Pola perilaku masyarakat Desa Ringintelu Kecamatan Bangorejo Kabupaten Banyuwangi dalam aspek kesehatan

Pola perilaku masyarakat Desa Ringintelu Kecamatan Bangorejo Kabupaten Banyuwangi dalam aspek kesehatan

Oleh Tri Mahendra

BAB 1. PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Desa Ringintelu Kecamatan Bangorejo merupakan wilayah yang berada di Kabupaten Banyuwangi bagian selatan. Kondisi masyarakat yang ada disana kebanyakan sudah memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap kesehatan mereka. Terutama ketika mereka sedang sakit yang tidak begitu parah, mereka memiliki pola perilaku untuk berobat kepada mantri/perawat. Namun ketika mereka sakit parah, mereka cenderung berobat ke rumah sakit. Di Desa Ringintelu sendiri telah memiliki seorang mantri yang sangat terkenal yang berasal dari desa sebelah. Beliau bernama Bapak Bagio. Ketika ada masyarakat Desa Ringintelu yang sedang sakit. Mereka selalu berobat ke Bapak Bagio. Kebanyakan dari masyarakat Desa Ringintelu sembuh ketika berobat kepada Bapak Bagio.

Ada hal yang berbeda terkait dengan pola perkembangan sosial masyarakat Desa Ringintelu. Dimana pada waktu dahulu masyarakat Desa Ringintelu lebih cenderung percaya kepada dukun ketika sedang sakit. Misalnya saja ketika ada ibu yang ingin melahirkan anak. Di zaman dahulu mereka lebih suka melakukan proses persalinan lewat dukun bayi. Namun untuk saat ini, para ibu yang ingin melahirkan anaknya lebih percaya kepada bidan atau rumah sakit. Perubahan-perubahan tersebut terjadi seiring dengan kemajuan zaman melalui modernisasi. Apalagi saat ini banyak dari generasi muda yang sudah berpendidikan. Sehingga tradisi-tradisi lama yang secara ilmu pengetahuan tidak logis sudah jarang dipercayai lagi. Jika dahulu ketika ada orang yang sedang sakit disangka karena dibuat sakit oleh orang lain. Saat ini pandangan-pandangan tersebut sudah mulai memudar.

Jika merujuk pada teori dari August Comte tentang hukum tiga tingkatan intelektual masyarakat. Yaitu dimulai dari tahap teologis, metafisik, dan positivis. Dimana ketika masyarakat masih mempercayai tentang hal yang bersifat spiritual masyarakat tersebut masuk dalam kategori teologis. Yang pada akhirnya mereka masuk dalam tahap metafisik dan positivis. Begitupun pada masyarakat Desa Ringintelu saat ini bisa dikatakan telah masuk dalam tahap positivis karena telah mempercayai ilmu pengetahuan modern.

Dari permasalahan yang ada diatas, penulis tertarik untuk mengetahui lebih dalam mengenai “Pola perilaku masyarakat Desa Ringintelu Kecamatan Bangorejo Kabupaten Banyuwangi dalam aspek kesehatan”.

 

1.2 Perumusan Masalah

Permasalahan terkait dengan fenomena masyarakat dalam bidang kesehatan merupakan fenomena yang menarik untuk dibahas. Dalam hal ini masalah yang akan dikaji adalah: Bagaimana pola perilaku masyarakat Desa Ringintelu Kecamatan Bangorejo Kabupaten Banyuwangi dalam aspek kesehatan?

 

1.3 Tujuan dan Manfaat

1.3.1 Tujuan

Tujuan dari jurnal ini adalah untuk mengetahui bagaimanakah pola perilaku masyarakat Desa Ringintelu Kecamatan Bangorejo Kabupaten Banyuwangi dalam aspek kesehatan.

1.3.2 Manfaat

Manfaat dari jurnal ini adalah dapat memberikan wawasan dan pengetahuan terutama pada masyarakat Desa Ringintelu Kecamatan Bangorejo Kabupaten Banyuwangi di bidang kesehatan.

BAB 2. TINJAUAN TEORI

 

2.1 Pengertian Kebudayaan

Kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.[1]

 

2.2 Tahap Perkembangan Intelektual

Dengan menggunakan pendekatan August Comet terkait dengan hukum tiga tingkatannya. Menurut August Comte masyarakat, ilmu pengetahuan, individu dan pemikirannyam berkembang melalui tiga tahapan intelektual ini. tahap yang pertama adalah tahap teologis, dalam tahap ini gagasan utamanya adalah menekankan pada keyakinan bahwa kekuatan adikodrati, tokoh agama, dan keteladanan kemanusiaan menjadi dasar segala sesuatu. Dunia sosial dan alam fisik pada khususnya dipandang sebagai ciptaan Tuhan. Tahap keuda adalah metafisik, dimana ditandai oleh keyakinan bahwa kekuatan abstraklah yang menerangkan segala sesuatu, bukannya dewa-dewa personal. Yang terkhir adalah tahap positivistik, ditandai oleh keyakinan terhadap ilmu sains.[2]

2.3 Sakit dalam Aspek Sosial

Dalam aspek ini sakit disebut sebagai perilaku menyimpang. Karena secara sosiologis karena dengan adanya sakit dianggap gagal dalam memenuhi pengharapan-pengharapan yang diterapkan dalam kelembagaan dari satuu atau lebih peran dalam mana individu itu dilibatkan dalam masyarakat. Orang sakit tersebut tidak mampu memenuhi kewajiaban-kewajiban sosial normal, dan motivasi orang sakit untuk menjadi sakit atau tidak mau sembuh menjadi acuan pada kenyataan ini. menjadi anggota kelompok sosial yang normal itu adalah salah satu aspek dari sehat, proses penyembuhan individu yang sakit harus dilakukan agar kapasitas untuk memainkan peran-peran sosial dapat berjalan secara normal.[3]

BAB 3. METODE PENULISAN

3.1 Tahap Persiapan

            Di dalam tahap ini penulis mempersiapkan bahan-bahan berupa buku-buku dan hasil dari perkuliahan yang ada kaitannya dalam aspek kesehatan pada masyarakat.

3.2 Tahap Pengumpulan Data

Dalam pengumpulan data penulis menggunakan metode observasi. Dimana penulis meninjau masyarakat yang ada di daerah observasi. Daerah observasi yang dilakukan merupakan daerah tempat tinggal penulis.

3.3 Analisis Data

            Pada tahap ini penulis mempelajari buku-buku yang ada kaitannya dengan karya ilmiah ini. Kemudian penulis mengaitkan teori yang ada tersebut dengan realita yang ada di masyarakat Desa ringintelu.

BAB 4. PEMBAHASAN

4.1 Kehidupan Masyarakat Desa Ringintelu

            Di dalam masyarakat Desa Ringintelu memiliki kehidupan masyarakat yang cukup menarik. Dimana ikatan sosial antara tetangga dapat dikatakan masih erat terjaga. Hal itu juga tidak dilepaskan karena tradisi masyarakat disana yang terus dilestarikan. Seperti halnya Arisan dan Yasinan yang digelar di rumah-rumah warga secara bergiliran yang digelar setiap hari kamis juga dapat memberikan ikatan sosial masyarakat. Selain itu juga ketika ada salah satu warga yang memiliki hajatan (duwe gawe: dalam istilah jawa) para tetangga selalu membantu. Suasana saling membantu itulah yang memberikan efek pada keerataanya hubungan sosial. Dalam aspek kesehatan juga demikian, ketika ada salah satu dari anggota masyarakat yang sakit. Otomatis anggota masyarakat yang lain akan menjenguk dan memberi dukungan agar cepat sembuh. Dalam melakukan pengobatan bagi mereka yang sakit kebanyakan dilakukan oleh mantri desa yang sudah terpercaya dalam menyembuhkan orang sakit.

Masyarakat yang ada di Desa Ringintelu saat ini memiliki pekerjaan yang beraneka ragam. Namun yang dominan adalah mereka bekerja sebagai petani. Memang daerah yang ada di Desa Ringintelu sangat subur sehingga cocok untuk pertanian. Pada umumnya warga yang ada di Desa Ringintelu memiliki tanah pekarangan yang ada di belakang rumah. Tanah pekarangan itu biasanya ditanami singkong, jagung, ubi dan lain-lain. Ketika tanaman yang ditanam di tanah pekarangan tersebut telah dipanen. Tak lupa mereka saling berbagi dengan tetangga yang tinggal disekitarnya. Hal itu juga dapat memberikan nilai tambah bagi keeratan ikatan sosial. Begitu pula ketika ada salah satu dari tetangga ada yang sakit. Mereka pasti langsung menjenguk. Hal ini seperti dalam teorinya Emile Durkheim tentang kesadaran kolektif. Bahwa masyarakat bergerak atas dasar kesadaran kolektifnya. Jadi mereka dapat bergerak karena mereka memiliki rasa kebersamaan yang tinggi yang diikuti oleh ikatan emosional yang kuat. Rasa altruistiknya terlihat lebih menonjol dibandingkan dengan dengan aspek egoistiknya.

4.2 Perilaku Masyarakat dalam Aspek Kesehatan

            Kebanyakan masyarakat yang ada di Desa Ringintelu masih kurang memahami .apa itu kesehatan. Hal tersebut juga dapat dikaitkan dengan kondisi pendidikan yang masih rendah. Terutama bagi masyarakat yang memiliki usia lanjut. Meski demikian, untuk orang tua biasanya mereka nginang untuk merawat gigi mereka. Ternyata nginang tersebut dapat membuat gigi mereka kuat dan tidak mudah sakit gigi.

Bagi orang-orang disana, kebiasaan untuk jalan ditanah tanpa menggunakan alas kaki sudah banyak dilakukan. Meski diluar kesadaran mereka, namun sebenarnya pola-pola perilaku seperti itu dapat menyehatkan tubuh mereka. Untuk menjaga kesehatan mereka agar tetap bugar, disana ada seorang penjual jamu yang cukup terkenal yang  jualan jamu keliling desa dengan menggunakan sepeda motor. Jamu tersebut dibeli oleh masyarakat agar mereka menjadi sehat dan tetap bugar dalam aktivitas mereka sehari-hari. Meski kini banyak suplemen-suplemen dijual dalam bentuk kemasan yang modern di toko-toko. Akan tetapi konsumsi masyarakat Desa Ringintelu atas jamu-jamu tradisional seperti beras kencur masih banyak dilakukan. Bahkan anak-anak kecil tampak menyukai jamu-jamu tradisional tersebut.

4.3 Sakit Dan Penyembuhannya

Masyarakat yang ada di Desa Ringintelu memiliki kebiasaan yang cukup menarik ketika salah satu individu dalam masyarakat tersebut mengalami sakit. Karena setiap ada anggota keluarga sedang sakit, yang ada dipikiran mereka adalah Bapak Bagio. Beliau adalah seorang mantri yang sangat terkenal di daerah Desa Ringintelu. Banyak masyarakat yang ada di Desa Ringintelu cocok (jodo: dalam istilah jawa) dengan obat dan suntik yang diberikan. Jika masyarakat yang sakit, kebanyakan dari mereka tidak dibawa ke puskesmas. Namun ke Bapak Bagio tersebut. Tampaknya untuk pergi ke dukun ketika ada anggota keluarga yang sakit sudah jarang dilakukan. Masyarakat yang ada di Desa Ringintelu lebih menyukai pengobatan yang diberikan secara ilmiah. Namun tidak selamanya pengobatan dengan cara tradisional maupun spiritual tidak ada sama sekali. Masih ada juga beberapa warga yang pergi ke orang pinter ketika ada salah satu dari anggota keluarga mereka yang sakit. Ada juga anak kecil yang dibawa ke Pak Kyai ketika seringkali mengalami sakit-sakitan. Biasanya anak yang mengalami sakit-sakitan tersebut diganti namanya agar mereka tidak sakit-sakitan lagi. Menurut mitos yang berkembang di masyarakat Desa Ringintelu. Seorang anak yang mudah sekali mengalami sakit dikarenakan dia tidak kuat dengan nama yang dipakainya. Jadi anak tersebut harus diganti namanya supaya tidak mudah sakit lagi. Dan yang memberikan nama ini biasanya adalah Kyai tersebut.

Seperti yang ada dalam teorinya August Comte bahwa masyarakat berkembang atas dasar hukum tiga tingkatan. Yaitu teologis, metafisik, dan positivis. Tampaknya meski masyarakat Desa Ringintelu bisa dikatakan telah masuk ke ranah positivis. Mereka juga masih berada dalam tataran teologis. Karena mereka masih percaya juga dengan hal-hal yang bersifat magis ataupun gaib. Usaha-usaha yang dilakukan oleh masyarakat dalam penyembuhan orang sakit memang dominan untuk dibati secara ilmiah. Namun tidak melepas kemungkinan bahwa mereka juga masih mempercayai dengan hal-hal yang bersifat magis. Karena ada juga masyarakat yang menyatakan bahwa seseorang menjadi sakit karena ada seseorang yang membuatnya sakit. Artinya sakit itu timbul karena ada seseorang yang mengirimkan penyakit lewat seorang dukun. Bisanya orang-orang yang mengalami hal itu adalah orang-orang yang memiliki musuh.

Dalam melakukan suatu penyembuhan seseorang dari sakit, dibutuhkan sebuah dukungan yang berupa moral maupun material dari pihak sosial. Karena bagaimanapun juga selain adanya obat-obatan, dukungan sosial yang berupa motivasi juga perlu sekali untuk diberikan. Karena hal itu dapat memberikan semangat dari pihak yang sakit untuk segera sembuh. Begitu pula yang dilakukan pada masyarakat yang ada di Desa Ringintelu, ketika ada tetangga yang sedang sakit. Mereka berbondong-bondong untuk datang menjenguk dan memberikan semangat maupun motivasi agar pihak yang sakit dapat segera sembuh dari sakitnya. Ketika mereka berkumpul, solidaritasnya berubah menjadi erat. Sambil menjenguk tetangga yang sedang sakit, mereka dapat saling bercakap-cakap antar satu dengan yang lain.

Hal unik lain yang dilakukan oleh masyarakat yang ada di Desa Ringintelu ketika ada salah satu dari tetangga yang sakit adalah dengan cara mendoakan yang sakit tersebut melalui air yang sudah di doakan. Hal itu dilakukan ketika ada acara yasinan rutin hari kamis malam jumat di rumah-rumah warga. Pertama-tama air ditaruh di dalam gelas. Kemudian oleh kyai dibacakan doa-doa dan diikuti oleh para jamaah yasinan yang lain. Lalu Pak Kyai meniup air yang ada di dalam gelas sambil ditiup, kemudian juga diikuti oleh para jamaah yasinan. Setelah air tersebut selesai ditiup dan di doakan. Lalu air tersebut diberikan kepada pihak yang sakit untuk diminum. Begitulah cara yang dilakukan oleh masyarkat yang ada di Desa Ringintelu.

4.4 Peran Sosial dalam Penyembuhan Orang Sakit

Seperti yang ada dalam Teori struktural fungsional bahwa di dalam masyarakat itu memiliki struktur dan fungsi-fungsi. Begitu pula di dalam keluarga, begitu ada salah satu dari anggota keluarga ada yang sakit. Otomatis seluruh anggota keluarga juga merasakannya. Disinilah peran sosial tersebut lahir. Ketika ada salah seorang anggota keluarga ada yang sedang sakit. Pihak dari yang sosial pasti akan mengusahakan bagaimana pihak yang sedang sakit ini segera sembuh dan dapat melaksanakan kewajibannya. Peran sosial dalam pnyembuhan orang sakit tidak hanya terwujud dalam bantuan yang bersifat material, akan tetapi bantuan-bantuan yang berupa dukungan moral maupun motivasi juga sangat diperlukan. Karena hal tersebut dapat memberikan semangat bagi pihak yang sakit untuk segera sembuh.

Di dalam keluarga tentu ada berbagai macam peran yang ada. Begitu pula di dalam masyarakat, ada tokoh masyarakat, ada warga, ada kyai, ustad dan sebagainya. Peran-peran mereka di dalam masyarakat sangat dibutuhkan. Jika ada dari salah satu dari mereka ada yang sakit otomatis jalannya sistem yang ada dalam masyarakat tersebut akan terganggu. Misalnya saja ketika ada seorang Kyai yang setiap harinya menjadi imam shalat. Disuatu saat dia sedang sakit, otomatis hal itu akan mengganggu ada yang telah biasa dilakukan oleh masyarakat yang ada disana. Karena mereka telah terbiasa untuk shalat berjamaah dengan Bpak Kyai tadi. Akhirnya Bapak Kyai tersebut harus mencari pengganti Bapak Kyai dalam memimpin shalat berjamaah. Aspek sosial memang memiliki pengaruh yang cukup kuat dalam penyembuhan orang yang sedang sakit. Orang yang sedang sakit biasanya memiliki pemikiran yang putus asa. Oleh karena itulah dukungan sosial sangat diperlukan. Masyarakat yang ada di Desa Ringintelu memiliki solidaritas yang kuat antar sesama. Ketika ada salah satu dari mereka sakit. Mereka biasanya berkumpul untuk menjenguk. Dalam proses penyembuhan orang sakit yang dilakukan kebanyakan dilakukan oleh mantri desa. Orang  yang sedang sakit tidak perlu datang ke tempat mantri tersebut untuk berobat. Keluarga dari yang sedang sakit cukup menghubungi bapak matri lewat telepon. Kemudian mantri desa tersebut pun datang. Seperti yang dijelaskan diatas, jika memang sakit yang diderita oleh pasien tersebut parah dan butuh perwatan dari rumah sakit, maka pasien tersebut direkomendasikan untuk diobati di rumah sakit. Ketika mereka dirawat di rumah sakit. Otomatis jarak tempuh bagi tetangga untuk menjenguk yang sedang sakit cukup jauh. Namun demikian hal tersebut tidak menjadi persoalan bagi masyarakat yang ingin menjenguk tetangganya yang sedang sakit. Biasanya anggota dari masyarakat tersebut berkumpul kemudian berangkat bersama-sama kerumah sakit untuk menjenguk tetangga mereka yang sakit.

BAB 5. KESIMPULAN

Masyarakat yang ada di Desa Ringintelu dapat dikatakan memang masih memiliki solidaritas yang kuat antar sesamanya. Karena ketika ada dari anggota masyarakat yang sedang mengalami sakit. Mereka secara otomatis akan menjenguk dan memberikan dukungan untuk sembuh. Dalam pola perilaku masyarakat terhadap kesehatan, terutama dalam aspek penyembuhan anggota keluarga atau masyarakat yang sedang sakit. Mereka cenderung untuk memanggil mantri desa yang sudah dipercaya dalam menyembuhkan orang sakit. Banyak dari anggota masyarakat yang sembuh karena berobat kepada mantri tersebut. Jika memang sakit yang di derita ternyata parah, mereka membawa orang yang sakit tersebut ke rumah sakit.

Dukungan sosial yang kuat selalu diberikan oleh anggota masyarakat yang sehat kepada anggota masyarakat yang sakit. Hal ini dimaksudkan agar orang yang sakit merasa dirinya tidak sendirian dan putus asa. Selain itu, dukungan dengan cara berdoa bersama saat yasinan dengan menggunakan air yang sudah diberikan doa juga dilakukan untuk penyembuhan orang yang sedang sakit. Karena disamping dengan pengobatan yang dilakukan secara ilmiah oleh mantri maupun dokter dalam menyembuhkan orang sakit. Pemberian doa-doa juga perlu dilakukan agar orang yang sakit tersebut dapat segera lekas sembuh dan bisa beraktifitas kembali seperti biasanya. Begitulah pola perilaku yang dilakukan oleh masyarakat yang ada di Desa Ringintelu Kecamatan Bangorejo Kabupaten Bnayuwangi dalam penyembuhan anggota masyarakat yang sedang sakit.

DAFTAR PUSTAKA

Ritzer, George & Douglas J. Goodman. 2010. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana.

Hamilton, Peter (editor). 1990. Talcott Parsons dan Pemikirannya. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.

http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya yang diakses tanggal 28/11/2012


[1] Dikutip dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya yang diakses tanggal 28/11/2012

[2] George Ritzer dan Douglas J. Goodman dalam Teori Sosiologi Modern, 2010: 17-18

[3] Peter Hamilton dalam Talcott Parsons dan Pemikirannya, 1990: 160

Categories: Perencanaan dan Kebijakan Sosial | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: