REKONSTRUKSI BUDAYA DALAM MENGUBAH PERILAKU SOSIAL MASYARAKAT

REKONSTRUKSI BUDAYA DALAM MENGUBAH PERILAKU SOSIAL MASYARAKAT

Oleh Solik Wahyuni

Mahasiswa Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember

solik wahyuni

Berbicara mengenai masalah budaya dan menganalisis sebuah sistem budaya tidaklah mudah karena yang kita bicarakan ini adalah sesuatu yang sifatnya abstrak dan kompleks. Sistem budaya tidak dapat berdiri sendiri, hal ini karena untuk melihat atau mengamati masalah pada sistem budaya ini dapat diamati melalui gejala-gejala yang ada di dalam sistem sosial masyarakat tersebut. Sistem sosial merupakan bentukan dari sistem tingkah laku individu di dalam masyarakat. Sedangkan sistem budaya itu sendiri merupakan hasil dari cita, rasa, karsa dan karya manusia dalam kehidupan sosialnya yang bersifat dinamis, baik karena dipengaruhi oleh faktor dalam diri individu (faktor internal) atau faktor sosial (faktor eksternal).

Ada satu pertanyaan penting mengenai masalah-masalah sistem sosial yang selalu dikaitkan dengan sistem budaya, yakni mengapa untuk mengubah pola perilaku sosial masyarakat harus merubah budaya yang ada didalam masyarakat tersebut. Hal ini karena ada hubungan kausalitas antara sistem sosial dan sistem budaya. Termasuk terkait dengan perubahan budaya yang berpengaruh terhadap sistem sosial budaya masyarakat yang mengatur pola perilaku dan hubungan yang disesuaikan dengan nilai dan norma yang berlaku di dalam masyarakat sesuai dengan apa yang telah menjadi kesepakatan dan kebiasaan masyarakat[1].

Sistem sosial masyarakat Indonesia yang tercermin pada perilaku sosial masyarakat menjadi suatu kebiasaan yang dilakukan secara berulang-ulang. Dan hal demikian dianggap sebagai perilaku yang pantas yang akhirnya menjadi budaya dan menjadi bagian dari sistem yang ada di dalam kehidupan masyarakat yang sudah menjadi suatu rangkaian.

Wujud konkrit keterkaitan diatas terlihat jelas pda sistem budaya di Indonesia khususnya di Jawa. Keadaan Indonesia dengan heterogenitas budayanya dan sikap bangsa yang terbuka akan adanya perubahan, akan tetapi dalam hal ini perubahan yang dimaksud adalah perubahan yang disesuaikan dengan unsur-unsur yang sebelumnya sudah ada yaitu nilai dan norma yang ada di dalam masyarakat.

Apabila melihat masalah yang berkaitan dengan sistem sosial masyarakat khususnya masyarakat desa yang telah berkurang budaya gotong royongnya, misalnya gotong royong dalam membuat rumah. Dahulu masyarakat itu membuat rumah bersama-sama dan saling bekerja sama. Sehingga didalamnya terdapat hubungan timbal balik antar orang yang satu dengan yang lain. Setiap kesibukan yang ada didalam individu, bisa menjadi kesibukan juga buat orang lain.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu solidaritas antar individu yang ada menjadi menurun. Karena adanya interaksi budaya yang dimiliki dengan budaya yang lain yang berbeda. Dan kebudayaan yang lain itu dianggap lebh maju dan dapat mengerjakan sesuatu secara efisien. Pergantian sistem gotong royong menjadi sistem borongan atau pekerjaan buruh mengakibatkan budaya gotong royong menjadi menurun.

Sebenarnya dengan adanya gotong royong akan mendorong masyarakat untuk berkumpul, bekerja sama dalam lokasi yang sama. Sehingga ini bisa meningkatkan solidaritas antar anggota masyarakat. Budaya gotong royong telah diadopsi oleh bangsa Indonesia khususnya Jawa sejak masa kolonialisme Belanda di Indonesia. bahkan hingga saat ini masih bertahan. Namun, ada perbedaan yang jelas antara gotong royong pada saat itu dan masa sekarang ini. Dahulu kala, gotong royong yang dituangkan dalam bentuk kerja bakti tidak hanya dilakukan pada hal-hal yang sifatnya untuk kepentingan umum, seperti halnya membangun masjid, pembangunan jembatan dan lain-lain yang sifatnya adalah fasilitas untuk kepentingan umum. Bahkan untuk kepentingan-kepentingan yang sifatnya pribadi seperti hajatan-hajatan rumah tangga yang juga melibatkan banyak orang.

Menurut para ahli yang mengamati interaksi antar individu di dalam masyarakat, gejala diatas merupakan corak kehidupan masyrakat desa yang mempunyai solidaritas mekanik. Perilaku masyrakat yang sudah membudaya dengan adanya kebersamaan menjadikan gotong royong tersebut sebagi budaya yang perlu dilestarikan untuk mengikat kesatuan kolektif antar kelompok. Hal itu dilakuakn untuk meningkatkan integrasi terhadap lokalitas dan in group feeling di dalam masyarakat.

Budaya gotong royong tersebut sekarang ini seakan-akan sudah tergerus oleh zaman seiring dengan arus globalisasi yang ada dan canggihnya tekhnologi sert alih fungsi tenaga kerja menjadi tenaga mesin. Seiring dengan ditemukannya banyak discovery menyebabkan pola pikir masyarakat lebih mendasarkan pada cara kerja yang efektif dan efisien, termasuk dengan alih fungsi tenaga manusia menjadi tenaga mesin. Hal inilah yang menyebabkan sistem budaya gotong royong mulai ditinggalkan oleh masyrakat. Meskipun demikian, istilah gotong royong ini selalu melekat pada tradisi kebudayaan masyarakat jawa yang memiliki tingkat kekerabatan yang tinggi.

Indonesia sebagai negara yang terbuka akan masuknya kebudayaan asing, terutana budaya- budaya yang memberikan dampak negatif.Seperti halnya sistem budaya kapitalistik yang nantinya membuat masyarakat lebih bersifat individual dan mengendorkan nilai-nilai sosialistik di dalam masyarakat.Mereka lebh cendrung fokus pada pekerjaan masing-masing dan menilai semuanya dengan uang.Hal ini dapat di lihat pada masyarakat perkotaan. Selain itu masuknya budaya barat juga mempengruhi budaya masyarakat dalam kehidupan sosialnya lebih cuek, bersifat acuh tak avuh dan bersifat egoistik.

Melunturnya sistem budaya sosialistik yang di gantkan dengan sistem budaya kapitalistik berpengaruh pada perilku masyarakat yang tercermin pada sistem sosial masyarakat karena perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat merupakan bagian dari perubahan sistem budaya yang sudah menjadi tonggak atau sendi dari kebudayaan. Apabila sekarang ini gaya hidup masyarakat sudah mengikuti gaya gidup budaya barat(westernisasi) tidak menutup kemungkinan perilku sosial masyarakat juga akan berubah. Jadi, perubahan yang demikian akan mengancam integrasi di dalam masyarakat dalam istilah Sosiologi adalah antended change(perubahan yang tidak di kehendaki).

Faktor perubahan sosial tidak hanya di pengaruhi dengan masuknya kebudayaan dalam masyarakat(difusi, asimilasi,penetrasi dan akulturasi) melainkan karena perubahan pola pikir masyarakat terhadap ketidak puasan terhadap situasi yang ada dan ingin merubahnya, mungkin masyrakat yang sampai saat ini masih mempertahankan budaya gotong royoong pun mulai berpikir bahwa kegitan-kegiatan yang sifatnya sosial tersebut dapat dikerjakan sendiri dengan membayar orang atau melalui sitem borongan. Kalau sudah seperti ini orang-ornag yang ada disekitarnya pun enggan untuk turut membantunya, mungkin ini cocok diterapkan untuk masyarakat perkotaan dengan corak hubungannya yang gesselscaft[2]. Karena hubungan yang terjadi diantara mereka hanya berdasar pada kontrak dan kesibukan-kesibukan yang menuntut mereka untuk fokus bekerja, sehingga tidak ada waktu untuk membaur dengan orang-orang yang ada disekiternya, apalagi untuk kegiatan seperti gotong royong. Padahal mereka merasa tanpa gotong royongpun bisa dikerjakan.

Masalah seperti diatas sekarang sudah menjalar pada masyarakat pedesaan, yang notabenenya memiliki budaya gotong royong yang sanagt kental sekarang sudah mulai memudar pula.

Motivational force[3] masing-masing individu berbeda. Hal ini terkait dengan pola pikir yang membentuk mereka untuk bertindak, seperti adanya pengetahuan tentang perbedaan apa yang ada dan apa yang seharusnya ada. Dala hal ini termasuk individu yang ada di dalam masyarakat menginginkan adanya kebebasan-kebebasan dalam bertindak tanpa dibatasi oleh adanya adat dan tradisi. Kemudian, pola pikir terhadap perubahan di dorong adanya kebutuhan-kebutuhan dari dalam untuk mencapai efisiensi dan peningkatan produsi atau prestasi kerja yang keduanya disesuaikan dari upaya yang dilakukan individu terhadap hasil yang telah dilakuaknnya. Jadi mereka tidak mengharapkan adanya bantuan dai masyrakat lain, dan merekapun juga tidak membantu masyarakat lain.

Selain itu, pola pikir yang ada dalam individu adalah bentukan dari keluarga. Sedangkan keluarga merupakan tempat untuk sosialisasi yang pertama dalam proses sosialisasi yang disesuaikan dengan nilai dan norma yang ada di dalam masyarakat. Bagaimana di dalam proses sosialisasi individu dikenalkan dengan nilai-nilai yang berlaku di dalam masyarakat termasuk adat dan tradisi (khususnya masyarakat desa). Hal ini bertujuan supaya individu dapat menyesuaikan dirinya dengan lingkunagn, sehingga nantinya tidak terjadi kejutan budaya( cultural shock).

Kemudian keluaraga akan membentuk masyarakat berdasarkan pada nilai yang telah ditanamkan di dalam keluarga ( reorganisasi)[4]. Masyarakat kota di dalam keluarga menanamkan niali-nilai individual itulah yang nantinya i terapkan di dalam masyarakat, begitupun sebalikanya masyarakat desa menanamkan nilai-nilai gotong royong dan kerja sama. Itulah nantinya yang diterapkan individu dalam masyarakat.

Di daerah Blitar sendiri, sudah sangatjelas perbedaan antara sebelum dan sesudah adanya perubahan. Terutama kemunculan para borjuis-borjuis kecil, orang-orang kaya baru yang sudah memiliki pola pikir seperti orang kota yang individualis.

Jadi, untuk menangani masalah seperti diatas dan mengembalikan sistem sosial yang ada di dalam masyarakat. Maka hal utama yang harus diutamakan adalah merekonstruksi budaya yang ada didalam masyarakat tersebut. Karena dengan merekonstruksi budaya secara otomatis akan mengubah perilaku sosial. Misalnya dengan menggiatkan budaya yang dahulunya telah luntur kembali, yaitu gotong royong, kerja bakti, bersih desa dan sebagainya. Hal ini dapat diimplementasikan dengan cara memberikan sosialisasi kepada masyarakat.

Dari sekian contoh yang ada diatas, dapat disimpulkan bahwa ternyata memang ada keterkaitan yang signifikan antara sistem sosial dan budaya di dalam masyarakat. Karena perubahan sistem budaya akan diikuti oleh perubahan sistem sosial yang merupakan abstraksi sekaligus pedoman yang dihasilakan oleh masyarakat melalui perilaku sosial.


[1] Ini sebenarnya mirip dengan teori yang kontrak sosial seperti yang dikemukakan oleh Thomas Hobbes.

[2] Gesselscaft merupakan corak hubungan pada masyarakat kota yang besifat konstraktual. ini sangat berbeda sekali dengan gemeinscaft. (Ferdinand Tonnies)

[3] Ini merupakan faktor pendorong kecenderungan perubahan individu dalam masyarakat.

[4] Reorganisasi merupakan penanaman kembali nilai-nilai yang telah disepakati di dalam masyarakat.

Categories: Sistem Sosial Budaya Indonesia, Sosiologi | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: