Keterkaitan Antara Sistem Sosial dengan Sistem Budaya yang Ada Di Daerah Kabupaten Banyuwangi

Keterkaitan Antara Sistem Sosial dengan Sistem Budaya yang Ada Di Daerah Kabupaten Banyuwangi

Oleh Tri Mahendra

tri mahendra

Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan yang sangat luas dengan berbagai corak penduduk yang beraneka ragam. Dengan adanya berbagai macam corak keanekaragaman yang ada, Indonesia menjadi negara yang kaya akan budaya, diantaranya antara lain adalah adanya berbagai macam suku, agama, adat istiadat, budaya, bahasa dan lain-lain. Namun hebatnya, dengan berbagai perbedaan-perbedaan yang ada ternyata tidak membuat Indonesia mengalami disintegrasi. Akan tetapi perbedaan-perbedaan itu membuat Indonesia tetap terintegrasi secara solid. Perbedaan-perbedaan itu semua menjadi kekayaan yang unik tersendiri bagi bangsa Indonesia. Dengan adanya demikian, menjadi sangat menarik untuk dikaji dan dianalisis mengenai sistem sosial dan sistem budaya yang ada di Indonesia. Serta bagaimanakah kaitan antara sistem sosial dan sistem budaya yang ada di Indonesia tersebut.

Jika kita melihat wilayah Indonesia yang begitu luas, tentu ini akan membuat kita terkagum. Bagaimana tidak, wilayah Indonesia yang terbentang begitu luas yang dimulai dari Sabang sampai Merauke memiliki berbagai keunikan-keunikan yang tidak dimiliki oleh negara-negara lain. Mulai dari wilayah maritim yang terdiri dari hamparan laut yang luas, daratan yang subur yang sangat cocok untuk lahan pertanian, pulau-pulau yang indah yang terbentang luas dan berbagai keunikan lainnya.

Coba kita lihat aspek sosial budaya yang ada di Indonesia. Kita akan dikenalkan dengan berbagai keunikan budaya dari berbagai daerah yang ada di Indonesia. Misalnya saja yang terdapat di kabupaten Banyuwangi[1]. Di kabupaten Banyuwangi terdapat sistem sosial yang unik, sistem sosial itu merupakan sistem yang digunakan untuk mengatur perilaku-perilaku individu yang ada. Diantaranya adalah nilai-nilai sosial yang ada di sana. Di daerah Banyuwangi, tepatnya di Kecamatan Bangorejo Desa Ringintelu. Disana ada sistem sosial unik yang digunakan untuk mengendalikan perilaku individu. Sistem sosial disana mengajarkan kepada individu untuk memiliki kesadaran kolektif dalam hal apapun serta dalam kegiatan-kegiatan sosial apapun, misalnya kerja bakti mebersihkan jalan, selokan, maupun memperbaiki mushola. Disana setiap individu ditumbuhkan kesadaran kolektif untuk ikut aktif dalam kegiatan- kegiatan sosial[2]. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga integrasi warga agar tetap menjalin kehidupan kebersamaan. Orang tua anak kecil yang ada disana memiliki peran yang besar dalam membentuk kepribadian anak. Setiap anak memperoleh pendidikan sosial dari orang tuanya agar anaknya bisa hidup beradaptasi dengan lingkungan sosialnya.

Dalam kegiatan seperti kerja bakti bersih-bersih jalan maupun selokan. Setiap orang yang ada disana tidak perlu dipaksa untuk mengikuti kegiatan itu. Akan tetapi mereka memiliki kesadaran akan hal demikian. Sistem sosial yang tercipta secara abstrak itu telah merasuki pikiran warga yang ada disana. Mereka dengan otomatis bergerak mengikuti alur yang sifatnya eksternal diluar individu-individu yang ada. Ketika ada kegiatan-kegiatan yang sifatnya sosial, mereka tidak perlu disuruh untuk ikut serta dalam kegiatan itu. akan tetapi sistem sosial telah menggerakkan mereka dalam kesadaran kolektif.

Akan tetapi, apakah kesadaran kolektif yang ada itu benar-benar berasal dari individu-individu yang berada di dalam masyarakat. Ternyata sistem sosial yang ada di Desa Ringintelu adalah adanya semacam sanksi sosial yang akan menghukum setiap individu yang tidak mau mengikuti aturan nilai dan kebiasaan  yang ada. Setiap individu yang tidak mau mengikuti kegiatan-kegiatan seperti kerjabakti. Mereka dibiarkan oleh masyarakat yang ada disana, individu itu akan dengan otomatis memperoleh sanksi sosial dari masyarakat. Sanksi sosial itu berupa sikap pengucilan masyarakat terhadap individu yang membangkang seperti demikian. Pengucilan itulah yang akhirnya membuat individu merasa malu yang akhirnya membuat dia tidak mau meninggalkan kegiatan-kegiatan sosial masyarakat. Hal ini sudah cukup jelas bahwa individu disana dibentuk oleh kondisi sosial masyarakat.

Di daerah Banyuwangi ada budaya yang menarik. Mungkin budaya ini juga merupakan budaya yang sudah banyak dimiliki oleh daerah-daerah lain di luar Banyuwangi. Budaya ini adalah budaya mbecek[3]. Budaya mbecek ini adalah istilah yang dipakai oleh orang-orang Banyuwangi, khususnya bagi warga Banyuwangi yang berada di wilayah bagian selatan. Mbecek merupakan sebuah sebutan bagi warga Banyuwangi yang ingin menghadiri acara hajatan saudaranya. Misalnya adalah hajatan khitanan, pernikahan dan lain-lain. Budaya ini sudah sangat dikenal oleh masyarakat yang ada di Banyuwangi.

Jika itu dilihat dari sistem sosial yang ada. Di setiap daerah-daerah yang ada di Kabupaten Banyuwangi, memang hal itu telah dilakukan turun-temurun. Ada kemungkinan mereka melakukan itu seperti memang ada kesepakatan antar orang-perorang atau individu-individu untuk melakukan hal demikian. Hal itu bisa dikatakan sebagai sebuah wujud solidaritas sosial antar individu-individu yang ada di dalam masyarakat dalam membentuk sistem sosial. Sistem sosial-sistem sosial yang ada antar daerah-daerah yang ada itu pada akhirnya membentuk suatu rangkaian-rangkaian sistem sosial yang akhirnya membentuk sistem budaya yang ada di daerah Banyuwangi.

Sistem budaya mbecek yang ada di daerah Banyuwangi ini memang sudah merasuk dalam pemikiran masyarakat yang ada di Banyuwangi. Sehingga ini menjadi budaya yang unik tersendiri bagi warga Banyuwangi. Untuk bisa mengamati budaya mbecek  yang ada di Banyuwangi ini. Kita bisa mengamati perilaku-perilaku masyarakat yang ada di Banyuwangi, misalnya saja ketika ada acara hajatan warga. Seseorang yang memiliki hajatan biasanya memberikan undangan kepada sanak saudara maupun tetangga untuk menghadiri acara hajatannya. Biasanya istilah yang digunakan untuk undangan ini adalah nonjok[4]. Nonjok ini merupakan undangan yang biasanya berupa kotak nasi. Seseorang yang mendapat undangan ini pada nantinya akan menghadiri acara hajatan orang yang mengundang. Dan uniknya, ini merupakan budaya orang yang ada di Banyuwangi yaitu orang yang datang dalam acara hajatan itu membawa amplop yang berisi uang untuk diberikan kepada keluarga yang sedang melakukan hajatan itu. Padahal, orang yang mengundang itu tidak meminta untuk disumbang. Namun hal ini selalu dilakukan oleh masyarakat. Dan pada giliranya nanti, orang yang saat ini memberi amplop berisi uang saat ini juga akan memeroleh hal yang sama ketika dia hajatan. Dan hal ini terus turun-temurun menjadi budaya bagi masyarakat Banyuwangi.

Selain adanya budaya nonjok dan mbecek tersebut. Di daerah Banyuwangi juga ada budaya unik lainnya. Yaitu adanya budaya rewang[5]. Budaya rewang ini merupakan kegiatan yang masih berkaitan dengan acara hajatan warga yang ada di Banyuwangi. Rewang ini merupakan kegiatan membantu tetangga atau sanak keluarga yang sedang melakukan hajatan. Mereka yang datang untuk membantu ini tanpa disuruh oleh orang yang sedang hajatan. Artinya, mereka datang atas dasar sukarela. Inilah yang mungkin bisa dikatakan sebagai kesadaran kolektif yang ada di dalam masyarakat. Mereka datang dan digerakkan atas dasar kesadaran kolektif yang berada diluar dirinya untuk ikut berpartisipasi dalam acara hajatan. Mereka lebih memperhatikan solidaritas sosial dari pada kepentingan pribadi.

Jika kita renungkan, ternyata di Indonesia itu memiliki berbagai macam budaya yang unik dan beraneka ragam. Dalam tulisan ini tadi telah diberikan salah satu contoh mengenai budaya yang ada di daerah Banyuwangi. Sebenarnya masih ada contoh budaya lain yang ada di Banyuwangi, yaitu budaya ater-ater[6]. Ater-ater merupakan kegiatan yang dilakukan oleh seseorang yang sedang hajatan, syukuran maupun selamatan dengan cara memberi makanan kepada tetangga-tetangga ataupun sanak saudara. Budaya ater-ater ini merupakan budaya yang ada di Banyuwangi, khususnya di daerah Banyuwangi yang ada di wilayah pedesaan di bagian Banyuwangi selatan. Mengapa ater-ater dalam hal ini dikatakan oleh penulis sebagai sebuah budaya. Karena ater-ater ini merupakan suatu kegiatan yang sering dilakukan oleh warga di daerah Banyuwangi bagian selatan dan sudah menjadi bagian dari kegitan rutin warga yang sedang melakukan hajatan.

Kegiatan seperti ater-ater ini merupakan kegiatan yang cukup menarik. Karena orang yang memberi makanan pada tetangga atau sanak keluarga yang pada nantinya juga akan mendapat pemberian dari tetangga yang pada saat ini diberi makanan. Uniknya adalah kegiatan ini terjadi secara otomatis tanpa adanya perintah dari pihak-pihak tertentu. Kegiatan ini berjalan secara alami di dalam masyarakat. Artinya kegiatan seperti ini sudah merasuk dalam pemikiran warga yang ada di daerah Banyuwangi selatan.

Setelah melihat beberapa budaya yang ada tersebut. Memang ada kaitannya antara budaya yang ada di dalam masyarakat dengan sistem sosial yang dibangun di dalam masyarakat. Sebuah budaya yang ada di dalam masyarakat di daerah Banyuwangi yang khususnya di daerah Banyuwangi selatan dapat dilihat melalui aktivitas-aktivitas atau kegiatan-kegiatan sosial yang ada. Kegiatan-kegiatan sosial itu ternyata membentuk sebuah sistem sosial yang menggerakkan individu-individu yang ada di dalam masyarakat. Ketika individu-individu yang berada dalam lingkup sosial itu membentuk sistem sosial yang berdasar pada nilai atau norma di dalam masyarakat. Maka individu yang berada di dalam sistem sosial itu menjadi cerminan bagi lingkup sosial masyarakat tersebut. Pada nantinya individu menjadi produk sosial yang ada di dalam masyarakat itu.

Dalam kaitannya dengan sistem budaya yang ada. Pada akhirnya ketika sistem sosial yang ada di dalam masyarakat membentuk sebuah sistem budaya. Sistem budaya yang ada itu bersifat abstrak dan mempengaruhi pola pikir individu-individu di dalamnya. Jika budaya orang Banyuwangi dikatakan memiliki sikap ramah terhadap orang lain. Hal itu karena memang lingkungan sosial yang membentuk individu-individu di dalam lingkungan sosial masyarakat Banyuwangi mengajarkan sikap ramah terhadap orang lain. Jika orang jawa memiliki sikap ramah terhadap orang lain, itu karena memang sistem sosial orang jawa yang mengajarkan kepada individu-individu suku jawa untuk bersikap ramah kepada orang lain. Dari berbagai sistem sosial orang Banyuwangi maupun orang jawa yang mengajarkan kepada setiap individu untuk bersikap ramah kepada orang lain. Maka sistem sosial itu akan menjadi sebuah budaya bahwa orang Banyuwangi maupun orang  jawa, yaitu dengan memiliki budaya bersikap ramah terhadap orang lain.

Jika dianalisis lebih dalam dari berbagai contoh yang ada diatas. Memang ternyata ada kaitannya antara sistem sosial yang membentuk individu dengan sistem budaya yang ada. Bisa disimpulkan bahwa untuk mempertahankan sistem budaya yang ada di lingkungan masyarakat tertentu, misalnya saja di dalam sistem budaya masyarakat Banyuwangi. Maka sistem sosial yang ada di dalam masyarakat itu haruslah masih berkorelasi dengan sistem budaya yang ada. Dapat dikatakan bahwa sistem budaya merupakan lingkup yang lebih luas dibandingkan dengan sistem sosial. Sistem budaya merupakan wadah bagi sistem sosial, dan sistem sosial merupakan konkritisasi dari sistem budaya, yang mana dia memiliki fungsi untuk membentuk karakter individu-individu agar memiliki sikap yang bisa mencerminkan budaya yang dianut di dalam masyarakat itu.

Indonesia merupakan negara yang memiliki budaya ramah. Dapat disimpulkan bahwa sikap ramah itu dapat tercipta karena sistem sosial yang ada di dalam masyarakat Indonesia mengajarkan kepada individu-individu untuk bersikap ramah. Sebagai warga Indonesia, kita patut bangga dengan budaya yang ada di Indonesia. Wilayah Indonesia memiliki budaya yang beraneka ragam, akan tetapi Indonesia masih tetap mampu terintegrasi dengan baik. Dapat dikatakan bahwa Indonesia merupakan negara yang hebat, karena Indonesia memiliki solidaritas yang sangat kuat meskipun memiliki berbagai perbedaan yang ada.


[1] Penulis menggunakan daerah Banyuwangi sebagai contoh adanya keterkaitan antara sistem sosial dan sistem budaya masyarakat.

[2] Kesadaran kolektif merupakan kesadaran yang tumbuh atas dasar kebersamaan, biasanya kesadaran kolektif ini banyak dimiliki oleh masyarakat desa.

[3] Penulis mengartikan Mbecek sebagai kegiatan menghadiri undangan tetangga atau sanak saudara yang sedang hajatan.

[4] Nonjok juga merupakan budaya orang Banyuwangi. Dalam bahasa Indonesia, istilah nonjok ini bisa dikatakan sebagai undangan dalam acara hajatan.

[5] Budaya rewang merupakan budaya untuk membantu tetangga yang sedang melakukan hajatan dengan sukarela.

[6] Ater- ater merupakan kegiatan yang dilakukan oleh orang yang sedang hajatan dengan memberikan makanan kepada sanak atau tetangga.

Categories: Sistem Sosial Budaya Indonesia | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: