. 15 (May-June 1983), 10-12.

Foucault ,Michel.2002. The Order of Things An Archaelogy of the Human Sciences. London

Foucault ,Michel. Essential Works of Foucault. aesthetics, method, and epistemology. Vol.2

Ritzer, George. 2010. Teori Sosial Postmodern. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Ritzer, George & Douglas J. Goodman. 2010. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana.


[1] Penulis mengutip  buku teori sosial postmodern karangan Ritzer tentang arkeology hal.67 dan tentang geneology hal.78

[2] Penulis mengambil istilah-istilah modernitas dari Habermas dan Giddens ini dari Buku Teori Sosiologi Modern karangan George Ritzer

[3] Refleksi penulis dari hasil kuliah, bahwa didalam setiap adanya tekanan yang dilakukan penguasa terhadap individu akan selalu ada counter power.

[4] Lihat dalambuku teori sosial postmodern karangan Ritzer mengenai disiplin and punish hal. 93-107

[5] Lihat dalam buku teori sosial postmodern karangan Ritzer mengenai disiplin and punish hal. 100

[6] Refleksi penulis mengenai dunia kampus yang telah membungkam tubuh-tubuh individu oleh sistem.

[7] Perenungan penulis akan hadirnya kapitalisme yang telah menjangkiti dunia seni

[8] Pandangan Foucault mengenai dunia seni musik yang seharusnya memiliki alurnya sendiri-sendiri(circuit) dan memiliki jejak(tracy) dalam referensi contemporery music and public

[9] Pandangan Simmel mengenai budaya objektif dan budaya subyektif yang begitu saling berkontradiktif

[10] Contemporary Music and the PublicMichel Foucault, Pierre Boulez, John Rahn

Perspectives of New Music, Vol. 24, No. 1. (Autumn – Winter, 1985), pp. 6-12.

[11]Pemahaman penulis mengenai lukisan dalam Foucault, Michel (2002) The order of thing.An Archeology of the human sciences. Las Meninas

[12] Penulis memahami tentang apa yang ditampakkan pada sade dalam film-film kontemporer. Penulis memahami ini dari essential works of Foucault. aesthetics, method, and epistemology.

Categories: Sosiologi, Sosiologi Budaya | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: